Program One Village One CEO (OVOC) IPB University menjadi jembatan antara inovasi kampus dan kebutuhan masyarakat pedesaan. Program tersebut melibatkan mahasiswa untuk membantu masyarakat mengidentifikasi persoalan sekaligus menerapkan solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Salah satunya berlangsung di Desa Tugu Mukti, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dengan Hadi sebagai CEO program OVOC. Menurut Hadi, persoalan pertanian yang dihadapi petani di wilayah tersebut tidak jauh berbeda dengan daerah lain, seperti fluktuasi harga, serangan penyakit, umur simpan produk yang pendek, dan ketidakpastian pasar.
Untuk menjawab persoalan pasar, OVOC bersama Desa Sejahtera Astra membantu petani melakukan pemetaan pasar. Pasar dibagi menjadi tiga segmen, yakni modern market, pasar ritel daerah, dan pasar lokal.
Pembagian tersebut membantu petani menentukan pasar sesuai karakteristik produk sekaligus mengatasi persoalan pemasaran. Petani yang sebelumnya bergantung pada pasar tradisional dan tengkulak kini memperoleh akses ke pasar dengan harga serta penyerapan yang lebih pasti.
OVOC juga memperkenalkan teknologi ozonisasi hasil kerja sama dengan IPB University untuk memperpanjang umur simpan sayuran. Teknologi tersebut disebut mampu meningkatkan umur simpan produk hingga dua kali lipat sehingga mengurangi risiko kerusakan setelah panen.
Selain pascapanen dan pemasaran, OVOC memperkenalkan Automatic Weather Station (AWS) berbasis komunitas. Inovasi IPB University berbasis Internet of Things (IoT) itu mencatat data suhu, curah hujan, dan kelembapan secara real time sehingga petani dapat memantau kondisi iklim dan cuaca sebagai dasar menentukan langkah budidaya.
Hadi mengatakan penerapan berbagai inovasi tersebut memberikan dampak ekonomi bagi petani. Menurutnya, pendapatan petani mengalami peningkatan hingga dua kali lipat setelah rantai pasok dipangkas dan akses pasar diperbaiki.
Salah seorang petani peserta program mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai standar produk sayuran untuk pasar modern. Ia juga merasakan manfaat dari adanya program yang memberikan kepastian harga dan pasar.
Petani lainnya menyebut sebelum program IPB University hadir, pemasaran hasil kebun cenderung monoton. Setelah mengikuti program, petani memperoleh akses pasar yang menjadi salah satu kebutuhan utama mereka.
Para petani berharap program tersebut terus berlanjut sehingga kesejahteraan masyarakat tani meningkat sekaligus mendorong regenerasi petani. Kehadiran inovasi dan pendampingan dinilai penting untuk membuat sektor pertanian lebih menarik bagi generasi berikutnya.
Program OVOC IPB University kini telah menjangkau 1.071 desa di 25 provinsi di Indonesia. Pengalaman di Desa Tugu Mukti menunjukkan bahwa inovasi perguruan tinggi yang disertai pendampingan dan akses pasar dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat ekonomi petani dan mendorong kemajuan masyarakat pedesaan.
