Ketertarikan Ardhian Pratama Toti Putra terhadap serai wangi (Cymbopogon nardus) bermula dari keinginannya memanfaatkan lahan kurang produktif sekaligus membangun usaha yang prospektif. Untuk memperdalam pengetahuannya, ia tidak hanya belajar melalui buku dan berbagai sumber informasi. Pemuda asal Jatipuro, Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, itu juga mendatangi petani serai wangi di sejumlah daerah.
Mulai dari Jawa Tengah dan Yogyakarta hingga Sukabumi dan Cianjur, Jawa Barat. Berbekal rasa ingin tahu, ia mempelajari serai wangi secara lebih serius. Termasuk peluang pasar dan perkembangan permintaannya. Ia melihat serai wangi bukan sekadar tanaman yang cocok untuk lahan desanya. Komoditas itu juga berpeluang memberikan nilai ekonomi lebih besar dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Dari belajar berbagai sumber, Ardhian menyimpulkan bahwa minyak asiri merupakan komoditas yang memiliki peluang besar untuk berkembang. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian tahun 2024, nilai pasar global minyak asiri tumbuh 10% dibandingkan dengan 2023. Tren green beauty (kecantikan ramah lingkungan), clean label (label produk dengan informasi bahan yang transparan dan sederhana), serta produk organik dan yang dapat ditelusuri asal-usulnya (traceable product), menjadi faktor pendorong peningkatan permintaan komoditas minyak asiri, termasuk minyak serai wangi (citronella oil). Selain itu, Indonesia menempati peringkat kedelapan dunia dalam ekspor minyak asiri, dengan kontribusi sebesar 4,12% terhadap total nilai pasar (Indonesia Essential Oils Market, 2025).
Harga komoditas yang terus meningkat mendorong Ardhian untuk masuk ke usaha ini dengan mengajak beberapa warga desanya yang memiliki lahan tidak cukup produktif. Usaha ini dimulai pada akhir tahun 2025, dengan kelompok yang diberi nama Kelompok Tani Atsiri Maju.
Pendampingan Universitas Janabadra untuk Kelompok Tani
Tim pengabdian masyarakat Universitas Janabadra menjadikan Kelompok Tani Atsiri Maju sebagai mitra sasaran program pengabdian kepada masyarakat. Program ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui hibah Pengabdian Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), tahun pelaksanaan 2026.

Tim dosen terdiri dari Dr. Untoro Budi Surono, S.T., M.Eng.; Dr. Agnes Ratih Ari Indriyani, S.E., M.Si.; dan Dr. Danang Sunyoto, S.E., M.M., serta melibatkan 4 mahasiswa. Keterlibatan mahasiswa dalam program ini memberikan pengalaman pembelajaran langsung mengenai dinamika pemberdayaan masyarakat, proses membangun komunikasi dengan kelompok tani, dan pengelolaan usaha berbasis komoditas lokal.
Penguatan Sarana dan Kapasitas Produksi
Program tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana produksi, tetapi juga pada peningkatan kemampuan kelompok dalam mengelola usaha penyulingan minyak serai wangi Jatipuro. Tim pengabdi mendukung pengadaan ketel penyulingan berkapasitas 300 kg beserta pipa kondensor sebagai bagian penting dari proses produksi.
Mitra juga mendapatkan pelatihan pengelolaan keuangan agar kegiatan usaha dikelola secara lebih tertib dan terukur. Pelatihan operator mesin diberikan untuk membekali anggota dengan keterampilan mengoperasikan dan merawat peralatan penyulingan secara tepat.
Membangun Kemitraan Pemasaran yang Sehat
Keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga kemampuan memasarkannya. Mitra telah menjalin hubungan dengan pihak yang bersedia menampung hasil produksi minyak serai wangi. Kerja sama yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Agar hubungan tersebut dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan, tim pengabdi mendorong agar kerja sama dibangun melalui kesepakatan tertulis yang disusun secara terbuka dan disepakati bersama. Dengan demikian, kepentingan masing-masing pihak dapat dipahami sejak awal dan menjadi dasar bagi terbangunnya kemitraan yang saling menguntungkan.
Menuju Kesejahteraan Petani Berkelanjutan
Melalui program ini, Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Janabadra berupaya menempatkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak semata-mata sebagai pemberian bantuan, tetapi sebagai proses pemberdayaan dan penguatan kapasitas masyarakat. Pengembangan minyak serai wangi Jatipuro diharapkan dapat menjadi salah satu contoh bagaimana potensi komoditas lokal dapat dikembangkan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat. Harapannya kegiatan itu mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

