Thursday, August 18, 2022

Yang Langka yang Puluhan Juta Rupiah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Angka di atas Rp35-juta pasti terlontar dari mulut si cantik SPG—Sales Promotion Girl. Nilai itu setara dengan sweet heart, aglaonema setinggi 42 cm milik Gunawan Widjaja. Ia istimewa lantaran langka, kompak, dan kokoh. Siamese rainbow itu juga menarik karena warna daun semakin ke atas kian cantik.

Bukan tanpa alasan pemilik Widjaja Orchid itu menebus sweet heart dengan harga selangit. “Ia satusatunya di Th ailand. Jenis lain tak ada yang seperti ini,” kata mantan karyawan Bank Central Asia. Ia mesti bersusah payah keluar masuk breeder di negeri Gadjah Putih untuk mendapatkannya. Maklum, nurseri langganannya kehabisan stok sehingga ia harus berburu langsung ke gudangnya.

Menurut Gunawan, untuk mendapatkan aglaonema berdaun cantik, kompak, dan kokoh sangat sulit. “Saya menduga, sang penangkar mempersiapkan kelahiran sweet heart sejak 3 tahun lalu. Ia yang terbaik dari ribuan aglaonema dari satu indukan,” katanya sambil menunjuk daun aglaonema yang bergelombang itu. Paduan warna sri rejeki itu juga unik: merah, pink, dan hijau kekuningan. Bagian belakang daun dan tangkai pun istimewa, merahnya sangat dominan.

Lantaran istimewa itulah, saat aglaonema itu diboyong dari Th ailand, ia tak disatukan dengan tanaman sejenis di bagasi. Gunawan rela memangkunya di atas pesawat Luft hansa Airlines. “Saya takut dia terluka atau tertinggal,” katanya. Karena itu pula pria bertubuh tinggi itu ditegur pramugari kala pesawat hendak tinggal landas. Akhirnya, ia diletakkan di bawah kursi. Itulah alasan kenapa wan nien ching—sebutannya di Cina—itu diberi nama sweet heart.

Aglaonema puluhan juta rupiah tidak hanya sweet heart. Lacakan Trubus ke Th ailand—kiblat aglaonema di Indonesia—menemukan sri rejeki lain.

Legacy

Pendatang baru dari Th ailand itu mirip tiara, aglaonema silangan Greg Hambali. Sampai saat ini tiara masih menjadi barang eksklusif. Pertama kali dilepas, harganya Rp30-juta—Rp35-juta. Kini dijual Rp1-juta per daun. Nah, legacy mempunyai kelebihan dibanding tiara. “Permukaan daun diselimuti lapisan lilin,” kata Gunawan. Walau begitu, harga legacy jauh lebih kompetitif ketimbang tiara. Ia dilepas dengan harga Rp1-juta per tanaman setinggi 15 cm. Itu sekitar 5—6 daun.

Nama legacy alias barang pusaka diberikan oleh penyilangnya sendiri di Th ailand. Musababnya, sang penangkar pernah kebanjiran rejeki dari lady valentine yang meledak di Indonesia. Legacy disematkan agar orang yang memboyongnya ke luar dari Th ailand seolah memperoleh warisan yang berharga. Yang juga menarik, walau telah sampai ke Indonesia, saat ini legacy menjadi barang rebutan di Th ailand. Sebab, sang induk yang telah dilepas seharga Rp25-juta langsung jatuh ke tangan orang Indonesia.

Big mama

Dialah aglaonema hijau yang menarik. Daun berukuran besar, panjang 25 cm dan lebar 14 cm. Tingginya 36 cm. Walau besar, ia terlihat kokoh. Itu karena daun tebal dan kaku. Susunan daun pun bagus sehingga terlihat kompak. “Biasanya aglaonema hijau dari Th ailand daunnya lemas,” kata Gunawan.

Big mama semakin cantik karena kombinasi warna yang unik. Daun hijau, tulang merah muda, dan jari-jari kuning. Bahkan, beberapa tepi daun berwarna kemerahan sehingga mirip lipstik. “Dari struktur tanaman, ia lebih kompak dibanding aglaonema hijau lain,” katanya.

Red ruby

Bila 3 aglaonema yang disebut di atas adalah tanaman asal Th ailand yang diboyong ke Indonesia, maka red ruby masih berada di negeri Gajah Putih. Trubus menemukannya saat berkunjung ke Pairoj Garden Nursery Juni silam. “Yang ini tidak dijual,” kata Pairoj Tianchai. Musababnya, silangan berwarna merah penuh itu hanya satu di nurserinya. Konon, warna seperti itu pun satu-satunya di Th ailand.

“Saya juga pernah memburunya,” kata Gunawan. Sayang, Pairoj bergeming tak mau membuka harga. Menurut Gunawan, biasanya aglaonema yang tak dijual oleh Pairoj berharga Rp50-juta—Rp60-juta.

Itu harga yang pantas buat aglaonema semerah itu. Warna hijau hanya terlihat di 3—4 daun yang tumbuh di awal pertumbuhan. Selain itu, warna merah penuh menyelimuti daun layaknya disablon. Diduga indukannya berdarah A. rotundum yang berwarna merah kemudian menjiplak A. cochinchinense yang berwarna putih kehijauan.

Red aurora

Ingat aglao lipstik. Dia berwarna hijau dengan tepi daun berwarna merah, mirip gincu di bibir gadis. Red aurora ini kebalikannya, 99,9% daun berwarna merah dengan tepi daun hijau. Menurut Pairoj, ia saudara selubuk red ruby yang juga berkarakter sama. Induk berwarna merah mendominasi induk hijau.

Walau daun permukaan atas berwarna merah, permukaan sebaliknya putih keperakan. Makanya, terlihat kontras dan cantik. Sayang, red aurora jumlahnya hanya satu. “Setelah dilombakan di even tahunan, baru diperbanyak,” kata Pairoj. Jadi, bila Anda berniat memilikinya harus sabar menunggu 6—12 bulan mendatang.

Red mascot

Red mascot juga saudara selubuk dengan red ruby dan red aurora. Bedanya, warna hijau terlihat lebih dominan. “Tujuh puluh persen merah, sisanya hijau,” kata Pairoj. Namun, ia tetap cantik karena warna yang muncul sama-sama pekat. Terlihat jelas, induk merah dan induk hijau berusaha saling mendominasi.

Yang juga menarik, red mascot paling kompak di antara kedua saudaranya. Susunan daun simetris bila dilihat dari segala sisi. “Semua ruang terisi penuh, tak ada yang bolong,” kata Pai roj . (Destika Cahyana/Peliput: Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img