Wereng batang cokelat menjadi salah satu ancaman serius bagi produksi padi di Indonesia. Serangan hama tersebut tidak hanya merusak tanaman secara langsung, tetapi juga dapat menyebarkan penyakit virus yang berpotensi menurunkan hasil panen.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, mengatakan pengendalian wereng batang cokelat perlu dilakukan secara terpadu, bukan hanya mengandalkan pestisida. Hal itu disampaikan dalam Workshop Pengendalian Hama Wereng Batang Cokelat secara Terpadu di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kamis (6/8).
Wereng batang cokelat merupakan salah satu hama utama tanaman padi sekaligus vektor penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa. Serangan berat dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, daun menguning dan layu, hingga mengalami hopperburn atau mati kering.
Melansir pada laman BRIN, menurut Arlyna, kehilangan hasil akibat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) rata-rata mencapai sekitar 30% dari potensi produksi. Khusus serangan hama, kehilangan hasil berkisar 20–25%.
Serangan wereng batang cokelat bahkan pernah melanda ratusan ribu hektare lahan padi di Indonesia. Pada kondisi tersebut, kehilangan produksi dapat mencapai 1–2 ton gabah per hektare dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah.
Perkembangan populasi wereng dipengaruhi berbagai faktor. Di antaranya berkurangnya penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penanaman padi secara terus-menerus, penggunaan pestisida yang tidak tepat, pemilihan varietas yang kurang sesuai, serta menurunnya populasi musuh alami akibat terganggunya keseimbangan ekosistem.
Penggunaan insektisida secara berlebihan juga dapat memicu resistensi wereng batang cokelat. Akibatnya, efektivitas pestisida dalam mengendalikan hama semakin menurun.
Pola tanam yang tidak serempak turut memperparah kondisi tersebut karena membuat sumber makanan bagi wereng selalu tersedia. Populasi hama pun dapat terus berkembang dari satu pertanaman ke pertanaman berikutnya.
BRIN mendorong penerapan sejumlah strategi pengendalian secara terpadu. Strategi tersebut meliputi tanam serempak, rotasi tanaman, penggunaan varietas tahan wereng, pemantauan populasi secara berkala, serta pemanfaatan agensia hayati seperti Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana sejak dini.
Insektisida kimia, lanjut Arlyna, sebaiknya digunakan sebagai pilihan terakhir ketika populasi wereng telah melampaui ambang ekonomi. Dengan demikian, pengendalian hama tidak hanya bergantung pada bahan kimia, tetapi juga memanfaatkan berbagai metode yang saling melengkapi.
Waktu pengendalian menjadi salah satu faktor penting. Pemantauan populasi melalui lampu perangkap dan pengamatan langsung di lahan perlu dilakukan secara berkala agar tindakan pengendalian dapat dilakukan sejak awal sebelum populasi wereng berkembang ke generasi berikutnya.
Selain pengendalian populasi, pemilihan varietas tahan juga dapat membantu menekan risiko serangan. BRIN merekomendasikan sejumlah varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap wereng batang cokelat, antara lain Inpari 47 WBC, Inpari Gemah, Inpari 48 Blas, Inpari Digdaya, dan Inpari 45 Dirgahayu.
Penggunaan varietas tahan diharapkan dapat mengurangi risiko serangan sekaligus menekan ketergantungan petani terhadap insektisida kimia. Strategi tersebut perlu dipadukan dengan pengelolaan ekosistem dan pemantauan hama secara rutin.
Dalam kegiatan tersebut, BRIN juga menyosialisasikan YUKE-WBC (Program Komputer Pengidentifikasi Wereng Batang Cokelat). Teknologi hasil riset tim tersebut dikembangkan sebagai alat bantu untuk mengidentifikasi wereng batang cokelat dan telah didaftarkan sebagai hak cipta.
Pengembangan teknologi identifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengendalian hama berbasis teknologi. Dengan deteksi yang lebih dini, petani diharapkan dapat menentukan tindakan pengendalian secara lebih tepat sebelum populasi wereng berkembang dan menyebabkan kerusakan tanaman.
