Wednesday, August 10, 2022

Yang Bermain Sayuran Ekspor

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tujuh orang membersihkan zucchini dengan lap kain dan memasukkannya ke dalam kantong plastik kapasitas 40 kg. Usai dikemas, sayuran itu diangkut ke kediaman Asep Tisna, eksportir di Desa Cigugurgirang. Di sana zuchini dikemas ulang dalam dus 40 cm x 30 cm x 20 cm. Setiap dus berisi 10 kg yang disusun lapis 3 dengan sekat kertas.

Esoknya bersama sayuran-sayuran lain milik Asep Tisna, 2 ton zucchini dari Ir Doyo Mulyo Iskandar itu dikirim ke Singapura melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Pengiriman dibarengkan untuk menekan biaya transportasi dan perizinan. Menurut Doyo—begitu Doyo Mulyo disapa—volume zucchini yang dikirimnya masih belum memenuhi permintaan. Negara jiran yang selama ini dipasoknya meminta keluarga Cucubitaeae 6 ton per pekan. Padahal, Doyo bermitra dengan 12 pekebun di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung.

Seluruh hasil panen pekebun ditampung Doyo. Standar mutunya: cukup tua atau 40 hari setelah tanam, panjang 14—17 cm, diameter 7 cm, dan berbobot 1 kg isi 7 buah. Pekebun zucchini sejak 2002 itu membelinya dengan harga Rp2.000 per kg. Dengan harga itu pekebun masih menikmati laba, sebab biaya produksi untuk menghasilkan 1 kg zucchini sekitar Rp1.300. Doyo menjualnya ke pasar ekspor seharga Rp6.000/kg.

Harga ekspor sebetulnya tidak berbeda jauh dengan pasar okal yang mencapai Rp4.000—Rp6.000/kg. Namun Doyo tetap memilih ekspor sejak 3 tahun silam. Alasannya, “Pasar ekspor terjamin dan harga stabil. Sedangkan pasar lokal harga fluktuatif. Jika pasokan banjir, harga anjlok hingga Rp300/kg,” ujar pria berkumis itu

Meski dijual ke luar negeri alumnus Institut Teknologi Tekstil Bandung itu tidak memperoleh keuntungan besar.  “Laba dari setiap kilogram-nya justru lebih kecil. Tetapi kalau dijumlah memang besar karena volume pengiriman lebih banyak,” tambahnya. Dengan volume ekspor 4 ton per minggu, ayah 3 anak itu meraup laba bersih Rp2,4-juta sepekan.

Jengkol

Asep Tisna sendiri mengekspor paprika. Awalnya, sejak 2000, pekebun di Desa Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung, itu mengekspor paprika ke Taiwan. Sebanyak 16—20 ton paprika per minggu diterbangkan ke sana. Namun, pada 2003 ekspor terhenti tanpa alasan jelas dari buyers. Akhirnya ia coba membidik pasar Singapura. Pada Juli 2004 Asep meneken kontrak ekspor selama 5 tahun. Volumenya rata-rata 2,5—3 ton paprika merah setiap pekan.

Paprika ia peroleh dari kebun sendiri seluas 14 ha. Dengan harga Sin$2,9 setara Rp16.000 per kg, mantan pembalap itu mengantongi omzet Rp40-juta—Rp48- juta per minggu. Menurut ayah 2 anak itu biaya produksi paprika Rp10.000/tanaman. Setiap tanaman menghasikan rata-rata 3,5 kg. Artinya untuk menghasilkan 1 kg paprika sekitar Rp3.000. Dengan harga jual Rp16.000/kg, Asep memperoleh laba Rp13.000/kg, belum dipotong biaya pengemasan dan transportasi.

Bila ia menjual di pasar lokal seharga Rp10.000— Rp12.000/kg, keuntungannya Rp7.000—Rp9.000/kg. Keuntungan bersih hampir sama, hanya saja permintaan pasar lokal sedikit. Setiap pengumpul hanya bersedia menampung 50 kg. “Itu pun tidak rutin, hanya beroperasi kalau harga sedang tinggi,” tutur Billy, sapaan Asep.

Sayuran ekspor tak melulu yang eksklusif seperti zucchini dan paprika. Sayuran lain yang noneksklusif pun diminta pasar dunia. Lihatlah kesibukan di gudang PT Agroindo Usahajaya, hampir tak pernah surut setiap hari. Para pekerja mengemas 2,7—4,6 ton sayuran ekspor—terdiri atas 15 jenis—setiap Selasa petang. Jenisnya antara lain cabai rawit merah, petai, jengkol, dan leunca.

Cabai rawit, misalnya, mencapai 250 kg per pekan atau 1 ton per bulan. Sedangkan petai 1 ton dan jengkol 720 kg. “Importir di Arab Saudi mematok harga sama untuk semua komoditas ekspor yakni US$3,65 (setara Rp34.000, red) per kg”, kata Husin Abdu l l a h , manajer ekspor. Oleh karena itu Husin kadang rugi untuk beberapa komoditas tertentu. Contoh petai kupasan, ia harus menanggung rugi Rp6.000/kg karena harga beli dari petani Rp40.000/ kg. Sedangkan untuk yang lainnya seperti jengkol dan kencur, untung. Jengkol dibeli dari pekebun Rp9.000/kg dan kencur Rp3.000/kg.

“Jadi ada subsidi silang, sehingga secara keseluruhan tetap untung,” ucap Husin. Dari perniagaan yang ditekuni sejak 1990 itu Husin meraup laba bersih Rp50-juta per bulan. Pemesan sayuran itu adalah pasar swalayan dan restoran-restoran yang menyajikan hidangan indonesia.

Selain ke Jeddah, Husin juga mengekspor ke Belanda sejak 1999. Jenis sayuran yang dikirim hampir sama dengan yang ke Jeddah. Antara lain daun salam sebanyak 210 kg/bulan dan daun singkong 80 kg. Harga jual kedua sayuran itu masing-masing US$5,45 setara Rp50.000/kg. Total jenderal volume ekspor ke Belanda 1 ton per bulan, dengan omzet Rp40-juta.

Kendala menghadang

Di Cugenang, Kabupaten Cianjur, Atep Suhendar turut kecipratan laba dari kegiatan ekspor. Sejak 2003 ia memasok sayuran ke PT Sunyasai, eksportir sayuran olahan di Bandung, untuk  tujuan Jepang. Setiap pekan, ia mengirim bayam, kangkung, dan kailan masingmasing 1 ton. Atep tidak mengebunkan sendiri sayuran-sayuran itu, melainkan membelinya dari 2 kelompok petani plasma di sekitar Cugenang, Kabupaten Cianjur yang masing-masing beranggotakan 10—15 orang. Dari setiap petani, ia menampung 50—200 kg sayuran per hari.

Bayam dan kangkung dibeli dengan harga Rp2.500/kg dan kailan Rp3.500. Dengan harga itu, petani masih bisa meraup untung bersih sekitar 40%. Atep menjual bayam dan kangkung Rp3.250—Rp3.500/kg; kailan Rp4.500. Total jenderal, ia menuai laba bersih Rp2,5-juta per pekan.

Sepintas perniagaan sayuran ekspor terlihat lurus bagai jalan tol. Padahal, mengekspor sayuran banyak onak-duri. Sebab, harga komoditas itu di dalam negeri amat fl uktuatif. “Saat musim hujan, lebaran, dan haji, rata-rata harga sayuran naik,” kata Husin. Dampaknya keuntungan mengecil. Kendala lain berupa tingginya biaya pengiriman dari Jakarta ke Jeddah yang mencapai US$1,75 setara Rp16.000/kg. Biaya itu sepenuhnya ditanggung eksportir.

Biaya transportasi ke negeri tetangga bukan berarti murah. Asep Tisna dan  Doyo harus menganggarkan biaya kirim ke Singapura US$0,5/ kg sayuran. Belum lagi biaya transpor dari Bandung ke Jakarta yang mencapai Rp900.000per truk kapasitas 2,5 ton. Padahal dalam sebulan, Asep menggunakan 6—8 truk. Ditambah lagi biaya penyimpanan di dalam refrigerator berpendingin sebelum sayuran dikirim. Masalahnya, pengiriman tidak setiap hari.

Apalagi setelah melambungnya harga BBM pada Oktober 2005. Biaya transportasi terasa sangat menghambat kegiatan ekspor. Buktinya Atep kini berhenti memasok PT Sunyasai lantaran harga yang ditawarkan eksportir itu belum berubah, sedangkan biaya produksi melonjak hingga 20—30%. “Saat ini kami sedang negosiasi harga, diharapkan Maret sudah ada kesepakatan harga baru,” ujar Atep. Meski sarat kendala, para eksportir tak surut merambah pasar mancanegara. Malah mereka berharap bisa meningkatkan volume ekspor. Tentu saja dengan dukungan pemerintah. (Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img