Wednesday, February 18, 2026

Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi Menjadi Biopelet

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Limbah kulit kopi dari hasil pengolahan kopi dari biji menjadi serbuk (bubuk) jarang dimanfaatkan. Berkembangnya produksi kopi membuat jumlah limbah semakin banyak dan menjadi masalah. Solusi mengatasi permasalahan itu dengan mengolah limbah kopi menjadi sumber bahan bakar alternatif terbarukan berupa biopelet.

Solusi itu ditawarkan oleh Dr. Ir. Soni Sisbudi Harsono, M.Eng. M.Phil., dosen dan peneliti dari Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Soni meriset pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi biopelet.

Menurutnya, hasil risetnya bisa dijadikan salah satu solusi mengatasi dampak buruk limbah kulit kopi bagi lingkungan. Kulit kopi bersifat asam sehingga dalam jumlah banyak tidak bagus bagi kondisi tanah dan air.

Biasanya, petani menumpuk limbah kulit kopi di pojokan kebun atau di tepi aliran sungai. Sementara itu, mengolah kulit kopi menjadi pupuk perlu waktu 3–4 bulan, baru limbah kulit kopi bisa diolah menjadi pupuk.

“Jadi, bayangkan jika limbah kulit kopi dalam jumlah banyak berada di satu lokasi dalam jangka lama, maka akan mengganggu ekosistem di wilayah tersebut. Belum lagi dengan polusi bau busuk sangat mengganggu warga, bahkan bisa mengganggu kesehatan,” jelas Soni, dikutip dari laman Universitas Jember.

Selain itu, pemanfaatan limbah kulit kopi bertujuan mendorong kemandirian masyarakat atau petani dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar. Hal ini mengingat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang baru-baru ini mengalami kenaikan.

Pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi biopelet sebagai bahan bakar alternatif terbarukan dipilih karena proses pembuatannya mudah dan murah. Kulit kopi dijemur hingga kadar airnya berkurang menjadi 12%.

Kulit kopi yang sudah kering kemudian ditumbuk dan dihaluskan hingga mirip seperti tepung. Lalu siapkan tepung tapioka yang sudah dilarutkan dengan air secukupnya untuk dibuat sebagai lem kanji. Aduk semua bahan-bahan tadi hingga merata.

Komposisi ideal, tepung kulit kopi 90% ditambah 10% lem kanji. Jika bahan sudah siap, masukkan ke alat pencetak biopelet hingga menghasilkan bahan bakar briket berbentuk silinder kecil.

Biopelet masih perlu penjemuran di ruang terbuka dengan memanfaatkan panas matahari selama kurang lebih dua hari hingga benar-benar kering. Jika sudah benar-benar kering, biopelet siap digunakan. Keuntungan lain, biopelet mudah disimpan dan tahan lama selama penyimpanannya sesuai aturan.

Untuk menghasilkan satu kilogram biopelet, hanya memerlukan biaya produksi dua ribu lima ratus rupiah. Setiap satu kilogram biopelet bisa untuk memasak nasi satu kilogram, atau memasak air dan masak lauk pauk selama delapan jam.

Berdasarkan hasil hitung-hitungan yang dilakukan Soni, pemakaian biopelet ini akan ada penghematan 25% daripada menggunakan kompor dengan sumber BBM berupa LPG. Cara pemakaian pun mudah, seperti menggunakan arang sebagai bahan bakarnya.

Menurut Soni, selain menggunakan limbah kulit kopi, pembuatan biopelet dapat memakai limbah organik lain seperti daun dan batang tanaman yang banyak tersedia di pedesaan.

“Potensi biopelet sebagai bahan bakar alternatif ini terbuka lebar mengingat bahannya berlimpah di desa. Kedua, membantu mewujudkan desa mandiri energi sehingga membantu kesejahteraan masyarakat desa,” jelasnya.

Artikel Terbaru

Bonus Demografi dan Urbanisasi Ubah Pola Konsumsi Pangan Nasional

Dinamika kependudukan Indonesia membawa dampak besar terhadap pola permintaan dan konsumsi pangan nasional. Perubahan struktur umur, laju urbanisasi, hingga...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img