Trubus.id—Petani di Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Nangroe Aceh Darussalam, Syamsuddin Nugraha menerapkan fertigasi cabai. Semula hasil panen cabai rawit di kebun Syamsuddin hanya 1,5 kg per tanaman. Setelah menerapkan fertigasi produksi meningkat menjadi 3—4 kg per tanaman.
Syamsuddin menanam cabai rawit di lahan 1 hektare berpopulasi 12.000 tanaman. Tanaman mendapatkan larutan pupuk dari spaghetti cube yang menancap di dekat perakaran. Petani 49 tahun itu mengatakan, frekuensi pemberian air dan nutrisi 2 kali sehari pada pukul 07.00 dan 15.00. Durasi pemberian 30 menit. Saat fase vegetatif 28—40 hari.
Syamsuddin memberikan pupuk tinggi nitrogen. Sementara saat tanaman memasuki fase generatif atau umur di atas 40 hari, ia memberikan pupuk tinggi fosfor dan kalium. Petani cabai sejak 2015 itu melarutkan 850 kg pupuk dalam sebuah drum plastik berkapasitas 500 liter.
Kemudian ia memasukkan larutan itu ke tandon dan mengalirkan nutrisi melalui pompa listrik. Tanaman magori atau berbuah perdana pada umur 60 hari. Setiap tanaman menghasilkan 500-1.000 buah cabai rawit.
Bobot cabai rawit yang berbentuk silindris sepanjang 4—6 cm dan berdiameter 0,8 itu mencapai 2—3 g per buah, setara 4 kg per tanaman.
Menurut dosen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr I. Anas D. Susila, M.Si, sistem fertigasi cabai solusi untuk kebun yang pasokan airnya terbatas. Sistem pengairan itu juga lebih praktis sehingga dapat meringankan kerja pekebun untuk menyiram.
Pemupukan melalui fertigasi yang tepat dan sesuai dengan kemampuan tanah memasok hara tanaman sangat diperlukan. “Hal ini akan mempermudah petani mengadopsi teknologi fertigasi melalui irigasi tetes,” ujar Susila.
