Penggerek pucuk tebu Scirpophaga excerptalis merupakan hama utama yang menyebabkan kerugian besar pada perkebunan tebu. Serangan hama ini dapat menurunkan produksi hingga 80% dan menurunkan kualitas nira tebu.
Tantangan utama dalam pengendalian hama ini adalah kecepatan larva dalam menginfestasi jaringan tanaman. Setelah menetas, larva neonate segera masuk ke pucuk tanaman, sehingga sulit dikendalikan.
Nurindah, Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, menekankan pentingnya peran musuh alami dalam pengendalian hama tebu. Ekosistem perkebunan tebu di Indonesia memiliki keanekaragaman musuh alami yang tinggi.
Beberapa musuh alami yang berperan dalam pengendalian ini antara lain parasitoid telur Telenomus spp., Trichogramma spp., Tetrastichus spp, dan parasitoid larva-pupa (Rhaconotus sp., Isotima sp., Stenobracon sp.). Predator dari kelompok semut juga memiliki peran strategis.
“Parasitoid telur Telenomus menunjukkan tingkat parasitisasi mencapai 72-100% di beberapa lokasi,” jelas Nurindah dilansir pada laman BRIN. Serangga parasitoid ini menyerang hama pada tahap awal siklus hidupnya.
Selain parasitoid telur, parasitoid larva seperti Isotima sp. juga memberikan tingkat parasitisasi hingga 50%. Predator semut memangsa telur dan larva neonate sebelum masuk ke dalam jaringan tanaman.
Untuk mengoptimalkan pengendalian hayati, petani perlu memahami interaksi antara tanaman, hama, dan musuh alami. Pengelolaan habitat yang baik dapat meningkatkan efektivitas agen hayati.
Varietas tebu tahan hama juga perlu dikembangkan sebagai solusi tambahan. Varietas ini memiliki karakteristik morfologi, biokimia, dan fisiologis yang mendukung ketahanan terhadap hama.
“Pemanfaatan musuh alami bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi merupakan strategi berkelanjutan dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT),” tegas Nurindah. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan efektivitas metode ini.
Integrasi antara pengelolaan habitat, pelepasan agen hayati, dan penerapan varietas tahan merupakan solusi yang saling melengkapi. Dengan strategi ini, produktivitas perkebunan tebu dapat tetap terjaga secara ramah lingkungan.
