Kelas Trubus kembali menghadirkan diskusi strategis melalui Webinar Teropong Agribisnis 2026 pada Jumat, 05 Desember 2025 pukul 14.00 WIB. Acara ini merupakan rangkaian acara memperingati ulang tahun Trubus ke 56. Webinar ini berlangsung melalui Zoom dan disiarkan langsung melalui YouTube TrubusChannel juga menghadirkan tiga narasumber dari lintas sektor: teknologi, komoditas, dan ekonomi hijau.
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan dialog bagi pelaku agribisnis, akademisi, dan generasi muda untuk melihat arah baru pembangunan pertanian Indonesia yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.
Pembicara pertama, Prof. Dr. Yeni Herdiyeni, Ketua Program Studi Kecerdasan Buatan IPB University, memaparkan bagaimana integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) menjadi elemen penting dalam modernisasi pertanian Indonesia. Menurutnya, teknologi digital mampu memberikan solusi konkret atas krisis lahan dan penurunan tenaga kerja yang tengah dihadapi sektor pertanian. “Teknologi IoT dan AI memberikan dampak langsung pada transformasi digital di sektor pertanian dan menjadi kunci untuk mengatasi krisis lahan serta penurunan tenaga kerja,” ujarnya. Ia juga menyoroti kondisi terkini sektor pangan dengan mengingatkan bahwa data BPS 2024 menunjukkan penurunan produksi padi nasional akibat pengaruh iklim seperti El Nino. Hal ini, katanya, harus menjadi alarm bersama untuk menyusun strategi pertanian yang lebih adaptif ke depan.
Pembicara berikutnya adalah Prof. Dr. Setiawan, S.P., M.Si., Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Ia membahas peluang komoditas bernilai tinggi dan pentingnya modernisasi dalam meningkatkan daya saing produk pertanian. “Konsep specialty tidak bisa hanya berbicara dalam konteks lokal. Ia harus disentuh dengan teknologi modern, termasuk teknologi cerdas dan AI,” ungkapnya.
Prof. Setiawan menegaskan bahwa pertanian memiliki prospek luar biasa, bukan hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga energi berkelanjutan, bahan industri, farmasi, pakan, kosmetik, fiber, dan penopang ketahanan negara. Meskipun BPS 2025 belum merilis data, ia mengungkap bahwa terdapat indikasi peningkatan permintaan pangan multifungsi, khususnya healthy food pada tahun 2026.
Sesi selanjutnya diisi oleh Dr. Nurtjahjawilasa, S.Hut., M.A., M.AP., Widyaiswara Ahli Madya Pusdiklat SDM Kementerian Kehutanan. Ia mengajak peserta memahami potensi besar ekonomi hijau dengan membahas pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi serta peluang cuan dari perdagangan karbon. Transformasi limbah pertanian menjadi sumber pendapatan baru dinilai sangat relevan, apalagi seiring meningkatnya kesadaran global terhadap keberlanjutan dan jejak karbon. “Zaman sekarang perusahaan itu penting sekali untuk memberikan pertumbuhan berkelanjutan” Ucapnya.
Webinar ini diharapkan menjadi sarana edukasi dan diskusi produktif bagi seluruh pemangku kepentingan pertanian modern. Dengan terbukanya peluang teknologi digital, pasar ekspor bernilai tinggi, serta ekonomi hijau, generasi muda dan pelaku agribisnis dapat memanfaatkan momentum untuk menciptakan pertanian yang lebih kompetitif.
Melalui perpaduan inovasi, peningkatan kualitas komoditas, dan pendekatan keberlanjutan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain kuat dalam lanskap agribisnis global.
(Dira Kaimel)
