Wednesday, January 21, 2026

Aksi Yayasan Bina Trubus Swadaya (YBTS) untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatra

Rekomendasi
- Advertisement -

Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumatra pada akhir 2025 bukan sekadar angka curah hujan di laporan cuaca. Di lapangan, hujan berubah menjadi banjir bandang dan longsor. Dampaknya desa-desa porak-poranda dan terisolasi sehingga memutus akses pangan, air bersih, hingga layanan kesehatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat berdampak pada lebih dari 3 juta jiwa, ratusan ribu rumah rusak, dan lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi.

Di tengah situasi itu, Yayasan Bina Trubus Swadaya (YBTS) yang menaungi Majalah Trubus memilih tidak menunggu keadaan sepenuhnya pulih. YBTS bekerja sama dengan Yayasan Pusaka Indonesia, JEMARI Sakato, dan Forum Konservasi Leuser (FKL) untuk menyalurkan bantuan ke beberapa wilayah terdampak bencana. YBTS dan Yayasan Pusaka Indonesia mendistribusikan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir bandang dan longsor di Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara. Kedua wilayah itu berada di Provinsi Sumatra Utara.

Kolaborasi

Tim dari Universitas Sumatera Utara (USU) melalui USU Peduli juga bergabung saat pemberian bantuan pada 16 Desember 2025 itu. Jenis bantuan yang diberikan berupa makanan (food item, FI) seperti beras, ikan kaleng, ikan kering/asin, dan makanan anak. Bantuan juga berupa nonmakanan (nonfood item, NFI) meliputi selimut, sarung, tikar, dan handuk. Bantuan diserahkan melalui kepala desa, tokoh masyarakat, dan lembaga keagamaan agar tepat sasaran dan cepat dibagikan.

Tidak hanya di Sumatera Utara, YBTS dan JEMARI Sakato juga menyalurkan bantuan kepada pengungsi di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia (induk), Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Tepatnya di Posko Pengungsian SD Negeri 05 Kayu Pasak yang dihuni 282 pengungsi atau 107 kepala keluarga (KK). Setelah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Pemerintah Nagari Salareh Aia (induk), diketahui bahwa kebutuhan pangan salah satu kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi.

Oleh karena itu, YBTS dan JEMARI Sakato mendistribusikan bantuan FI berupa paket sembako yang berisi antara lain beras, ikan kaleng, telur ayam, bumbu masak, dan minyak goreng. Warga dan pemerintah nagari menyambut baik bantuan dari YBTS dan JEMARI Sakato yang diselenggarakan pada 27 Desember 2025 itu. Harap mafhum paket sembako memberikan manfaat langsung untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan pengungsi.

Sementara bantuan YBTS kepada pengungsi di Provinsi Aceh bekerja sama dengan FKL. Khusus untuk Aceh, YBTS bersama Yayasan Pusaka Indonesia dan FKL akan memberikan bantuan lanjutan pada 2026. Sumber dana dari lembaga donor internasional asal Belanda, Cordaid. “Proposal sudah disetujui. Mereka sedang menyusun dokumen kontraknya,” kata perwakilan YBTS, Agung Prasetio, yang menghubungi lembaga donor yang berdiri pada 1999 itu. Bantuan dari Cordaid khusus untuk Aceh karena provinsi itu memang meminta bantuan secara terbuka. Rencananya bantuan dari Cordaid berlangsung selama 6 bulan.

Menurut Agung, kolaborasi YBTS bersama Yayasan Pusaka Indonesia, JEMARI Sakato, dan FKL merupakan pendekatan kolaboratif yang penting agar bantuan tidak tumpang tindih. Kolaborasi itu memungkinkan distribusi berjalan efektif, meski medan sulit dan cuaca masih labil. Bagi YBTS, bantuan kemanusiaan bukan hanya soal jumlah beras atau selimut yang dibagikan. Kehadiran langsung di lokasi bencana juga menjadi bentuk dukungan psikologis bagi penyintas.

YBTS berharap bantuan yang disalurkan dapat meringankan beban warga dan menjadi jembatan sebelum fase pemulihan jangka panjang dimulai. Bencana boleh datang tiba-tiba, tetapi solidaritas harus datang lebih cepat dan bertahan lebih lama. Di tengah hujan yang belum sepenuhnya reda, langkah-langkah kecil seperti inilah yang menjaga harapan tetap menyala di desa-desa Sumatra.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img