Trubus.id-Indonesia memiliki cadangan zeolit alam yang melimpah. Batuan yang banyak ditemukan di wilayah pantai selatan Pulau Jawa itu kini dimanfaatkan sebagai bahan utama filter antimikrob untuk menjaga kualitas air minum di peternakan ayam.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim peneliti IPB University yang dipimpin Dr. Zaenal Abidin, S.Si., M.Agr., dari Departemen Kimia Fakultas MIPA. Menurut Zaenal, zeolit dipilih karena memiliki struktur unik berupa mikropori yang mampu menyerap dan menukar ion secara efektif.
“Zeolit mempunyai kemampuan mengikat kation yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan, termasuk untuk aplikasi antimikrob,” kata Zaenal.
Struktur zeolit menyerupai jaringan saluran dan ruang kecil yang memungkinkan molekul air bergerak bebas. Karakteristik itu membuat zeolit mampu mendukung proses penyerapan, difusi, pertukaran ion, hingga katalisis.
Dalam pengembangannya, zeolit dikombinasikan dengan tembaga yang memiliki sifat antimikrob. Kombinasi kedua material tersebut menghasilkan media penyaring yang efektif menekan populasi bakteri patogen dalam air.
Tim peneliti menggunakan zeolit berbentuk granul berukuran sekitar 3 milimeter. Ukuran itu dipilih karena mampu memberikan luas permukaan yang cukup besar untuk proses filtrasi sekaligus menjaga aliran air tetap lancar.
Menurut Zaenal, zeolit berbentuk serbuk memang memiliki kemampuan penyerapan lebih tinggi karena luas permukaannya besar. Namun, bentuk serbuk mudah menggumpal dan berpotensi menyumbat sistem penyaringan.
“Bentuk granul memungkinkan air mengalir tanpa hambatan ketika dipasang dalam satu filter. Dengan ukuran itu, proses penyaringan berjalan lancar,” ujarnya.
Dalam praktiknya, media zeolit ditempatkan di dalam cartridge dan housing filter agar tetap berada pada posisi yang tepat selama proses penyaringan berlangsung. Sistem itu memastikan seluruh air melewati media filtrasi secara optimal.
Efektivitas teknologi tersebut diuji melalui penelitian di peternakan ayam. Pengujian menggunakan media eosin methylene blue agar (EMBA) untuk mendeteksi Escherichia coli dan xylose lysine deoxycholate agar (XLDA) untuk mendeteksi Salmonella sp. Seluruh populasi bakteri kemudian dihitung menggunakan metode total plate count (TPC).
Hasil penelitian menunjukkan jumlah bakteri E. coli dan Salmonella sp. menurun drastis setelah air melewati filter zeolit antimikrob. Bahkan pada pengamatan hari ke-9, kedua bakteri tersebut tidak lagi terdeteksi.
Angka cemaran total mikrob juga turun signifikan dari sekitar 4,7 Log CFU/ml menjadi sekitar 2,0 Log CFU/ml. Temuan itu menunjukkan filter zeolit tidak hanya efektif menekan bakteri patogen tertentu, tetapi juga mampu memperbaiki kualitas mikrobiologis air secara keseluruhan.
Keunggulan lain teknologi ini adalah tidak meninggalkan residu berbahaya bagi ayam, manusia, maupun lingkungan. Dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal, filter zeolit antimikrob berpotensi menjadi solusi berkelanjutan bagi peternakan unggas skala kecil maupun besar.
