Kementan Turunkan Tim Ahli Tangani Bangkalan pada Durian Sulteng

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Kementerian Pertanian (Kementan) menurunkan tim ahli lintas lembaga untuk mengkaji gejala bangkalan yang menyerang tanaman durian di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Langkah itu dilakukan untuk mengetahui faktor penyebab sekaligus merumuskan penanganan yang tepat agar produktivitas durian tetap terjaga.

Penanganan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman setelah menerima aspirasi petani durian Sulawesi Tengah saat kunjungan kerja di Palu. Petani sebelumnya meminta pemerintah turun tangan karena gejala bangkalan menyebabkan buah durian gugur sebelum matang sehingga produksi menurun.

“Saya turunkan tim, saya sudah perintahkan. Hubungi itu, cari, turunkan (tim ahli). Negara yang biayai. Cari ahli bidang itu,” kata Mentan Amran usai memberikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-45 dan Wisuda Universitas Tadulako periode ke-138 di Palu, Kamis (20/8/2026).

Menindaklanjuti arahan tersebut, tim gabungan turun langsung mengamati tanaman durian di Poso dan Parigi Moutong. Tim terdiri atas Kementan, BRIN, pemerintah daerah, dinas pertanian Sulawesi Tengah, Parigi Moutong dan Poso, BKHIT, BRIDA, UPT Proteksi, akademisi Universitas Tadulako dan Universitas Alkhairaat, petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta AKDI.

Direktur Perlindungan Hortikultura Kementan Leli Nuryati mengatakan pemerintah akan terus mendampingi petani hingga diperoleh langkah penanganan yang tepat. Kajian tidak hanya berfokus pada tanaman, tetapi juga kondisi tanah dan ketersediaan unsur hara.

“Kami akan terus mendampingi sampai ditemukan penanganan yang tepat. Fokusnya antara lain pada nutrisi tanaman dan pH tanah, karena kondisi tanah yang masam dapat menghambat penyerapan unsur hara meskipun pupuk sudah diberikan,” ujar Leli dalam keterangannya pada Rabu (9/9/2026).

Diduga gangguan fisiologis

Hasil pengamatan awal menunjukkan gejala bangkalan diduga berkaitan dengan gangguan fisiologis tanaman pada fase berbuah. Salah satu faktor yang dikaji adalah ketersediaan dan keseimbangan unsur hara makro maupun mikro.

Gejala yang ditemukan berupa buah gugur sebelum mencapai kematangan optimal, yakni pada tingkat ketuaan sekitar 60–80%. Selain itu, daging buah mengkal atau tidak matang sempurna, aroma berkurang, rasa hambar, serta warna buah cenderung pucat.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap produktivitas dan kualitas buah durian. Penurunan hasil panen pada akhirnya turut memengaruhi pendapatan petani.

Kondisi tanah menjadi perhatian dalam kajian. Tingkat keasaman atau pH tanah dapat memengaruhi kemampuan tanaman menyerap unsur hara. Karena itu, penanganan diarahkan tidak hanya pada tanaman, tetapi juga media tumbuh dan pengelolaan lahan.

Tim mengambil sampel dari tanaman sehat dan tanaman yang menunjukkan gejala. Sampel berupa tanah, daun, dan buah kemudian diuji di laboratorium untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.

Peneliti BRIN Farihul Ihsan mengatakan pemeriksaan berbagai jenis sampel diperlukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi tanaman dan lingkungannya.

“Pengujian berbagai sampel dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi tanaman dan lingkungannya. Rekomendasi nantinya harus berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan data hasil pengujian di laboratorium,” kata Farihul.

Hasil pengamatan lapangan dan pengujian laboratorium selanjutnya menjadi dasar penyusunan rekomendasi. Rekomendasi tersebut mencakup pemupukan, perbaikan kesuburan tanah, hingga pengelolaan lahan.

Ketua kelompok tani I Wayan Budarsana mengapresiasi langkah pemerintah yang melibatkan tim ahli untuk melihat kondisi tanaman secara langsung. Ia berharap hasil kajian menghasilkan rekomendasi yang mudah diterapkan petani, terutama terkait pemupukan, kesuburan tanah, dan pengelolaan lahan.

Kementan selanjutnya akan melanjutkan koordinasi dengan pemerintah daerah, peneliti, perguruan tinggi, petugas POPT, PPL, dan pemangku kepentingan lainnya. Hasil kajian akan menjadi dasar menentukan langkah penanganan berikutnya.

Produksi durian Sulteng

Durian menjadi salah satu komoditas hortikultura yang memiliki potensi ekonomi besar bagi Sulawesi Tengah. Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah, luas kebun durian di provinsi tersebut mencapai sekitar 36.000 hektare. Dari luasan itu, sekitar 12.000 hektare telah berproduksi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi durian Sulawesi Tengah pada 2025 mencapai 95.140 ton. Kabupaten Poso dan Parigi Moutong menjadi sentra produksi terbesar.

Potensi durian Sulawesi Tengah juga telah berkembang hingga pasar ekspor. Karena itu, penanganan masalah di sentra produksi dinilai penting untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi durian sekaligus mendukung pendapatan petani.

Sumber: https://hortikultura.pertanian.go.id/mentan-amran-turunkan-tim-ahli-tangani-bangkalan-untuk-jaga-produksi-durian-sulteng/

Previous article
https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Galur Padi Multitoleran

Banjir, kekeringan, hingga tingginya kadar garam di wilayah pesisir menjadi tantangan dalam budidaya padi. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi...

More Articles Like This