Friday, December 2, 2022

Yang Bertahan di Bunga Ekor

Rekomendasi

Dua tahun berikutnya-setiap kali pameran serupa digelar-mereka tetap memandang penuh hasrat pada anthurium sama. Baru pada tahun ketiga, setelah harga menukik Rp1,25-juta, keduanya berani memboyong kerabat aglaonema itu. Meski harga jatuh, bukan berarti kualitas anjlok. Bagi pencinta anthurium, ia tetap mempesona, kata Anggoro.

Kecintaan Anggoro dan Etje pada anthurium memang luar biasa. Kala pamor tanaman hias daun itu anjlok, keduanya justru getol mengoleksi. Hanya dalam waktu 2 tahun-1995-1997-keduanya sukses mengumpulkan 15 pot indukan Anthurium jenmanii dengan harga murah, Rp1-juta-Rp1,5-juta per pot. Semua indukan yang asli dari Amerika Tengah diburu dari para kolektor, ujar pria pemegang sabuk hitam karate itu. Maklum, ketika itu anthurium hanya dimiliki oleh kolektor dan penangkar tertentu.

Kelakuan Anggoro dan Etje saat itu dianggap tak masuk akal oleh rekan sejawat. Penelusuran Trubus, pada pertengahan 90-an, harga si bunga ekor terjun bebas. Sebelumnya anthurium menjadi tanaman paling dicari. Harganya gelap, tergantung negosiasi kolektor dan pemilik. Namun, pada 1995-1997, dilirik pun tidak. Bisa jual saja sudah untung, kenang Ansori, pemilik Zikita Nurseri yang sempat dikenal sebagai pemasok anthurium eksklusif.

Toh, Anggoro tetap teguh memegang cinta pada anggota famili Araceae itu. Desainer interior itu terus memburu anthurium-anthurium elok dengan harga miring. Pada 2000 ia memperoleh anthurium keris asli Amerika Tengah dengan sosok prima hanya Rp950- ribu. Sepot black anthurium berdaun 4-5 helai dibeli dengan harga Rp500-ribu pada 2003. Setahun kemudian, Anggoro mengeluarkan Rp100- ribu untuk black beauty setinggi 30 cm.

Hidupi hobi

Di tangan Anggoro, kerabat alokasia itu disilangkan dengan sesamanya atau antarjenis. Maklum, bila hanya mengandalkan kemurahan alam-dengan bantuan serangga-anthurium sulit menghasilkan banyak biji. Keturunan yang diperoleh diperbanyak dengan memisahkan anakan. Total jenderal, hingga kini dari 1 indukan diperoleh 1.000 anakan. Dari situlah insting bisnisnya mulai jalan.

Dengan hasil itu Anggoro tak pernah menyesal membeli anthurium. Tengok saja hitung-hitungan ini. Dengan asumsi harga anjlok, hanya Rp30.000 per pot tanaman setinggi 30 cm, ia memperoleh omzet Rp30-juta dari 1.000 anakan. Padahal, banyak anakan lebih besar dilego Rp50- ribu-Rp400-ribu.

Penyilangan dan perbanyakan pun dilakukan pada Anthurium jenmanii. Sejak akhir 90- an Sunda Kelapa Nurseri miliknya melepas 200- 300 pot A jenmanii setiap bulan. Harganya, Rp25- ribu- Rp35-ribu per pot ukuran 30 cm. Pembeli kebanyakan pedagang di seputaran Jakarta. Dari tangan mereka hasil perbanyakan Anggoro menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kini saat tren anthurium melanda tanahair, Anggoro malah kebingungan. Saya betul-betul tak menduga, sejak 2 bulan terakhir permintaan naik 2-3 kali lipat, tutur kelahiran Magelang 56 tahun silam itu. Bunga ekor kesayangan, jadi barang paling diincar di tanahair.

Spesialis variegata

Tak hanya Anggoro yang konsisten menggeluti anthurium. Nun di Bogor, Jawa Barat, ada Sugiono Budhiprawira yang mengoleksi kerabat keladi itu sejak 1984. Ketika itu perancang taman hunian itu membeli wave of love setinggi 1,5 m yang tengah berbuah. Gelombang cinta itu dibeli dengan harga Rp350-ribu. Konon, buah itu hasil silangan dengan anthurium variegata.

Dari buah itu dihasilkan 300 biji. Ketika berkecambah, 29 di antaranya berwarna putih solid. Sayang, harapan memiliki tanaman putih solid kandas. Semuanya mati terbakar sinar matahari, ujar kelahiran Semarang 45 tahun silam itu. Beruntung 5 bulan kemudian dari biji-biji berpucuk hijau muncul 10 anthurium variegata. Itulah harta benda paling berharga yang dimiliki. Maklum peluang mendapatkan variegata hanya 3%.

Sambil dikoleksi, anthurium wave of love variegata diperbanyak. Keberadaan si belang itu terendus kolektor lain. Mereka pun merayu Sugi-begitu ia biasa disapa-untuk melepas anakan wave of love variegata. Namun, karena sayang, pemilik Sugi Nurseri itu setengah hati melepas. Pantas harga anakan setinggi 30 cm itu melonjak. Itulah berkah buat Sugi. Hanya dengan 1 pot, modal terbayar lunas, katanya. Sejak itulah nama Sugiono dikenal sebagai spesialis anthurium variegata.

Terjun ke Banteng

Toh, pria berpenampilan rapi itu tak menutup mata pada jenis lain. Sugiono pun mengoleksi A jenmanii, keris, Anthurium splendidum alias superboom, dan black beauty. Pada 2000, Sugiono memberanikan diri mengikuti pameran Flora dan Fauna di Lapangan Banteng. Selain menjual anthurium, ia menyediakan tanaman hias elemen taman.

Sayang, pada tahun itu tak ada yang melirik anthurium. Dari omzet Rp16- juta, anthurium hanya menyumbangkan Rp1- juta. Pada 2004-di ajang serupa-bunga ekor itu tetap lesu. Ia hanya mampu menjual 10 pot variegata. Total jenderal nilainya Rp17-juta.

Pada September 2004 warga Kota Hujan itu tertarik mengikuti lomba tanaman hias yang digelar di Festival Hortikultura Indonesia di Jakarta. Anthurium wave of love miliknya merebut gelar juara ke-1 kategori variegata. Kemenangan itu seolah mengukuhkan sebutan Sugiono sebagai spesialis variegata.

Tak disangka-sangka, memasuki 2006 anthurium naik daun di tanahair. Sebanyak 14 pot A jenmanii seharga Rp750-ribu per pot koleksinya diborong habis pada Februari 2006. Dua bulan terakhir permintaan anthurium kian menggila. Dari bunga ekor Sugi memperoleh omzet Rp100-juta per bulan.

Sugiono tak tahu pasti penyebab tren anthurium belakangan ini. Demikian juga Anggoro tak pernah menduga koleksi kesayangannya jadi idaman. Mungkin itulah buah dari sebuah konsistensi. (Destika Cahyana/Peliput: Evy Syariefa)

 

Previous articlee-book untuk Member
Next articleExtensions
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img