Tuesday, November 29, 2022

Yang Datang dan Pergi di Jagat Bonsai

Rekomendasi

 

Bukti sohornya wahong tampak dari tingginya permintaan bakalan dan bonsai (bon = pot dangkal, sai = tanaman) wahong. Harga sebuah bakalan bonsai wahong Rp500.000-Rp1.500.000. Namun, bila sudah menjadi bonsai harganya melambung: Rp3-juta-Rp4-juta. Menurut Jongky B Sulistio, pebonsai di Pluit, Jakarta Utara, wahong diminati pebonsai lantaran sangat mudah hidup, cepat tumbuh, tekstur bagus, dan bentuk pohon dinamis.

Supriyanto, pebonsai di Ponorogo, Jawa Timur, cuma sanggup menjual rata-rata 5 bonsai wahong per bulan. Itu hanya untuk melayani permintaan hobiis di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Permintaan hobiis dari Palu, Bali, dan Mataram, terus mengalir dan gagal terpenuhi. Sebab, bakalan wahong kini sulit diperoleh. ‘Di Pulau Panggul wahong sudah habis,’ kata Supriyanto.

Dilarang

Begitulah nasib bakalan bonsai yang tengah sohor pada setiap zaman: selalu diburu hingga habitat aslinya. Nasib serupa pernah dialami cemara udang Casuarina equisetifolia pada 1991. Penampilan cemara udang di ajang Konvensi Bonsai dan Suiseki Asia Pasifi k ke-1 di Nusadua, Bali, menyedot perhatian khalayak. Dari 20 gelar bonsai terbaik, 16 di antaranya diraih bonsai-bonsai asal Indonesia.

Ketika itu ada 6 cemara udang yang menggondol predikat terbaik antara lain koleksi I Ketut Wanten, pebonsai dari Bali, Kresno Yoewono (Surabaya), dan H Ismail Saleh (Jakarta). Setelah itu banyak hobiis membonsai cemara udang. ‘Batang natural sehingga dengan penyempurnaan cabang dan ranting sudah membentuk bonsai,’ kata Budi Sulistyo, pebonsai di Jakarta.

Harap mafhum habitatnya di daerah kering berupa tepian pantai dengan embusan angin kuat. Lapisan tanah tempat tumbuh cemara udang amat tipis. Di bawahnya berupa batu karang sehingga tumbuhnya meliuk-liuk. Secara turun temurun masyarakat setempat menebang cabang cemara udang untuk kayu bakar. Setelah dipotong, tumbuh cabang baru sehingga meski ukuran pohon pendek, tetapi umurnya sudah puluhan bahkan ratusan tahun.

Artinya cemara udang terbonsai secara alamiah. Bakalan cemara udang banyak dibentuk menjadi bonsai bergaya windswept alias tersapu angin. Saat cemara udang sohor itulah, banyak pemburu mencari ke habitatnya di Lombang, Kabupaten Pamekasan, Madura.

Salah sangka

Bakalan lain yang ngetop adalah mustam Diospyros montana. Yang pertama kali membonsainya adalah Frans Lananta Samsi, ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai bonsai mustam memang apik, apalagi ketika berbuah. Buahnya seukuran kelereng berwarna jingga berpadu dengan hijau daun. Sebutan mustam sebetulnya lantaran salah duga. Itu bermula pada 1984 saat ulmus naik daun sebagai bakalan bonsai.

Para pencari bakalan-termasuk Partam-memburu ulmus ke Tretes, Jawa Timur. Ia membawa beberapa bakalan yang disangka ulmus Ulmus lancaefolia lalu menyodorkannya kepada sang adik, Ismak. Keduanya pemilik Semi Bonsai di Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. ‘Ini bukan ulmus, tapi mustam, ulmusnya Partam,’ ujar Ismak setelah mengamati sosok ulmus ‘palsu’ itu.

Mengapa sebuah bakalan bisa kondang? Budi Sulistyo menuturkan bakalan banyak dicari antara lain ketersediaan melimpah, mudah diperoleh, dan gampang dibentuk. Rumusan itu berlaku ketika bonsai baru berkembang di Indonesia atau pada 1980-an. Saat itu beringin Ficus benjamina atau bunut Ficus glauca paling populer sebagai bakalan karena terdapat di mana-mana dan mudah dibentuk menjadi bonsai.

Banyak pula bakalan yang ‘datar’, maksudnya tak terlalu menonjol dalam perkembangan bonsai di tanahair. Beberapa di antaranya adalah anting putri Wrightia religiosa, kingkit Triphasia trifolia, dan mirten Malphigia cogcigera. Namun, apa pun bakalannya asal berkualitas bonsai tetap mendapat tempat di hati penggemarnya.

Gaya bonsai juga berubah-ubah. Menurut Budi Sulistyo pada 1980 pebonsai mementingkan batang dan cabang sebagai unsur utama bonsai. Keberadaan ranting diabaikan. Baru pada era 1990 ranting diperhatikan secara detail. Pengaturan ranting dengan kawat mulai dilakukan. Kemudian pada 2000-an bakalan diselaraskan, akar diselaraskan dengan perkembangan cabang. Karena sebuah bonsai adalah keseluruhan irama akar dan batang dengan cabang dan ranting. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img