Trubus.id — Sapi pogasi atau lengkapnya pogasi agrinak merupakan jenis sapi pedaging baru hasil pemuliaan periset di Loka Penelitian Sapi Potong (Lolitsapi) di Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sapi pogasi memiliki beberapa kelebihan.
Pogasi akronim dari peranakan ongole grati hasil seleksi. Dr. Ir. Aryogi, M.P., dan rekan meriset pedaging unggul itu selama 16 tahun. Mereka memanfaatkan sapi PO dari berbagai wilayah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.
Aryogi menyeleksi sapi-sapi itu dalam kurun empat generasi (F4). Harap mafhum, sapi-sapi tersebut mengalami pencampuran genetik dengan sapi lain. Seleksi merupakan upaya menghilangkan genetik selain PO. Pemuliaan itulah yang “melahirkan” sapi baru bernama pogasi agrinak.
Kelebihan sapi pogasi di antaranya, seekor sapi pogasi pada umur 3,5 tahun bisa mencapai bobot 800–900 kilogram, padahal lazimnya sapi dengan umur yang sama rata-rata hanya berbobot 600–700 kilogram.
Adapun tinggi sapi pogasi berumur 2 tahun sekitar 135–160 cm, sedangkan sapi peranakan ongole atau PO hanya 130 cm. Sapi baru itu terbukti bongsor atau besar dan gemuk dibanding sapi seusianya.
Selain bongsor, pogasi juga efisien pakan. Sapi pogasi hanya memerlukan 3 gram protein untuk menghasilkan 6 gram daging. Bandingkan dengan sapi PO yang menghabiskan 10 gram protein untuk menghasilkan daging yang sama.
Nilai feed convertion ratio (FCR) sapi pogasi jantan berumur 18–24 bulan rata-rata 15 pada kandungan protein kasar ransum 12%. Jika kandungan protein kasar 10%, nilai FCR menjadi 17.
Nilai FCR 15 berarti setiap konsumsi 15 kilogram bahan kering ransum, bobot sapi bertambah 1 kilogram per hari per ekor. Nilai itu jauh lebih baik dibanding FCR sapi PO yang lebih dari 18.
Sapi pogasi sangat adaptif dengan berbagai jenis pakan. Menurut Aryogi, perawatan sapi pogasi mudah. Ia mencontohkan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sapi pogasi mampu bertahan hidup dan berkembang biak di atas bebatuan karang.
Keunggulan lain sapi pogasi memiliki kualitas daging yang tidak kalah dengan sapi-sapi impor.
“Karena pakannya natural, jadi dagingnya lebih kesat, empuk, gurih, dan rasa dagingnya lebih terasa daripada sapi-sapi lain seperti simental dan limousin,” tutur Aryogi.
Adapun sifat bongsor sapi pogasi itu muncul sejak awal. Bobot lahir sapi pogasi rata-rata 26–28 kilogram per ekor. Adapun sapi PO paling tinggi 23 kilogram.
Muhammad Ali, peternak di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, takjub saat kedua induk melahirkan pedet atau anak sapi pada November 2021. Bobot kedua pedet betina itu masing-masing 29,3 kilogram dan 27 kilogram. Bobot lahir mereka melebihi bobot lahir Standar Nasional Indonesia (SNI) atau 18 kilogram.
