Galur Padi Multitoleran

Rekomendasi
- Advertisement -

Banjir, kekeringan, hingga tingginya kadar garam di wilayah pesisir menjadi tantangan dalam budidaya padi. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi halangan untuk terus memproduksi tanaman pangan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan galur padi multitoleran yang adaptif menghadapi berbagai cekaman lingkungan.

Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, mengatakan pengembangan galur multitoleran dilakukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Saat ini, pengujian galur dilakukan di daerah pesisir Indramayu, Jawa Barat. Galur-galur yang masuk dalam uji lokasi merupakan galur terseleksi yang sebelumnya telah diuji secara simultan untuk mengetahui toleransinya terhadap kekeringan, salinitas, dan rendaman.

“Galur-galur yang masuk ke dalam uji model lokasi ini adalah galur-galur yang sudah terseleksi, diuji secara simultan, baik itu toleransi keringannya, kemudian toleransi salinitasnya, dan toleransi rendamannya,” ujar Yudhistira.

Pada 2026, pengujian mulai mengerucut pada 10 galur yang kemudian diuji di lokasi. Pengujian tersebut diharapkan menghasilkan kandidat galur padi yang memiliki toleransi terhadap salinitas.

Berdasarkan hasil uji coba di lapangan pada fase vegetatif maupun pengujian di rumah kaca, galur multitoleran menunjukkan hasil positif. Tanaman mampu menghadapi rendaman air, cekaman salinitas, hingga kekeringan.

Dari sisi produktivitas, hasil panen juga telah memenuhi target, yakni mencapai 8—10 ton per hektare pada kondisi lokasi normal. Mutu beras yang dihasilkan juga dinilai baik dengan karakter nasi yang pulen.

Galur yang toleran terhadap rendaman mampu bertahan selama 10—14 hari pada fase vegetatif. Sementara pengujian terhadap cekaman salinitas dilakukan di lapangan maupun rumah kaca.

“Jadi lebih tinggi di lapang, tetapi sebenarnya kalau di lapang itu dinamis,” kata Yudhistira.

Pengujian toleransi terhadap kekeringan juga dilakukan pada kondisi ketersediaan air sekitar 10—20% di bawah kapasitas lapang. Selain pengujian lapangan, pengujian di rumah kaca dilakukan untuk melihat respons tanaman secara lebih terkontrol.

Seleksi simultan terus dilakukan untuk menghasilkan galur padi yang mampu bertahan terhadap beberapa tekanan lingkungan. Langkah tersebut penting karena dalam satu musim tanam tanaman padi dapat menghadapi berbagai cekaman secara bersamaan.

Menurut Yudhistira, pengembangan padi multitoleran diharapkan menghasilkan varietas unggul dengan tiga toleransi sekaligus, yaitu terhadap rendaman, salinitas, dan kekeringan.

“Diharapkan akan mengerucut galur-galur yang memang dalam satu galur atau satu varietas itu bisa ada tiga toleransi sekaligus,” ujarnya.

Selama ini, varietas padi yang tersedia di pasaran umumnya memiliki kemampuan toleransi terhadap satu jenis tekanan. Karena itu, pengembangan galur multitoleran menjadi salah satu langkah BRIN untuk menghasilkan tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan yang semakin dinamis akibat perubahan iklim.

Jika berhasil mendapatkan varietas multitoleran, inovasi tersebut berpotensi mendukung budidaya padi di wilayah yang menghadapi ancaman banjir, kekeringan, maupun salinitas, sekaligus memperkuat swasembada dan ketahanan pangan nasional.

Sumber: https://youtu.be/2FCMIJLW1v8?si=CE_2PvAdQbtWmVlu

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Harga Pangan 11 September: Cabai Rawit Merah Tembus Rp90.050 per Kg

Trubus.id — Harga sejumlah komoditas pangan di tingkat pedagang pasar tradisional mengalami perubahan pada 11 September 2026. Berdasarkan data...

More Articles Like This