
TRUBUS — Konsumsi yoghurt terbukti membantu mengatasi serangan virus korona. Minuman itu dapat memperbaiki pencernaan dan menunjang daya tahan tubuh.
Satu bulan sebelum Idul Adha, Maulana Iskandar merasa tak enak badan. Ia yang terbiasa beraktivitas di kandang itu tiba-tiba lunglai. Tenaganya seolah menghilang. Sekujur badan pun pegal. Setelah memeriksakan diri, ternyata Maulana terinfeksi virus korona. Menjelang hari raya kurban, peternak kambing dan sapi itu memang cukup sibuk menyediakan ternak kurban.
Meski telah menerapkan prosedur kesehatan seperti selalu menggunakan masker, kerap membersihkan tangan, serta menjaga jarak, imunitas Maulana tengah turun. Warga Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu teringat yoghurt dan langsung mengonsumsinya. Laki-laki berusia 34 tahun itu meminum setidaknya dua gelas yoghurt setara sekitar 400 ml per hari. Maulana memproduksi sendiri yoghurt berbahan susu kambing.
Jaga pencernaan

Berselang tiga hari, Maulana merasakan tenaga pulih kembali. Ia mulai bisa beraktivitas. “Hari keempat saya sudah bisa memerah susu, mengarit, dan jalan-jalan,” kata Maulana. Namun, ia tak dapat mendeteksi aroma dan rasa alias mengalami anosmia. Ia tidak dapat menikmati aroma dan rasa masam khas yoghurt. Sepuluh hari kemudian, ia benar-benar pulih dan dinyatakan negatif Covid-19.
Maulana merasa beruntung lantaran hanya mengalami gejala ringan. Ia bisa bernapas dengan baik dan tidur nyenyak. Peternak itu sengaja memperbanyak konsumsi yoghurt hingga empat gelas sehari agar bisa tidur dengan baik. Peternak kambing dan sapi sejak 2003 itu juga mengonsumsi makanan cukup nutrisi dan menyehatkan serta suplemen vitamin. Berkat itu semua, ia bisa pulih lebih cepat.
Menjaga pencernaan agar berfungsi dengan baik amat penting dalam mempertahankan sistem imun. Menurut ahli naturopati di Jakarta Barat, Joshua Sujono Lie, N.D., B.H.Sc. (CompMed), sistem pencernaan adalah takhta bagi kesehatan secara keseluruhan. “Sistem pencernaan yang sehat dan baik tentu saja tubuh kita akan menjadi lebih baik juga,” kata Bachelor of Health Science alumnus Charles Sturt University, Sydney, Australia, itu.
Konsumsi probiotik dalam jumlah yang cukup dapat menjaga flora usus tetap seimbang sehingga sistem pencernaan berjalan dengan baik. Bila pencernaan terjaga baik, sistem imun turut meningkat dan tubuh tetap sehat. Yoghurt mengandung bakteri baik Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Joshua menuturkan, “Di dalam sistem pencernaan, terutama usus, terdapat 80% sel-sel imun.” Oleh karena itu, pencernaan yang terjaga dengan baik dapat menjadi benteng pertahanan tubuh dari infeksi virus, bakteri, atau parasit.
Hal itu dialami anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), Sulardi. Pekerjaan yang menuntutnya siap sedia hampir 24 jam membuat Sulardi mesti menjaga imunitas dengan baik. Begitu muncul gejala tidak enak badan seperti demam atau pilek, laki-laki berpangkat Sersan Kepala (Serka) itu langsung mengonsumsi yoghurt lantaran rekomendasi seorang rekan.

Sulardi dapat istirahat dengan baik dan badannya kembali bugar. Padahal, sebelumnya ia tak pernah mau mengonsumsi produk fermentasi berbahan susu kambing itu. Harap mafhum ia belum terbiasa dengan aroma khas kambing dan rasa asam hasil fermentasi. Setelah mencoba konsumsi pada awal 2021, Sulardi tak pernah absen minum yoghurt.
Cegah mag kambuh
Sejatinya khasiat yoghurt bukan sekadar untuk pasien korona seperti Maulana. Feriyanto jutsru merasakan khasiatnya untuk mengatasi penyakit mag. Laki laki kelahiran Kota Padang, Sumatra Barat, 27 Februari 1978 itu mengatakan, “Sebelum 2010, saya bergantung pada obat antimag. Sehabis minum obat antimag, beberapa saat kambuh lagi, kembung.”
Ia khawatir ketergantungan obat antimag bila itu terus berulang. Seorang teman menyarankannya mengonsumsi yoghurt. Setelah mencoba, Feri perlahan dapat mengurangi konsumsi obat antimag. Bahkan kini ia tak lagi mengonsumsinya. Meski jarang kambuh, warga Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tetap menjaga pola makan dengan menghindari pemicu mag salah satunya makanan pedas.
Selain terhindar dari mag, Feri merasakan manfaat lain yakni buang air besar menjadi lebih lancar dan teratur. Sehari ia bisa menghabiskan segelas yoghurt hasil bikinan sendiri dari susu kambing. Demikian pula dengan salah satu warga Kota Bogor, Jawa Barat, Esti Utami. Perempuan berusia 39 tahun itu mengalami gangguan mag saat hamil anak pertama pada 2008.
“Asam lambungnya naik jadi terasa perih setiap saat. Sudah makan apa pun tapi selalu perih,” kata Esti. Obat dari dokter pun tak mempan. Beberapa jam setelah konsumsi obat antimag, perutnya kembali perih. Hingga suatu ketika Esti membaca ulasan sebuah media bahwa yoghurt membantu mengatasi asam lambung walau memiliki rasa masam. Itulah awal mula ia mengonsumsi yoghurt.
Setelah rutin mengonsumsi Esti tak lagi mengeluhkan perih pada lambung. Kebiasaan konsumsi yoghurt masih terbawa hingga kini ia memiliki tiga putra. Bagi penderita gangguan mag, Joshua menyarankan untuk mengukur kemampuan tubuh sebelum mengonsumsi probiotik seperti yoghurt. “Setiap orang memiliki sensitivitas berbeda. Ada yang masih bisa toleransi makan yoghurt,” kata laki-laki kelahiran kota Medan, 42 tahun lalu itu. Jumlah asupan yang disarankan 100—200 ml per hari.
Namun, ada pula yang memiliki lambung cukup sensitif sehingga perlu berhati-hati sebelum konsumsi. “Kalau ingin mencoba yoghurt, cobalah dengan porsi sedikit. Coba saja dulu satu sendok makan kira-kira 15 ml,” kata Joshua. Bila setelah coba satu sendok makan lambung terasa nyaman, boleh tambah asupan menjadi dua sendok, dan seterusnya hingga mencapai jumlah asupan normal.
Bijak pilih bahan
Selain itu, Joshua juga mewanti-wanti orang yang memiliki alergi susu sapi atau kambing dan olahannya saat mengonsumsi yoghurt. Kondisi itu diakibatkan adanya gangguan sistem kekebalan tubuh yang menganggap kandungan protein dalam susu sebagai zat berbahaya. Joshua menyarankan mereka menggantinya dengan yoghurt selain dari susu sapi atau kambing yakni dari bahan baku nabati.

Ia mencontohkan yoghurt berbahan almon Prunus dulcis, biji mete Anacardium occidentale, kedelai Glycine max, atau daging buah kelapa Cocos nucifera. Tak hanya bahan baku, konsumen sebaiknya juga memperhatikan bahan tambahan saat konsumsi yoghurt. “Konsumsi yoghurt biasanya saya campur kurma, berupa jus atau irisan,” kata Maulana. Selain kurma, ia juga kerap menambahkan potongan buah stroberi.
Joshua merekomendasikan yoghurt bebas gula yang tidak melalui proses pemanisan untuk orang dengan gangguan gula darah atau diabetes. Namun, tak jarang rasa hambar itu mendorong mereka ingin menambahkan cita rasa lain. Menurut Joshua penambahan potongan buah pilihan yang baik. Meski rasanya manis, buah biasanya memiliki indeks glikemik rendah sehingga aman untuk gula darah.
“Tambahan zat yang banyak mengandung fiber dan protein juga bagus seperti biji-bijian dan kacang-kacangan,” kata Joshua. Misalnya potongan mete, almon, biji bunga matahari, dan biji cia Salvia hispanica. Menaburkan granola juga baik asal tidak berlebihan.
Atasi sembelit
Manfaat probiotik dalam yoghurt turut dirasakan Masayu Nurul Atika. Perempuan yang akrab disapa Tika itu gundah tatkala putri keduanya yang menginjak umur satu tahun, Nuna mengalami konstipasi. Kala itu putrinya sedang beralih dari makanan pendamping air susu ibu (MPASI) menuju makanan keluarga. “Yang saya bingung waktu itu, dia konsumsi buah cukup baik. Sayur juga mau. Artinya asupan serat baik. Dia tergolong pemakan buah dan sayur,” kata Tika mengenang.
Putrinya paling gemar makan sayuran seperti wortel, jagung, brokoli, dan buncis. Adapun buah yang ia senangi yakni buah naga, semangka, pepaya, dan apel. Tika pun membawa Nuna ke dokter karena masih sembelit hingga berhari-hari. Adapun dokter memberikan probiotik bubuk yang bisa dicampurkan pada makanan atau minuman sang anak. Setelah itu, putrinya bisa buang air besar dengan lancar.
Konsumsi probiotik bubuk itu hanya berlangsung beberapa hari. Perempuan berusia 42 tahun itu teringat salah satu sumber probiotik adalah yoghurt. Menurut Tika konsumsi probiotik dari yoghurt lebih menyenangkan dan terasa enak bagi Nuna daripada probiotik bubuk. Tika bisa sambil mengenalkan beragam rasa dan warna melalui yoghurt.
“Pertama dia suka dan tujuanku tercapai untuk memenuhi asupan probiotik untuk ususnya. Dia tidak mengalami sembelit lagi,” kata Tika. Menurut Tika konsumsi buah dan sayur selama ini hanya untuk mencukupi kebutuhan prebiotik—makanan bakteri baik/probiotik. Sementara itu, tubuh tetap perlu asupan probiotik salah satunya dari produk fermentasi seperti yoghurt.

Tika juga tak menyangka rutin konsumsi yoghurt turut mendongkrak daya tahan tubuh Nuna. Musababnya putrinya yang kini berusia hampir empat tahun itu jarang sakit. Sebelum rutin konsumsi probiotik, Nuna mudah sakit terutama bila ada orang di sekitarnya yang sakit. Adapun hal baik lainnya yakni nafsu makan Nuna turut meningkat.
Joshua membenarkan probiotik dalam yoghurt turut membantu proses detoksifikasi. Konsumsi probiotik dapat mendukung fungsi pencernaan agar mencerna lebih baik. Dengan demikian eliminasi kotoran dari dalam tubuh juga berjalan lancar termasuk buang air besar (BAB). Joshua mengatakan, “Banyak orang yang konstipasi akhirnya BAB lebih lancar sehingga toksin bisa dibuang lebih baik dan tidak menumpuk di dalam tubuh.”
Bahkan, beberapa riset menunjukkan bukti bahwa konsumsi yoghurt dapat membantu menurunkan berat badan. Namun Joshua menekankan tentu saja konsumsi itu harus diseimbangkan dengan pola makan yang sehat dan berimbang serta berolahraga. Konsumsi yoghurt dan bahan tambahan seperti buah, biji-bijian, atau kacang-kacangan dapat menjadi kudapan sore yang cukup mengenyangkan. Itu bisa mendorong kita makan secukupnya saat makan malam. (Sinta Herian Pawestri)
