Adenium langka satu-satunya terbesar di tanahair.
Adenium arabicum yang dipamerkan dalam situs jejaring sosial itu memikat hati Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh SH MH, kolektor di Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Adenium asal Arab Saudi itu tampil menawan dengan percabangan yang tertata apik dan kaudeks kekar berdiameter sekitar 60 cm. Yang istimewa, arabicum itu berbunga putih nan lebat. Lazimnya arabicum berbunga merah muda.
Menurut pehobi, juri lomba, dan pemain senior adenium di Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, Supriyanto, bunga arabicum jarang sekali berwarna putih. Umumnya bunga arabicum merah atau merah muda. Oleh sebab itu, arabicum berbunga putih tergolong langka di tanahair. “Itulah sebabnya layak menjadi salah satu koleksi bagi para pehobi adenium,” ujarnya.
Rajin berbunga
Keistimewaan itulah yang membuat Zudan rela merogoh kocek senilai sepeda gunung merek terkenal untuk memboyong arabicum itu dan dua arabicum berbunga putih lain berukuran lebih kecil ke rumahnya di Bekasi pada 2011. Ia mendapatkan sang raja gurun dari penghobi di Ponorogo, Tjandra Roni Widjaja.
Setelah menempuh perjalanan sejauh 670 km dalam waktu 14 jam menggunakan truk, arabicum itu akhirnya tiba di kediaman Zudan. Pejabat di Kementerian Dalam Negeri itu lalu meletakkan ketiga tanaman kerabat plumeria itu di lantai tiga rumah, persis di tepi balkon.
Di kediaman Zudan, arabicum berbunga putih rajin berbunga. “Hampir tiada hari tanpa bunga, meskipun sedang tanpa daun,” kata Zudan. Bunga paling lebat biasanya saat kemarau, yakni setiap Mei. Keistimewaan lain batangnya lebih lentur ketimbang arabicum biasa, walaupun tak selentur ra chinee pan dok (RCN). “Dengan begitu lebih mudah mengarahkan pertumbuhan cabang dan tak gampang patah,” tutur Zudan yang tidak pernah membawa arabicum istimewa itu ke ajang kontes. Karakter lainnya permukaan bonggol mulus, tak seperti arabicum biasa yang banyak benjolan.
Ukuran batang, bunga, dan bonggolnya sama dengan arabicum berbunga merah muda. Karakter khas arabicum seperti daun yang berbulu juga melekat pada arabicum bunga putih. Impian Zudan untuk mengoleksi arabicum berbunga putih sejatinya terbersit sejak 2007. “Ketika itu saya mendengar kabar kalau ada arabicum berbunga putih,” katanya. Zudan tertarik mengoleksi karena ketiga tanaman asal Ponorogo itu satu–satunya arabicum berbunga putih dengan ukuran terbesar.
Sulit diperbanyak
Menurut Tjandra Rony Widjadja, hingga saat ini belum diketahui pasti nama jenis dan varietas induk arabicum berbunga putih itu. Ia mendatangkan biji tanaman kerabat bintaro itu pada 2007 melalui seorang kerabat yang bekerja di Kerajaan Arab Saudi. Dari 1.600 biji hanya lima tanaman yang berhasil tumbuh hingga besar. Tiga di antaranya kini dimiliki Zudan. “Itu arabicum bunga putih terbesar yang pernah ada. Di Thailand saja sulit menemukan arabicum putih, apalagi yang sebesar itu,” tutur Tjandra.
Penelusuran Trubus kepada pemain adenium di Thailand Anant Kulchaiwatna, arabicum bunga putih langka di Thailand. Anant mengoleksi tanaman asal sambungan. Pemain adenium di Tangerang, Provinsi Banten, Handhi, bercerita seorang pemain di Thailand, Khun Prapat, memiliki arabicum berbunga putih. Prapat kemudian menempelkan arabicum bunga putih ke arabicum biasa berdiameter bonggol 40 cm. Itulah yang Handi boyong ke tanahair pada 2004.
Di tanahair tanaman itu sekali menghasilkan buah pada 2005. Dari satu buah Handhi mendapat 50 biji yang kemudian ia semai. Semua biji tumbuh menjadi tanaman yang sehat. Pada umur dua tahun tanaman belajar berbunga. Sayang ujicoba mengawinkan bunga berikutnya selalu gagal menghasilkan buah.
Itu juga yang dialami Zudan. Berdasarkan pengalamannya, arabicum bunga putih selalu menghasilkan buah dengan biji hampa sehingga tidak dapat diperbanyak dalam jumlah massal. Satu-satunya cara untuk memperbanyak hanya dengan setek batang. Hingga kini Zudan baru mampu menghasilkan 11 anakan arabicum bunga putih. Handhi juga kini memperbanyak menggunakan setek batang.
Dosen genetika tanaman di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Farida Damayanti, menduga arabicum bunga putih sulit menghasilkan buah karena adanya hybrid inviability atau ketidakmampuan tanaman hasil persilangan untuk menghasilkan keturunan. Kejadian itu biasanya terjadi pada hasil persilangan interspesifik atau antarspesies berbeda, atau intergenerik (antargenus berbeda). Perbedaan itulah yang menyebabkan ketidakcocokan saat proses pembentukan pasangan kromosom selama proses pembelahan meiosis pada tanaman hibrida.
Farida menuturkan agar arabicum mampu berbiji sempurna mesti diketahui penyebab terjadinya kegagalan dalam pembentukan biji. Setelah diketahui, langkah selanjutnya adalah melakukan modifikasi dalam penyerbukan atau pembuahannya. Apabila penyebab itu belum diketahui, maka perkembangbiakan secara generatif dengan biji mustahil dilakukan. Pantas meski sudah enam tahun hadir di tanahair keberadaan arabicum bunga putih masih langka di kalangan para pehobi. Maka bagi Zudan mawar gurun itu begitu istimewa. (Nurul Aldha Mauliddina Siregar/Peliput: Riefza Vebriansyah)
