BRIN Kembangkan Sengon Unggul Tahan Kekeringan dan Genangan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sengon (Falcataria moluccana) unggul yang mampu bertahan pada kondisi kekeringan dan genangan. Pengembangan itu dilakukan melalui pendekatan bioteknologi dan analisis molekuler untuk menghasilkan sumber benih yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Sengon merupakan tanaman kehutanan asli Indonesia, khususnya yang memiliki sebaran alami di wilayah Maluku. Tanaman yang dikenal cepat tumbuh dan serbaguna itu memiliki nilai ekonomi penting karena banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri perkayuan.

Selain untuk industri kayu, sengon dapat dimanfaatkan dalam kegiatan penghutanan kembali. Tanaman tersebut juga memiliki manfaat ekologis karena mampu mengikat nitrogen sehingga berkontribusi terhadap kesuburan tanah.

Namun, pengembangan sengon masih menghadapi tantangan, terutama penyediaan benih atau bibit unggul yang produktif, berkualitas, dan mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan ekstrem akibat perubahan iklim.

Peneliti Ahli Utama Pusat Rekayasa Genetika BRIN, Prof. Dr. Ir. Enny Sudarmonowati, mengatakan pengembangan sengon unggul merupakan bagian dari upaya menghasilkan sumber benih yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian Tanaman Sengon dan Seminar Kegiatan Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Platform Kolaborasi Internasional Pisang, Kamis (3/9), di Gedung BNC, KST Cibinong.

“Saat ini kita dituntut untuk menghasilkan benih unggul yang tahan terhadap perubahan iklim. Karena itu, kami mengembangkan sengon yang tahan kekeringan maupun tahan genangan,” ujar Enny.

Menurut Enny, penelitian sengon membutuhkan waktu cukup panjang karena tanaman kehutanan pada umumnya memerlukan waktu lama untuk tumbuh dan menunjukkan karakter unggul. Penelitian BRIN melengkapi pemuliaan tanaman secara konvensional dengan pendekatan bioteknologi dan analisis molekuler.

Pengembangan sengon unggul tersebut berawal dari sumber daya genetik yang dikoleksi dari berbagai wilayah Indonesia. Benih sengon kemudian ditanam dan diamati untuk mendapatkan individu dengan karakter terbaik.

Dalam pemuliaan tanaman kehutanan, individu terpilih disebut pohon plus. Untuk sengon yang dikembangkan sebagai bahan baku kayu, kriteria pohon plus antara lain memiliki batang lurus, batang bebas cabang yang tinggi, diameter batang besar, serta tahan terhadap hama dan penyakit.

“Karena ini untuk kayu, pohon plus itu yang batangnya lurus, batang bebas cabangnya tinggi, diameternya besar, serta memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit,” jelas Enny.

Pohon-pohon terpilih selanjutnya dikembangkan melalui kultur jaringan. Material tanaman dari berbagai provenance atau asal-usul geografis kemudian dikaji lebih lanjut untuk mendapatkan karakter unggul yang dapat dikembangkan sebagai sumber benih.

Dalam penelitian, tim memberikan berbagai perlakuan untuk mengetahui kemampuan tanaman bertahan pada kondisi kekurangan air maupun genangan. Pengamatan kemudian diperkuat dengan analisis ekspresi gen untuk mengetahui mekanisme molekuler yang berperan dalam ketahanan tanaman terhadap kekeringan.

“Bedanya, penelitian ini tidak hanya melihat apakah tanaman tahan kekeringan atau tahan genangan, tetapi juga didukung dengan data dan informasi biologis, termasuk ekspresi gen dan gen-gen yang berperan dalam mengatur ketahanan terhadap kekeringan,” ungkap Enny.

Ketahanan terhadap kekeringan penting untuk mendukung pengembangan sengon di wilayah dengan keterbatasan air, termasuk lahan marginal di kawasan timur Indonesia. Sementara itu, pada lahan dengan kemampuan menyerap air rendah, tanaman dapat menghadapi persoalan genangan.

Karakter tahan kekeringan dan genangan itu juga berkaitan dengan kebutuhan industri. Kayu sengon dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari industri kayu ringan (light wood), chip, furnitur, peti kemas, hingga produk seperti sumpit (chopstick).

Tingginya kebutuhan tersebut membuat ketersediaan bahan baku sengon menjadi tantangan. Menurut Enny, kebutuhan kayu sengon untuk pasar dalam negeri masih belum sepenuhnya terpenuhi, sementara permintaan ekspor juga cukup besar.

“Pengguna sengon ini banyak sekali. Kebutuhan bahan baku untuk industri, seperti light wood, chip, furnitur ringan, peti kemas, bahkan chopstick, sangat tinggi. Untuk kebutuhan dalam negeri saja masih kurang, apalagi untuk ekspor,” katanya.

Di lapangan, pengembangan sengon juga masih menghadapi kendala berupa serangan hama dan penyakit. Gangguan tersebut dapat menurunkan kualitas kayu dan menyebabkan kerusakan tanaman, termasuk pada pohon yang telah tumbuh besar dan siap dipanen.

Karena itu, penelitian sengon perlu dilakukan secara berkelanjutan. Selain menghasilkan tanaman yang mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan ekstrem, penelitian juga diarahkan untuk mengidentifikasi karakter unggul lain yang dapat mendukung produktivitas dan kualitas kayu.

Dorong Perbanyakan Benih Unggul

BRIN juga mendorong kolaborasi untuk memastikan hasil penelitian sengon unggul dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dalam skala luas. BRIN berperan menghasilkan inovasi dan sumber daya genetik unggul, sedangkan perbanyakan tanaman dan penyediaan benih dalam jumlah besar membutuhkan dukungan mitra yang memiliki kapasitas di bidang perbenihan.

Melalui kerja sama tersebut, hasil penelitian diharapkan dapat dikembangkan menjadi pohon indukan dan selanjutnya menjadi sumber benih berkualitas untuk mendukung pembangunan kehutanan di berbagai wilayah Indonesia.

“BRIN tidak bisa memperbanyak sendiri karena kami juga harus melanjutkan penelitian. Harapannya, hasil sengon unggul yang kami serahkan dapat diperbanyak menjadi pohon indukan dan selanjutnya menjadi sumber benih,” tutur Enny.

Penyerahan hasil penelitian kepada mitra bukan berarti penelitian selesai. Material tanaman yang dikembangkan tetap perlu dipantau untuk mengetahui kemungkinan adanya karakter unggul lain yang belum teridentifikasi, seperti ketahanan terhadap hama dan penyakit maupun karakteristik kayu.

“Ini tidak dilepas begitu saja. Tetap akan kami monitor. Yang sudah kami ketahui saat ini adalah tahan genangan dan tahan kekeringan, tetapi mungkin ada sifat unggul lainnya yang bisa ditemukan, seperti tahan penyakit, tahan hama, atau karakter kayu yang lebih baik,” katanya.

Kesinambungan antara riset, perbanyakan, dan sertifikasi benih menjadi bagian penting agar inovasi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi sektor kehutanan. Benih berkualitas diperlukan agar pengembangan sengon lebih terarah sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan bahan baku industri kayu nasional.

Ke depan, pengembangan sengon juga berpotensi diarahkan pada pemanfaatan terintegrasi melalui pendekatan agroforestri. Pendekatan tersebut memungkinkan sengon dikembangkan bersama komoditas lain sekaligus memperluas penerapan hasil riset BRIN di tingkat lapangan.

Dengan demikian, sengon unggul yang dikembangkan BRIN tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tanaman yang tahan terhadap kekeringan dan genangan, tetapi juga membangun fondasi penyediaan sumber benih berkualitas untuk mendukung produktivitas kehutanan, kebutuhan industri kayu, serta pemanfaatan sumber daya genetik Indonesia secara berkelanjutan.

Sumber: https://www.brin.go.id/news/130314/peneliti-brin-kembangkan-sengon-unggul-tahan-kekeringan-dan-genangan

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Biological Dome IPB Tangkis Serbuan Penggerek Batang Padi

Trubus.id— Jika iron dome digunakan untuk menangkis serangan rudal, Fakultas Pertanian IPB University memiliki biological dome yang dirancang untuk...

More Articles Like This