Probiotik Rica Manfaatkan Mikroba Lokal untuk Dukung Budidaya Udang

Rekomendasi

Keanekaragaman mikroba di wilayah pesisir Indonesia berpotensi mendukung budidaya udang yang berkelanjutan. Salah satunya melalui pengembangan Probiotik Rica, hasil riset bakteri lokal yang berpotensi menekan bakteri patogen, memperbaiki kualitas air tambak, serta meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang.

Peneliti Pusat Riset Budidaya Laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muliani, menjelaskan perjalanan pengembangan Probiotik Rica dalam webinar bertema From Coastal Microbes to Sustainable Aquaculture pada Selasa (27/10/2026). Dalam paparannya, ia mengungkapkan bahwa riset tersebut bermula dari eksplorasi bakteri lokal yang hidup di lingkungan pesisir dan tambak sejak 2000.

“Biodiversitas Indonesia sangat potensial untuk dijadikan sumber kandidat probiotik, baik untuk memperbaiki kualitas air maupun meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang yang kita pelihara,” jelas Muliani dalam webinar yang diselenggarakan Pusat Riset Budidaya Laut, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN.

Nama Rica berasal dari Research Institute for Coastal Aquaculture, lembaga riset tempat pengembangan probiotik tersebut bermula. Pengembangannya melalui serangkaian tahapan, mulai dari eksplorasi mikroba, pengujian laboratorium, hingga penerapan di tambak pembudidaya.

Eksplorasi Ribuan Bakteri Lokal

Pengembangan Probiotik Rica diawali dengan isolasi bakteri dari lingkungan laut pada 2000. Eksplorasi kemudian diperluas ke lingkungan mangrove pada 2003 dan berbagai jenis tambak pada 2004, mulai dari sistem tradisional hingga intensif.

Dalam eksplorasi di sejumlah lokasi di Sulawesi Selatan, tim peneliti mengumpulkan sekitar 603 isolat bakteri dari air, sedimen, koral, spons, dan alga. Dari jumlah tersebut, 15 isolat diketahui mampu menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi, salah satu bakteri patogen yang menjadi sasaran pengembangan probiotik untuk budidaya udang.

Penelitian berlanjut dengan mengambil sampel bakteri dari permukaan daun mangrove di Maros, Pangkep, Barru, Bulukumba, dan Luwu. Tahap ini menghasilkan sekitar 1.145 isolat bakteri, tetapi hanya sembilan isolat yang menunjukkan kemampuan menghambat V. harveyi dalam penyaringan awal.

Pada 2004, tim kembali mengeksplorasi bakteri dari tambak tradisional, semiintensif, intensif, serta tambak dengan kondisi tanah sulfat masam. Dari tahap tersebut, peneliti memperoleh sekitar 2.228 isolat dan mengidentifikasi 14 kandidat probiotik.

Menurut Muliani, bakteri lokal berpotensi memiliki karakteristik yang sesuai dengan kondisi lingkungan pesisir dan tambak tempat budidaya berlangsung.

Melalui Pengujian untuk Memastikan Keamanan

Sebelum diaplikasikan, setiap kandidat probiotik harus melewati serangkaian pengujian untuk mengetahui efektivitas dan keamanannya. Tahapan tersebut meliputi isolasi, pemurnian, pengujian antagonisme terhadap bakteri patogen, pengujian biokimia, serta pengamatan ketahanan bakteri terhadap kondisi lingkungan, termasuk perbedaan salinitas.

Peneliti juga menguji kemampuan bakteri bertahan selama penyimpanan dan efektivitasnya pada berbagai konsentrasi. Pengujian patogenisitas, termasuk terhadap larva udang, menjadi bagian penting untuk memastikan bakteri yang digunakan tidak membahayakan organisme budidaya.

Selain itu, tim mengevaluasi kemampuan probiotik dalam memperbaiki kualitas air dengan mengamati kadar nitrit, amonia, dan bahan organik total atau total organic matter (TOM).

“Tidak cukup hanya mampu menghambat bakteri patogen. Kita juga harus memastikan bahwa isolat tersebut tidak bersifat patogen terhadap udang,” ujar Muliani.

Setelah melalui tahapan pengujian, Probiotik Rica mulai diaplikasikan di tambak percobaan pada 2007. Produk tersebut kemudian diperkenalkan kepada pembudidaya melalui pelatihan, sosialisasi, dan pendampingan peneliti.

Dikembangkan hingga Memperoleh Paten

Penerapan Probiotik Rica pernah menjangkau sekitar 12 kabupaten, termasuk Tarakan, Indramayu, dan Brebes. Di Sulawesi Selatan, Bulukumba dan Pinrang menjadi beberapa wilayah yang diketahui masih menggunakan probiotik tersebut.

Pada 2018, salah satu komponen Probiotik Rica memperoleh paten, yakni bakteri yang dalam paparan disebut Brevibacillus laterosporus. Bakteri tersebut kemudian dikembangkan sebagai Rica Super. Setahun berikutnya, tim juga memperoleh paten terkait metode aplikasi probiotik di tambak.

Pada 2019, Rica Super, Rica Grow, dan Rica Nitro diajukan untuk memperoleh registrasi sebagai produk probiotik. Namun, proses registrasi Rica Super mengalami kendala pemenuhan data dan tertunda ketika pandemi Covid-19 terjadi. Peralihan peneliti ke BRIN pada 2021 turut menjadi bagian dari perjalanan pengembangannya.

Meski menghadapi berbagai kendala, produk Probiotik Rica masih digunakan oleh sebagian pembudidaya. Pengembangan riset terkait juga diperluas untuk aplikasi pada kegiatan pembenihan kepiting.

Tantangan Pengembangan dan Pemanfaatan

Muliani menilai, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah, tetapi juga dari manfaatnya bagi masyarakat. Probiotik Rica menjadi salah satu contoh hasil penelitian yang telah dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya.

Meski demikian, pengembangannya masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah bentuk produk yang masih cair sehingga pembudidaya perlu melakukan kultur atau perbanyakan sebelum diaplikasikan ke tambak. Proses tersebut membutuhkan waktu dan keterampilan yang belum tentu dimiliki semua pembudidaya.

Pengembangan menuju skala industri juga memerlukan pola kemitraan yang tepat. Menurut Muliani, kerja sama dengan pihak usaha perlu mendukung pengembangan produk dan pemanfaatan hasil riset secara berkelanjutan.

Pengalaman pengembangan Probiotik Rica menunjukkan bahwa potensi mikroba lokal Indonesia perlu didukung dengan penguatan pengembangan produk, proses registrasi, kemitraan industri, serta kemudahan penerapan di tingkat pembudidaya.

Dengan dukungan tersebut, hasil eksplorasi mikroba lokal yang telah dikembangkan selama lebih dari dua dekade berpotensi dimanfaatkan lebih luas untuk mendukung kesehatan lingkungan tambak dan produktivitas budidaya udang.



Artikel Terbaru

NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 Perkuat Kolaborasi Industri Peternakan dan Pertanian

Perkembangan industri peternakan, perunggasan, dan pertanian tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi serta kerja sama antara pelaku usaha, asosiasi, dan...

More Articles Like This