Thursday, December 8, 2022

Yap Tjie Tiong Arab Lalu Elba

Rekomendasi

Dari tiga telur, kini Yap Tjie Tiong mengelola 1.500 ayam elba yang menghasilkan 650 telur setiap hari.

Yap Tjie Tiong seperti tak kenal kata pensiun. Ketika usianya 73 tahun, Tiong tetap mengembangkan ayam barunya, elba, di Desa Suropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Padahal, di tengah harga pakan melambung, banyak peternak menurunkan populasi ayamnya karena tidak ekonomis.

 

Tiong justru seperti melawan arah: meningkatkan populasi ayamnya. Pada awal 2010 ia baru beternak sepasang elba, kini pada Januari 2013 melonjak menjadi 1.500 ekor. Niat berhenti beternak sempat terbersit di benaknya, tetapi begitu mengenal elba, semangatnya kembali berkobar. Semula Tiong beternak 500 ayam arab sejak 1998. Produktivitas ayam petelur itu semula mencapai 70-80%.

Namun, sepuluh tahun kemudian produktivitasnya hanya 50% akibat inbreeding. Artinya jika peternak mengelola 1.000 ekor ayam produktif, hanya menuai 500 butir setiap hari. Tiong ibarat jatuh terkilir dan tertimpa tangga besi. Sudah produktivitas anjlok, ayam arab relatif “boros” pakan. Seekor ayam arab dewasa berbobot 2 kg perlu minimal butuh 80 g pakan setiap hari.

Tiga komoditas

Akibat produktivitas anjlok dan pakan itulah Tiong berhasrat berhenti beternak ayam. Namun, mungkin Tuhan menakdirkan Tiong terus menggeluti ayam. Tiong mulai berbisnis ayam pedaging pada1996. Namun, badai krisis moneter memaksanya untuk menggulung karpet. Setahun berselang ia melirik ayam kampung petelur hingga terhenti karena repot pada 1998. Ia kembali beternak ayam arab pada 1998 hingga 2010.

Ketika hendak berhenti beternak itu, ia mengenal elba dari rekannya Lala Setyawan. Usai menjalankan ibadah haji, Lala Setyawan membawa 60 telur ayam dari Jeddah, Arab Saudi, pada 2010. Ia memberi nama elba. Dua huruf pertama, kependekan dari huruf pertama Lala. Sementara ba kependekan dari Badian, dusun tempat Lala tinggal. Lala memberi tiga telur ayam elba dan Tiong menetaskannya menjadi DOC (day old chicken, anak ayam berumur sehari) pada 2010.

Dari situlah elba di rumahnya berkembang biak. Ayam petelur unggul itu menjadi penolong ketika kondisi ayam arab miliknya terpuruk. Harap mafhum, produktivitas ayam elba relatif tinggi, mencapai 80%, sedangkan konsumsi pakan irit, hanya 70 g per ekor per hari. Selisih 10% pakan per ekor cukup signifikan bagi peternak yang memelihara ribuan ekor.

Singkat kata kehadiran elba menjadi solusi atas kendala rendahnya produktivitas ayam arab saat ini (lihat Elba Atasi Dua Masalah, Majalah Trubus edisi Januari 2013). Saat ini ia memelihara 1.500 ekor elba. Dari jumlah itu 860 ekor di antaranya produktif yang menghasilkan rata-rata 500 telur konsumsi dan 150 butir telur siap tetas setiap hari. Telur siap konsumsi hasil peneluran induk tanpa kehadiran jantan. Sementara telur siap tetas merupakan hasil pembuahan. Telur siap tetas itu ia jual kepada masyarakat, sebagian ia tetaskan sendiri menghasilkan DOC.

Harga sebutir telur konsumsi-berukuran besar atau kecil-tetap sama, Rp950. Sementara harga telur siap tetas Rp1.500 per butir. Artinya Tiong meraup omzet Rp475.000 dari telur konsumsi dan Rp225.000 dari telur siap tetas setiap hari. Selain itu ia juga menjual DOC yang harganya Rp6.000 per ekor. Setiap pekan Tiong mampu menghasilkan 500 DOC setara Rp3-juta.

Pengambilan telur konsumsi ia lakukan sekali ketika sore hari. Adapun untuk mendapatkan telur siap tetas, Tiong rajin mengawinkan ayam-ayamnya. Calon generasi baru itu harus hasil pembuahan agar keberhasilan menetas juga tinggi. Tiong mempunyai cara tersendiri dalam menghasilkan telur siap tetas. Rasio jenis kelamin ayam yang dikawinkan bervariasi.

Hasil eksperimen menunjukkan bahwa seekor ayam jantan mampu mengawini 10 betina. Dari kandang dengan rasio 1 : 10 Tiong mengambil 8-10 telur setiap hari. Namun, ia juga mengambil 5 telur dari kandang berisikan 2 jantan dan 5 betina. Ia menuturkan bahwa untuk rasio jenis kelamin itu relatif.

Masih ekonomis

Tiong memang mesti menyediakan pakan jadi yang harganya Rp220.000 per karung berbobot 50 kg atau Rp4.400 per kg. Untuk menekan konsumsi pakan, ia mencampurkan bahan pakan lain, yakni bekatul yang harganya Rp2.000 per kg, jagung giling (Rp3.500), mineral (Rp3.250) dan konsentrat (Rp6.000). Ia mencampur bahan-bahan itu dengan takaran campuran bekatul, konsentrat, dan jagung dengan perbandingan 1:1:2. Pemberian pakan 2-3 kali sehari. Selain itu ia juga menambahkan vitamin dan mineral 2%.

Menurut Maria Mulianti, anak perempuan Tiong, satu ekor ayam sejak DOC hingga berumur 4,5 bulan membutuhkan biaya Rp45.000–Rp50.000 untuk pakan dan vaksin. Adapun ayam di atas umur 4,5 bulan menghabiskan dana Rp400 per ekor per hari. Setelah umur 4,5 bulan, Maria mengeluarkan biaya pakan Rp12-juta untuk 1.000 ayam produksi.

Pengeluaran itu dapat tertutupi dari hasil penjualan tiga komoditas unggulan, yakni telur konsumsi, telur siap tetas, dan DOC. Tiong tak perlu repot memasarkan telur dan DOC itu. Sebab, para pengepul justru datang untuk mengambil komoditas itu di lokasi peternakan ayam milik Tiong. Selain itu Tiong juga menjual 50 karung pupuk kandang per bulan. Harga jual pupuk kandang Rp9.000 per karung. Dalam sebulan ia bisa meraup omzet sebesar Rp29,7-juta.

Untuk memelihara 1.500 ayam elba, istri dan anak Tiong turut membantu sehingga tak ada pegawai tambahan. Menurut Tiong perawatan ayam elba tak begitu sulit. Peternak hanya butuh keuletan. Perawatan ayam elba meliputi pemberian pakan, pengambilan kotoran, pengambilan telur, mengawinkan, sampai penetasan telur. Tiong melakukan semua aktivitas itu meski usianya merambat 73 tahun. (Rona Mas’ud)


Keterangan Foto :

  1. Betina dewasa elba
  2. Yap Tjie Tiong, setelah arab lalu elba
  3. Mesin penetas telur ayam elba
  4. Telur ayam elba mirip telur ayam kampung
  5. Pakan campuran bekatul, jagung, mineral, dan konsentrat
  6. Day old chicken elba
Previous articleRawat Para Biduan
Next articleTahun Baru Jawara Baru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img