Sunday, June 23, 2024

BRIN, Pertanian Presisi  untuk Atasi Cekaman Abiotik

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Pertanian presisi (precision farming) merupakan upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya untuk memeroleh hasil maksimal serta menekan dampak negatif terhadap lingkungan.

Kepala Organisasi Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari menuturkan cekaman kekeringan, salinitas, suhu ekstrem, dan kualitas tanah serta lahan yang berkurang berdampak pada hasil panen dan kualitas produk pertanian.

“Jika tidak dikelola dan diatasi secara tepat waktu dapat berpengaruh terhadap pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional,” tutur Puji dilansir dari laman BRIN.

Sejatinya banyak faktor yang memengaruhi hasil produksi pertanian. Kualitas varietas dan pemberian input salam proses produksi menjadi kunci untuk keberhasilan di bidang pertanian.

Menurut Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami pertanian presisi strategi inovatif untuk mengoptimalkan praktik pertanian berkelanjutan. 

Harapannya memberikan dampak signifikan untuk meningkatkan produktivitas maupun pengelolaan lahan secara efisien dan berkelanjutan.

Ia optimis dengan pemanfaatan teknologi modern seperti  global positioning system (GPS), citra satelit, dan beberapa sistem analisis data  terintegras itu dapat mengakselerasi pemanfaatan teknologi presisi pertanian.  Dwinita berharap hasil itu tidak hanya meningkatkan hasil panen, tapi juga mengefisiensikan penggunaan input seperti air, pupuk, dan pestisida.

Narasumber Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura BRIN, Markus menuturkan pertanian presisi strategi manajemen berbasis pertimbangan atau analisis merupakan data keragaman unsur spasial dan temporal pada lokasi target budidaya.

Hasil analisa yang diperoleh  menjadi informasi bentuk wilayah dan kondisi iklim untuk pengambilan keputusan manajemen dalam hal peningkatan efisiensi, produktivitas, kualitas, keuntungan, dan keberlanjutan produksi pertanian.

Salah satu kompenen penting dalam bertani yakni tanah. Markus menyampaikan tantangan untuk tanah dan pertanian itu seperti meningkatkan kuantitas dan kualitas produk pertanian, ketidakseimbangan unsur hara tanah, serta masalah degradasi lahan yang diakibatkan oleh budidaya.

Tantangan lain peningkatan serapan karbon dan menekan emisi gas rumah kaca serta perubahan iklim.

“Apakah kondisi tanaman kita itu syarat tumbuhnya berubah akibat perubahan iklim (pola dan besarnya perubahan curah hujan dan suhu) dan terakhir, perlu merevisi petunjuk teknis persyaratan tumbuh tanaman hortikultura yang sudah ada agar bisa digunakan pada era terjadi perubahan iklim,” uiar Markus.

Faktor pembatas lain seperti kekurangan hara, keracunan alumunium, salinitas atau keragaman, cekaman air, dan degradasi lahan berlereng. 

Professor in Soil Landscape Modelling School of Life and Environmental Sciences, The University of Sydney, Australia, Budiman Minasny, menyampaikan teknologi pertanian presisi antara lain seperti robot, citra satelit, drone, dan sensor tanah.

Hal itu berdasarkan manajemen tanaman spesifikasi lokasi. Perhatikan cara mengelola jenis tanah, kualitas input, kondisi iklim atau cuaca, benih dan pengelolaanya. Menurut Budiman penting mengetahui  penyebab variasi produksi dan perbaikan atau mengatasi kendala penyebab variasi itu.

“Pada penyajian lebih banyak menjadikan variasi hasil dari rendah ke tinggi disebabkan oleh variasi sifat tanah seperti perbedaan kandungan kadar pasir, liat, dan daya hantar listrik,” ujar Budiman.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kura-kura Hibrida Unik Bikin Harga Melejit

Trubus.id—Kura-kura hibrida redcata milik William Albert amat seronok, meski terlihat dari jauh. Warnanya yang terakota terang dan berpadu garis...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img