2.564 Spesies Tanaman Lokal, Harta Karun Ketahanan Pangan Indonesia

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat besar. Sedikitnya 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Wawan Sujarwo, mengungkapkan, dari ribuan spesies tersebut lebih dari 77 jenis merupakan sumber karbohidrat lokal. Kekayaan itu juga mencakup ratusan jenis umbi-umbian, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, serta tanaman pangan tradisional yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat selama ratusan hingga ribuan tahun.

Namun, menurut Wawan, sebagian besar potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, diversifikasi pangan tidak hanya memperluas pilihan konsumsi masyarakat, tetapi juga dapat meningkatkan ketahanan sistem pangan terhadap perubahan iklim, gangguan pasokan, dan gejolak pasar.

“Pengembangan pangan lokal sesungguhnya merupakan strategi ekologis, ekonomis, sekaligus sosial,” ujar Wawan dalam Jamming Session #10 bertema “Pangan Lokal: Resolusi Ketahanan Pangan Berkeadilan dan Berkelanjutan” yang digelar secara daring pada Kamis (6/8).

Menurut Wawan, pangan lokal dapat memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan pengetahuan tradisional. Pemanfaatan sumber pangan yang tersedia di daerah juga berpotensi mengurangi jejak karbon akibat distribusi pangan dalam jarak panjang serta menjaga keberagaman genetik tanaman yang penting untuk menghadapi perubahan lingkungan pada masa mendatang.

Wawan menilai ketahanan pangan nasional masih menjadi tantangan yang membutuhkan pendekatan menyeluruh. Di tengah upaya meningkatkan produksi pangan, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan pangan lokal yang lahir dari pengetahuan ekologi dan tradisi masyarakat. Potensi tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam sistem pangan nasional.

Selama ini, ketahanan pangan kerap dipandang sebagai persoalan meningkatkan produksi. Padahal, dari perspektif ekologi, ketahanan pangan berakar pada ketahanan ekosistem.

“Tidak ada pangan tanpa tanah yang sehat, tidak ada pertanian tanpa air yang tersedia, tidak ada penyerbukan tanpa keanekaragaman hayati, dan tidak ada hasil panen yang stabil tanpa iklim yang mendukung,” katanya.

Menurutnya, fungsi ekologi merupakan fondasi utama sistem pangan. Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki modal ekologis yang besar berupa kekayaan plasma nutfah, keragaman ekosistem, serta ribuan spesies pangan lokal.

Pengembangan pangan lokal perlu didukung data ilmiah, hasil kajian etnobotani, serta pengetahuan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Ketiga aspek tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan jenis pangan lokal yang potensial dikembangkan sekaligus memastikan pemanfaatannya tetap berkelanjutan.

Wawan juga mengutip data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang menunjukkan lebih dari 95% produksi pangan dunia bergantung pada tanah yang sehat. Namun, sekitar sepertiga lahan pertanian global telah mengalami degradasi akibat erosi, penurunan kesuburan tanah, dan praktik pemanfaatan lahan yang tidak berkelanjutan.

Selain tanah, keberadaan penyerbuk juga sangat penting bagi produksi pangan. Sekitar 75% tanaman pangan dunia bergantung, baik seluruhnya maupun sebagian, pada jasa penyerbukan oleh serangga dan satwa liar. Penurunan populasi penyerbuk akibat hilangnya habitat menjadi ancaman bagi produktivitas pertanian.

Wawan menegaskan konservasi tidak selalu berlawanan dengan kepentingan produksi pangan. Ekosistem yang sehat justru dapat meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Tanah yang kaya bahan organik mampu menyimpan air dan unsur hara dengan lebih baik. Hutan yang terjaga membantu mempertahankan siklus hidrologi sehingga dapat mengurangi risiko kekeringan. Sementara itu, keanekaragaman hayati menyediakan musuh alami hama yang dapat menekan ketergantungan terhadap pestisida.

Sejumlah pendekatan seperti agroekologi, agroforestri, pengelolaan bentang alam terpadu, dan pertanian regeneratif juga dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas lingkungan.

“Ketahanan pangan dan konservasi bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua sisi pembangunan berkelanjutan yang saling menguatkan,” ujar Wawan.

Ia mendorong perubahan paradigma dari produksi maksimum menuju produktivitas yang berkelanjutan. Sistem pangan tidak hanya dituntut menghasilkan panen saat ini, tetapi juga harus tetap produktif bagi generasi mendatang.

Jamming Session #10 turut menghadirkan dua narasumber dari luar BRIN yang berbagi pengalaman dan perspektif mengenai pengembangan pangan lokal di Indonesia.

Praktisi Pengembangan Masyarakat dan Ketahanan Pangan, Ir. Haryanti Koostanto, menyampaikan paparan berjudul “Refleksi atas Kebijakan dan Praktik Pangan Nasional: Tantangan dan Peluang Pangan Lokal dalam Sistem Pangan yang Berkeadilan”.

Haryanti mengulas berbagai kebijakan dan praktik pangan nasional sekaligus menyoroti tantangan dan peluang pengembangan pangan lokal agar memperoleh ruang yang lebih setara dalam membangun sistem pangan yang adil dan berkelanjutan.

Narasumber berikutnya, Britania Sari, Pegiat Ketahanan Pangan Mandiri sekaligus Pendiri Kebun Atqiya, memaparkan materi “Praktik Baik, Inovasi Sosial, dan Pemberdayaan Masyarakat dari Akar Rumput sebagai Alternatif Ketahanan Pangan Berkelanjutan”.

Britania berbagi pengalaman mengenai pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan pangan lokal, mulai dari optimalisasi pekarangan rumah hingga penguatan program Posyandu sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan pangan berkelanjutan di tingkat komunitas.

Wawan berharap forum tersebut dapat melahirkan kolaborasi baru melalui pertukaran gagasan, integrasi data, pengembangan inovasi, serta penyusunan agenda riset bersama untuk mendukung pengelolaan wilayah Indonesia yang adaptif, tangguh, dan berkelanjutan.

“Ketahanan pangan bukan hanya persoalan menghasilkan lebih banyak pangan, tetapi bagaimana memastikan ekosistem tetap mampu memproduksi pangan secara adil, adaptif, dan berkelanjutan,” kata Wawan.

Dengan demikian, ketahanan pangan pada dasarnya merupakan cerminan dari ketahanan ekologi. Kekayaan pangan lokal Indonesia menjadi modal penting untuk membangun sistem pangan yang tidak hanya beragam, tetapi juga mampu bertahan menghadapi perubahan lingkungan dan kebutuhan generasi mendatang.

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Dua Varietas Tebu Unggul Berproduktivitas Tinggi

Dua varietas tebu unggul, NXI 04T dan Panjalu, memiliki sejumlah karakter yang berpotensi meningkatkan produktivitas tebu nasional. Keduanya memiliki...

More Articles Like This