Senyawa dari teh hijau berpotensi membantu mempertahankan kualitas sperma kambing Kacang selama proses pembekuan. Penelitian yang dilakukan sejumlah peneliti Universitas Airlangga menunjukkan penambahan epigallocatechin gallate (EGCG) dalam pengencer semen mampu meningkatkan motilitas sperma dan menjaga keutuhan DNA setelah pencairan.
Kambing Kacang (Capra hircus) merupakan salah satu ternak lokal Indonesia yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan tropis. Ternak tersebut juga menjadi salah satu sumber daya genetik yang penting bagi peternakan rakyat.
Salah satu upaya menjaga plasma nutfah kambing lokal ialah melalui teknologi kriopreservasi semen. Teknologi tersebut memungkinkan semen pejantan unggul dibekukan dan disimpan dalam waktu lama untuk kemudian digunakan dalam program inseminasi buatan.
Namun, proses pembekuan dan pencairan semen dapat memicu stres oksidatif akibat terbentuknya Reactive Oxygen Species (ROS). Kondisi tersebut berpotensi merusak membran sel, mengganggu fungsi mitokondria, hingga menyebabkan kerusakan DNA sperma.
Peneliti kemudian menguji EGCG, senyawa polifenol yang banyak terdapat dalam daun teh hijau (Camellia sinensis), sebagai antioksidan untuk melindungi sperma selama proses kriopreservasi. EGCG ditambahkan ke dalam pengencer semen berbasis susu skim dan kuning telur dengan konsentrasi 0,05 mg/100 ml dan 0,10 mg/100 ml.
Hasil penelitian menunjukkan penambahan EGCG meningkatkan motilitas sperma setelah pencairan. Pada kelompok tanpa EGCG, motilitas sperma hanya 38,2%, sedangkan penambahan EGCG 0,05 mg/100 ml meningkatkan motilitas menjadi 49,8%.
Hasil terbaik diperoleh pada konsentrasi EGCG 0,10 mg/100 ml dengan motilitas mencapai 64,2%. Artinya, lebih banyak sperma tetap mampu bergerak aktif setelah melalui proses pembekuan dan pencairan.
EGCG juga membantu menjaga integritas DNA sperma. Tingkat fragmentasi DNA pada kelompok tanpa EGCG mencapai 23,62%, sedangkan pada pemberian EGCG 0,10 mg/100 ml turun menjadi 14,68%.
Penelitian tersebut juga menemukan peningkatan aktivitas enzim katalase pada semen yang mendapat EGCG. Katalase merupakan salah satu sistem pertahanan antioksidan yang membantu menguraikan hidrogen peroksida sehingga dapat mengurangi kerusakan oksidatif pada sel.
Temuan tersebut menunjukkan EGCG tidak hanya berpotensi menangkal radikal bebas secara langsung, tetapi juga membantu memperkuat mekanisme pertahanan antioksidan alami sperma. Dengan demikian, kualitas semen beku kambing Kacang berpeluang dipertahankan lebih baik selama proses penyimpanan dan pencairan.
Pemanfaatan EGCG berpotensi mendukung program inseminasi buatan sekaligus pelestarian plasma nutfah kambing lokal Indonesia. Kualitas semen beku yang lebih baik dapat membantu memperluas pemanfaatan pejantan unggul dan mendukung pengembangan teknologi reproduksi ternak.
Meski demikian, penelitian masih dilakukan pada tingkat kualitas semen setelah pencairan. Pengujian langsung terhadap tingkat kebuntingan belum dilakukan sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui efektivitas EGCG terhadap keberhasilan reproduksi di lapangan.
Penelitian berjudul “Effect of EGCG Supplementation on Post-Thaw Sperm Quality and DNA Integrity of Cryopreserved Kacang Buck Semen” dilakukan oleh Suherni Susilowati, Imam Mustofa, Tatik Hernawati, Tri Wahyu Suprayogi, Yudith Oktanella, Supriyadi, dan Eko Alif Bin Anto. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Advances in Animal and Veterinary Sciences.
