
TRUBUS — Kombuca membantu mengatasi serangan virus korona. Bakteri baik dalam kombuca menunjang daya tahan tubuh.
Debbie Nasta Maharini panik lantaran hasil tes usap kedua orang tuanya menunjukkan positif terinfeksi virus korona pada Juni 2021. Meski telah divaksin lengkap dua dosis, kedua orang tuanya tergolong rentan sebab berusia lebih dari 60 tahun. Perempuan yang tinggal di Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, itu menuturkan, ayahnya berumur 65 tahun dan ibunya 64 tahun.
Selain itu mereka juga memiliki komorbiditas atau penyakit penyerta. “Ada komorbid bapak pneumonia dan ibu penyakit jantung,” kata Debbie. Mereka mengalami gejala demam sekitar dua hari dan batuk ringan pada awal isolasi mandiri. Sang ibu mengalami batuk yang lebih parah disertai keringat dingin dan badan lemas. Dokter menyarankan mereka mengonsumsi probiotik.
Larutan kombuca
Mendengar saran dokter, Debbie teringat pada kombuca yang kaya akan probiotik dan memberikannya pada orang tuanya. Kombuca merujuk pada minuman berbahan larutan teh dan gula yang mengalami fermentasi dengan penambahan beberapa mikrob seperti bakteri Acetobacter xylinum serta ragi Saccharomyces cerevisiae dan Zygosaccharomyces bailii.

Debbie mengenal kombuca sejak 2019. Ia kemudian membuat minuman asal Asia Timur itu sendiri dan tak pernah melewatkan satu hari tanpa segelas kombuca untuk kedua orang tuanya. Dosis konsumsi segelas kombuca setara 250 ml dua kali sehari setelah makan. Selain itu mereka juga mengonsumsi makanan sehat cukup nutrisi dan obat yang diresepkan dokter. Bapak dan ibu Debbie juga rajin berolah raga setiap pagi.
Kudapan gorengan, makanan bersantan, serta makanan lain yang dapat memperparah batuk mereka hindari. Upaya itu membuat kondisi mereka berangsur membaik. Setelah masing-masing menjalani isolasi mandiri selama 14 hari dan 18 hari, mereka mengikuti tes usap atau swab test dan hasilnya negatif. Melihat kondisi orang tuanya yang cepat pulih, Debbie makin giat menerapkan gaya hidup sehat dengan merutinkan konsumsi kombuca.
Menurut dr. Debryna Dewi Lumanauw manfaat minuman fermentasi air teh itu karena adanya Lactobacillus yang kurang lebih sama dengan produk fermentasi lain. “Dengan makin banyak probiotik di dalam tubuh kita, imunitas akan meningkat. Yang jelas kita juga tahu probiotik itu sangat baik untuk sistem digestive, sistem lambung, dan usus besar nantinya,” kata Debryna.
Beberapa penelitian membuktikan menjaga koloni bakteri baik dalam usus dapat berpengaruh besar terhadap imunitas. Dokter alumnus Universitas Maranatha Bandung itu mengatakan, usus kita bila dilihat dengan mikroskop, terdapat banyak gudang sel imun bernama peyer’s patch. “Peyer’s patch pabrik sel imun kita. Sel-sel yang nantinya akan dimasak lagi jadi antibodi,” kata Debryna.
Debryna menuturkan, orang dengan kondisi usus yang tidak bagus antara lain terdapat luka atau penyakit imun tertentu, dapat gagal memproduksi sel-sel imun. Akibatnya daya tahan secara keseluruhan pun turun. Secara tidak langsung, keberadaan probiotik dalam saluran pencernaan menunjang imunitas. Jika imunitas tinggi tubuh seseorang mampu “melumpuhkan” serangan penyakit seperti virus korona.
Kombuca memiliki perpaduan rasa unik yakni masam dan manis yang menyegarkan dan bersoda. Soda itu terbentuk secara alami dari gas karbondioksida yang dihasilkan bakteri. Debryna mengibaratkan soda itu sebagai napas terakhir bakteri sebelum akhirnya kita minum. Selain itu, kombuca juga dapat dikonsumsi sebagai sumber vitamin C harian yang aman. Debryna selalu menyediakan kombuca untuk memenuhi asupan probiotik.
Selain mengonsumsi langsung, ia juga kerap menggunakannya sebagai pengganti cuka saat memasak. Dokter anggota Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) itu mengatakan, proses pembuatan kombuca paling gampang. Bahan mudah diperoleh sehingga siapa saja mudah mempraktikkannya.
Vitamin C
Peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Surya Mitra Husada Kediri, Yenny Puspitasari dan rekan-rekan, mengungkap kandungan vitamin C dalam kombuca meningkat seiring bertambahnya masa fermentasi. Kandungan vitamin C optimal pada hari ke-7 sebesar 8,34 mg/ml. Setelah itu, vitamin C berangsur turun menjadi sebesar 6,84 mg/ml pada hari ke-9 dan 3,62% pada hari ke-11.
Mikrob Saccharomyces cerevisiae dalam kombuca dapat mengoksidasi sukrosa menjadi karbondioksida dan air, bila tersedia oksigen. Karbondioksida yang bereaksi dengan air itu dapat membentuk asam askorbat alias vitamin C. Yenny menjelaskan makin lama fermentasi, kandungan gula menipis sehingga menyebabkan kandungan vitamin C juga menurun setelah mencapai titik optimal pada hari ke-7. Itu lantaran mikoorganisme sudah kehabisan makanan.
Vitamin C senyawa penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Fungsinya sebagai antioksidan dapat memperbaiki sel tubuh dan jaringan kulit yang rusak akibat radikal bebas. Selain itu, antioksidan menetralisasi radikal bebas, menghambat pertumbuhan sel kanker, mengurangi penimbunan kolesterol dalam darah, dan mempercepat pembuangan kolesterol melalui feses.
Beberapa pasien yang positif virus korona mengonsumsi kombuca untuk membantu pemulihan kesehatan. Apalagi kandungan kombuca juga lengkap. Selain vitamin C, kombuca juga mengandung antara lain vitamin B1 (tiamin), vitamin B3 (niasin), vitamin B12 (sianokobalamin), dan asam amino. Meski demikian, bukan berarti khasiat kombuca hanya untuk orang pasien yang positif korona.

Lihat saja Syarif Hidayatulloh yang mengalami kenaikan asam lambung. Warga Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, itu mengalami asam lambung terasa naik hingga kerongkongan. Sudah begitu perut pun mual. Celakanya frekuensinya sangat tinggi, biasanya selepas makan. Selain itu, ia juga kerap mengalami sembelit. Kesulitan buang air besar itu bisa terjadi hingga 3—4 hari.
Gangguan pencernaan itu kerap muncul karena ia tak menerapkan pola makan yang benar. “Saya rasa awal dari berbagai penyakit itu pada pencernaan, pola makan yang salah dan tidak teratur, ditambah tingkat stres pada pikiran,” kata Syarif. Harap mafhum, profesinya sebagai seniman lukis dan jurnalis lepas di sebuah media daring itu menuntutnya bekerja tak kenal waktu. Syarif kerap menunda jam makan demi menyelesaikan pekerjaan.
Pada awal 2021 seorang rekan menceritakan pengalamannya membuat minuman fermentasi dari air teh. “Katanya minuman itu dibuat untuk ayahnya yang mengalami kelumpuhan setelah terserang strok,” kata Syarif. Ayah rekannya itu mengalami perubahan yang lebih baik dan berangsur pulih. Tentunya ia tetap konsultasi dengan dokter dan tetap mengonsumsi obat yang diresepkan.
Melihat perkembangan pemulihan ayah sang rekan, Syarif pun tertarik pada minuman fermentasi kombuca itu. Ia rutin meminum kombuca buatan sendiri setiap hari. “Sehari maksimal segelas besar menjelang tidur,” kata Syarif. Beberapa waktu berselang, ia tak lagi mengeluhkan mual dan asam lambung naik setelah makan. Ia juga jarang sembelit. Selain minum kombuca, Syarif juga mula memperbaiki pola makan yang benar dan teratur.
Efek detoksifikasi
Menurut produsen di Kota Bandung, Jawa Barat, Arsenius Sutandio, manfaat lain kombuca untuk mendetoks racun dalam tubuh. Efek detoks yang beredar kurang menyenangkan seperti mulas dan diare. Arsenius Sutandio beserta keluarga mengonsumsi kombuca setiap hari sejak 2004. Ia tak mengalami gejala tak mengenakkan akibat detoks itu.
“Sehari saya minum minimal satu gelas. Itu saja sudah 250 ml. Tidak ada masalah. Kalau cuaca panas, sedang kerja, sehari bisa sampai 3 liter tapi tidak sering. Tidak merasakan ada efek samping,” kata Arsenius yang memproduksi kombuca sejak 2014. Begitu pula dengan Wijiasih yang disiplin menerapkan gaya hidup sehat di keluarganya.
Ibu tiga anak di Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, itu cukup selektif memilih bahan pangan sehari-hari seperti sayuran, buah, bumbu, daging, bahkan beras. “Pola makan saya dari bahan yang rata-rata sudah organik. Jadi, ya harus ditunjang juga dengan probiotik,” kata Wiji. Konsumsi probiotik salah satunya kombuca itu dapat menjaga pencernaan agar berfungsi dengan baik.
Bagi beberapa orang, konsumsi probiotik dapat menyebabkan rasa tak nyaman akibat proses detoksifikasi. Berkat kebiasaan mengonsumsi probiotik itu, Wijiasih tak mengalami efek detoks pascakonsumsi kombuca. “Saya konsumsi kefir, kombuca, dan yoghurt. Mungkin tidak terlalu merasakan proses detoks karena sudah terbiasa,” kata Wiji. Ia menyarankan bagi yang belum pernah mengonsumsi minuman probiotik sebaiknya memulai dengan dosis sedikit. Ketiga anaknya juga konsumsi kombuca dan tidak mengalami efek samping yang berarti.

Saat ini kombuca cukup dikenal luas dan banyak pilihan produknya. Menurut Arsenius pilihlah kombuca yang dominan rasa masam. “Rata-rata masyarakat Indonesia tidak suka masam. Kalau mau cari kombuca, carilah yang dominan masam, jangan yang manis. Kalau manis itu berarti gulanya masih banyak,” kata laki-laki kelahiran Bandung, 25 Maret 1974 itu.
Menurut Arsenius kandungan gula tinggi itu berisiko meningkatkan kadar gula darah. Tentu berbahaya bila dikonsumsi mereka yang memiliki riwayat diabetes melitus. Pemilik Indokombucha itu mengatakan, fermentasi 12—14 hari dapat menghasilkan kombuca berkadar gula sangat rendah. Kadar alkohol juga rendah kurang dari 1%. Berbeda dengan fermentasi 7 hari, kadar gulanya masih tinggi. Begitu pun kadar alkohol juga masih tinggi bisa lebih dari 1%.
Produsen di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, I Putu Adi, mengatakan, kombuca yang terfermentasi baik beraroma khas yakni perpaduan masam manis segar. Pemiliki Wiki Kombucha itu tak memungkiri bagi orang awam aroma fermentasi itu masih tak mengenakkan. Sebagai pembanding, fermentasi yang kurang berhasil biasanya menguarkan aroma tak sedap seperti ketiak basah.
Cara kedua dengan mengamati tampilan. Sejatinya kombuca yang berhasil tak bisa dibedakan berdasarkan bening atau keruhnya larutan. Ada bahan seperti jenis buah tertentu yang dapat menghasilkan larutan yang keruh. Namun, secara umum Adi mengatakan, “Dari fisik yang penting tidak tumbuh mold (cendawan).” Penampakan mold seperti cendawan yang tumbuh pada roti basi. Cara ketiga, coba cicip. Bila terasa nyaman di kerongkongan, bisa dibilang fermentasinya berhasil. (Sinta Herian Pawestri)
