Thursday, June 20, 2024

Yogi Dwi Sungkowo : Kembangkan Kluster Lada, Tumbuhkan Ekonomi Desa

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Semula Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah bukan sentra lada. Kini dapat ekspor lada. Siapa sangka petani milenial, Yogi Dwi Sungkowo berperan dalam pengembangan lada itu.

Yogi mulai mengembangkan ekosistem lada dari usaha perbenihan. Pada 2010 ketua kelompok Tani Margo Utomo di Desa Kedrapan, Kecamatan Kejobong, Kabupaten purbalingga, Jawa Tengah itu mengembangkan pembibitan dan kebun sumber benih.

“Pada awalnya saya menangkarkan dan jual benih tidak bersertifikat. Namun berkat adanya pembinaan dari pemerintah saya memutuskan menjadi produsen benih resmi. Lalu pada tahun 2016 kebun yang saya bangun seluas 0,775 hektare (ha), kurang lebih sekitar 1.900 tanaman di 4 lokasi ditetapkan sebagai kebun sumber benih dengan Varietas Natar 1,” pada siaran pers.

Lebih lanjut ia menuturkan Kelompok Tani Margo Utomo menjadi salah satu produsen resmi benih lada di Jawa Tengah. Bibit lada dari penangkarannya pun merambah hingga ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Bengkulu, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

“Sekaligus mengukuhkannya sebagai produsen lada terbesar di Pulau Jawa dengan potensi produksi benih ada 200 ribu per tahun,” katanya.

Pada 2018 ia mulai membina kelompok tani Margo Lestari di Desa Kedrapan. Poktan itu mendapatkan bantuan Desa Mandiri Benih Lada dari Kementerian Pertanian. Hasilnya meningkatkan kapasitas produksi lada dari Kabupaten Purbalingga.

Selain itu,  Yogi juga mengembangkan perkebunan lada di Kabupaten Purbalingga baik secara swadaya atau melalui dukungan dari Kementerian Pertanian. Ia membina petani pengguna benih asal penangkarannya agar dapat menghasilkan produk turunan bernilai tambah.

Keruan saja saat ini luas lahan petani binaan mencapai 200 ha dari eksisting 350 hektar.  “Pada tahun 2022 kami mendapatkan pesanan lada putih ke Jepang melalui kerjasama dengan perusahaan asal Jepang sebanyak 3 kali masing-masing, 25 ton, 25 ton, dan 40 ton,” ujar Yogi.

Pembelian melalui KUB Mitra Tani Sejahtera yang berdomisili di Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Selain memproduksi produk mentah, petani binaan Yogi juga mampu menghasilkan produk turunan seperti lada bubuk dalam kemasan yang dijual di pasar lokal.

Yogi berharap agar pemerintah tetap mengalokasikan pengembangan lada selain untuk meningkatkan pasokan bahan baku lada untuk diolah menjadi produk bernilai tambah, juga menghidupkan usaha pembibitan.

“Pasar utama dari produsen lada adalah pengadaan pemerintah baik melalui skema pembiayaan APBN ataupun APBD,” katanya. 

Sehingga kebelangsungan usaha perbenihan tetep bisa kontinu. Ia menuturkan “Kalau pemerintah berhenti belanja maka usaha perbenihan lada akan mati perlahan. Ketika produsen benih sudah gulung tikar susah untuk kembali bangkit,” kata Yogi.

Melalui usaha perbenihan selain  menumbuhkan usaha penyediaan benih di Kabupaten Purbalingga ia juga menjadikan desa itu menjadi salah satu kluster pengembangan lada. Terdapat usaha perbenihan, perkebunan lada, dan juga pengolahan yang berkontribusi pada penumbuhan ekonomi wilayah pedesaan.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Budidaya Udang Vannamei Superintensif, Padat Tebar Padat Hasil Panen

Trubus.id—Budidaya udang vannamei superintensif  merupakan cara budidaya dengan tingkat kepadatan tinggi mencapai 1.000 ekor per m2 atau rata-rata 370...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img