
Bukan suara kokok ayam sebagai penanda pagi di Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Suara riuh yaki dari atas pohon menyambut datangnya mentari di kawasan seluas 615 hektare itu. Waktu menunjukkan pukul 05.45 saat sekelompok monyet khas Sulawesi itu turun dari pohon rao Dracontomelon dao. Tumbuhan setinggi 25 m itu langganan tempat tidur monyet hitam sulawesi.

“Sejatinya pohon tidur sama dengan pohon sumber pakan,” kata Manajer Riset Macaca Nigra Project (MNP), Dwi Yandhi Febriyanti. Artinya yaki Macaca nigra memilih pohon tidur yang tengah berbuah. Yandhi mengatakan jadwal turun pohon yaki—sebutan lokal monyet hitam sulawesi—tergantung lebat tidaknya buah. Jika pohon tidur berbuah lebat primata diurnal itu turun pohon sekitar pukul 07.00.
Sebaliknya ketika buah sedikit, maka yaki meninggalkan pohon tidur pada pukul 05.30. Pada awal April 2016 itu tumbuhan di TWA Batuputih belum banyak berbuah. Oleh karena itu yaki lebih awal turun pohon untuk mencari pakan dan beraktivitas lain seperti bermain dan bersosialisasi. Menurut pemandu di TWA Batuputih, Irawan Halir, hujan bisa menyebabkan jadwal turun pohon yaki terhambat.
Itu sejalan dengan hasil riset Safinah Surya Hakim dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menyatakan curah hujan mempengaruhi pergerakan harian yaki. Saat hujan primata yang sangat terancam punah di Pulau Sulawesi itu lebih banyak berada di atas pohon dalam waktu lama. Saat tidak hujan yaki banyak menghabiskan waktunya di tanah dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan makanan.

Selain tengah berbuah, kriteria lain pohon tidur pilihan satwa berambut hitam itu yakni berdiameter besar. Musababnya, ”Satu kelompok yaki bisa berjumlah 80—100 individu sehingga mereka memerlukan pohon besar agar anggota kelompok mendapat tempat tidur,” kata Yandhi. Jika pohon tidur pilihan tidak sanggup menampung semua anggota, maka yaki lainnya mencari pohon tidur lain yang saling berdekatan.
Hasil peneliitan Dones Rinaldi dan Maria Ulfah dari Institut Pertanian Bogor mengungkapkan yaki juga memilih pohon berketinggian sekitar 30 m dan percabangan lebar sebagai tempat tidur. Selain tempat beristirahat, pohon tidur juga berfungsi sebagai tempat berlindung dari predator dan cuaca. Iwan—panggilan akrab Irawan Halir—mengatakan predator yaki yaitu piton.

“Yaki menjaga jarak dan mengeluarkan suara tertentu untuk memperingatkan kehadiran piton kepada kelompoknya,” kata Iwan. Ancaman terbesar celebes crested macaque adalah manusia. Apalagi masyarakat Sulawesi Utara terbiasa mengonsumsi aneka daging termasuk monyet. Yaki tidak hanya mengandalkan rao sebagai pohon tidur dan sumber pakan.
Jika tanaman anggota famili Anacardiaceae tidak berbuah, sulawesi crested black macaque mengonsumsi buah ara Ficus sp. Yaki memilih ara matang yang bercitarasa tawar. Buah bugis hutan Koordersiodendron pinnatum pilihan lain menu harian yaki. Buah bugis hutan berbentuk lonjong dan berwarna kuning serta bercitarasa sepat. Kelapa Cocos nucifera juga penganan yaki.

Macaca negra—sebutan monyet hitam sulawesi dalam Bahasa Spanyol—membuka kelapa menggunakan taring dan tangan lalu meminum airnya. Sebetulnya yaki tidak bakal kehabisan sumber pakan asal hutan tempat mereka hidup tetap lestari. Berdasarkan penelitian periset senior dari Wildlife Conservation Society, Margaret F Kinnaird dan Timothy G O’Brien pada 1997, yaki mengonsumsi 145 jenis buah-buahan.
Banyaknya jenis buah-buahan itu menunjukkan, yaki termasuk satwa frugivora. Artinya monyet itu menjadikan buah-buahan sebagai pakan utama. Kinnaird dan O’brien menyebutkan proporsi buah-buahan mencapai 66%, tumbuhan hijau 2,5%, dan invertebrata 31,5%. Buah mengkudu Morinda citrifolia baik berasal dari pohon berdaun besar dan berdaun kecil pun salah satu pakan kesukaan yaki.
Trubus mendapati monyet kerabat dihe Macaca nigrescens itu tengah asyik menyantap buah mengkudu atau pace mengkal. “Mengkudu termasuk pakan favorit yaki,” kata Yandhi. Hubungan antara yaki dengan pohon dalam hutan sangat erat. Penelitian Safinah pada 2010 menegaskan tumbuhan pada tingkat pohon berperan vital dalam menjamin ketersediaan pakan yaki. Tumbuhan tingkat semai juga penyedia pakan.

Selain buah-buahan, yaki juga mengonsumsi hewan invertebrata seperti semut dan laba-laba yang lazim berhabitat di tumbuhan tingkat semai. “Ulat pun hidangan yaki. Tujuan mereka konsumsi serangga untuk memenuhi kebutuhan protein,” ucap Yandhi yang sedang menempuh kuliah magister Jurusan Kehutanan, Universitas Sam Ratulangi, Manado, itu. Tidak hanya yaki yang memperoleh manfaat dari buah dalam hutan.
Sebaliknya populasi tumbuhan yang buahnya dimakan yaki pun bisa jadi semakin bertambah dan tetap lestari. Harap mafhum, “Yaki berperan sangat penting menyebarkan biji tanaman. Jika populasi yaki berkurang, maka populasi pohon buah pun menurun,” kata ahli primata dari Republik Ceko, Stanislav Lhota kepada Trubus. Oleh karena itu menjaga kelestarian hutan sama dengan melanggengkan hidup satwa liar seperti yaki. (Riefza Vebriansyah)
