Trubus.id-Sinta dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Seroja di Desa Lubuk Cuik mengembangkan olahan cabai. Kelompok beranggotakan 16 perempuan itu memproduksi beragam sambal botol, bubuk cabai, dan camilan pedas.
Produk mereka meliputi sambal andaliman, sambal teri, hingga snack seperti basreng, emping pedas, dan pentol bumbu cabai. Harga produk bervariasi dari Rp10.000 hingga Rp50.000 per kemasan tergantung jenis dan ukuran.
Pasokan cabai berasal dari kebun milik Sinta seluas satu hektare dan petani sekitar. “Kalau harga sedang rendah, kami tampung cabai agar tidak terbuang sia-sia,” ujarnya.
Hampir seluruh warga Desa Lubuk Cuik menggantungkan hidup dari lahan cabai seluas 10–20 rante. Dari lahan pribadinya, Sinta mampu memanen hingga dua ton cabai segar dua kali seminggu.
Omzet pribadi Sinta dari olahan cabai mencapai Rp4 juta—Rp5 juta per bulan. Jika dihitung bersama kelompok, totalnya jauh lebih besar karena banyaknya jenis produk yang dihasilkan.
Permintaan bubuk cabai dari luar negeri pun mulai berdatangan, termasuk dari Australia dan Singapura. “Waktu itu kami belum sanggup memenuhi karena kapasitas masih terbatas,” tuturnya.
Menurut Prof. Dr. Tommy Perdana, pakar agribisnis dari Universitas Padjadjaran, pengolahan cabai menjadi solusi saat panen raya dan pasokan berlimpah. Selain meningkatkan nilai tambah, langkah itu juga menekan kerugian petani akibat harga fluktuatif.
