Friday, December 2, 2022

Yang Tergila-gila Yak Saudi

Rekomendasi

Tragedi pada November 2006 itu membuatnya tersadar. ‘Tak mudah pelihara dan pilih arabicum. Itu saya anggap ongkos yang harus dibayar demi sebuah hobi,’ kata pengusaha tambak itu. Sebulan berselang Edi memboyong arabicum yaman asal Taiwan berukuran caudek 65 cm sebagai pelipur lara. Kerabat plumeria itu ditebus dengan harga US$3.500, setara Rp31,85-juta.

Kegandrungannya pada arabicum kian bertambah saat Edi melihat kerabat pachypodium itu banyak unjuk gigi di arena kontes. ‘Bila melihat arabicum bagus, dorongan menambah koleksi semakin kuat,’ ujar suami Lusiana Sebayang itu. Ia pun rajin bertandang ke importir yang baru datang membawa arabicum. Nurseri ternama di luar kota pun didatangi demi sukulen itu.

Dari pengembaraan ke berbagai nurseri itulah Edi semakin paham. ‘Tak semua arabicum bagus harganya mahal. Bila jeli, banyak yang harganya terjangkau, tapi berkualitas kontes,’ katanya. Ia mencontohkan 2 arabicum-yaman dan ra chine pandok-berukuran 20-30 cm yang dibeli dengan harga Rp5-juta-an.

Meniti tangga

Ibarat sebuah pendakian, kecintaan Edi pada arabicum bagaikan meniti anak tangga di belantara varian adenium. ‘Lima tahun lalu saya menyukai adenium bunga, lalu adenium bonggol asal Jawa Timur. Kini berkembang ke arabicum. Di masa depan bisa ke arabicum thai soco atau varian lainnya,’ kata ayah dari Lisa Melati Sebayang, Putri Melati Sebayang, dan Irma Melati Sebayang itu. Edi menduga di masa datang arabicum dengan kaki program bakal menjadi salah satu idola.

Menurut Edi, banyak kelebihan arabicum yang tak ditemui pada tanaman lain. ‘Meski tanpa bunga, tanaman tampak gagah dan maskulin,’ katanya. Arabicum memang dapat dinikmati dari akar, caudek, batang, cabang, ranting, daun, hingga bunga. Keindahan pada setiap komponen penyusun tanaman itu mirip bonsai. Sebuah hobi yang pernah digeluti Edi sejak 29 tahun silam. Selain arabicum, kini Edi kesengsem varian adenium lain, mini compacta. Mutasi adenium yang berdaun mangkok, mini, dan rajin berbunga.

Bagi Edi, kehadiran arabicum di kehidupannya juga bisa dianggap sebagai obat. ‘Dalam hidup saya, ada 3 hobi yang tak bisa saya lepaskan. Ayam, burung, dan tanaman,’ katanya. Dua yang disebut pertama terenggut dari kehidupannya karena faktor luar: flu burung. Edi mesti mengalah dan merelakan 100 ayam serama-jagoan kontes-diungsikan jauh dari kediamannya. Maklum, selama 2002-2005 Edi dikenal sebagai dedengkot ayam serama. Kandang seluas 400 m2 pun dibongkar pada Januari 2007.

Kini bekas kandang serama itu bersalin rupa menjadi hamparan taman Adenium arabicum, Adenium obesum, pachypodium, dan bonsai. Di sanalah setiap pagi pukul 06.00-10.00 Edi menghabiskan waktu sebelum berangkat ke kantor. Ditemani sebatang rokok, kelahiran Tanah Karo 55 tahun silam itu kerap menyilangkan arabicum dengan ra chine pandok atau sesamanya. Sepulang kantor, ia berada di taman itu hingga larut malam.

Tak semua arabicum bagus harganya mahal. Bila jeli, banyak yang harganya terjangkau, tapi berkualitas kontes.

Hebohkan arabicum

Tak hanya Edi Sebayang di Tangerang yang kepincut arabicum. Nun di Yogyakarta, ada R Sumadi BA alias Kelik. Mantan kontraktor itu tergila-gila pada arabicum sejak 3-4 tahun silam. Kelik pernah menghebohkan jagad arabicum dengan koleksinya berupa arabicum program kaki yang terlihat alami. Meski penampilan batang dan percabangan belum sempurna, koleksi Kelik mampu menyabet gelar juara di kontes Yogyakarta 2 tahun silam. ‘Itu satu-satunya program kaki arabicum paling alami yang pernah saya temui,’ kata Aris Budiman, pemilik nurseri Watuputih di Yogyakarta.

Sejak itu Kelik kian lengket pada arabicum. Ia kerap berkunjung ke pekebun arabicum di pelosok desa untuk berburu yak saudi-sebutan arabicum di Thailand. Tak jarang dari perjalanan itu ia menemukan arabicum seharga Rp35-ribu-Rp65-ribu yang berkualitas kontes. ‘Pernah arabicum seharga itu ditawar teman Rp2-juta. Namun, tak saya lepas karena sayang,’ ujar Kelik. Sayang, sebulan berselang, arabicum bercabang istimewa itu mati membusuk.

Meski sedih, ayah 2 putri itu tetap puas. Ia telah berhasil memilih tanaman istimewa dari ribuan bibit arabicum. ‘Itu pengorbanan yang mesti dibayar,’ katanya. Kelik jadi tahu penyebab busuk arabicum. Busuk yang disebabkan bakteri berwarna cokelat kehitaman dan berbau tajam. Sementara busuk karena hujan berwarna cokelat muda tanpa bau.

Saat Wartawan Trubus, Argo Arie Raharjo, bertandang ke kediaman Sumadi, hamparan Adenium arabicum dan Adenium obesum berukuran 30-60 cm menyambut di halaman tengah yang dikelilingi kolam koi. Di atas dak seluas 50 m2 ratusan yak saudi dan chuan chom-sebutan Adenium obesum-ukuran 3-8 cm tampak berjejer. ‘Itu hasil semaian dan perburuan ke pelosok,’ ujarnya. Di dak dekat tangga, 15 arabicum baru saja diprogram kaki. Itu untuk mengikuti jejak pendahulunya yang disebut-sebut program kaki paling alami.

Edi dan Kelik hanyalah segelintir orang yang jatuh cinta pada arabicum. Dari bagian tengah Pulau Sumatera hingga ujung timur Bali, puluhan orang berburu arabicum. Tragedi kematian yak saudi dan harga selangit tak menghalangi niatan untuk menempatkan arabicum di halaman rumah. Karena bagi Edi dan Kelik, menikmati rokok bersama arabicum menjadi momen yang terindah. (Destika Cahyana/Peliput: Argo Arie Raharjo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img