Serangga Jadi Penular Utama Virus Tanaman, Picu Risiko Gagal Panen

Rekomendasi

Trubus.id — Penyakit virus tanaman menjadi salah satu tantangan dalam menjaga produktivitas dan ketahanan pangan. Infeksi virus dapat menurunkan hasil panen, mengurangi kualitas produk, meningkatkan biaya produksi, bahkan menyebabkan gagal panen.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Sedyo Hartono, M.P., mengatakan penelitian selama satu dekade terakhir menemukan berbagai penyakit virus pada tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan di Indonesia.

Virus tersebut ditemukan pada sejumlah komoditas, seperti padi, cabai, tomat, melon, anggrek, pisang, tembakau, lada, kakao, teh, bambu, dan tebu.

“Infeksi virus dapat menurunkan hasil panen hingga lebih dari 80 persen, bahkan menyebabkan gagal panen,” kata Sedyo dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar dalam bidang Virologi Tumbuhan di Balai Senat Gedung Pusat UGM, Selasa (22/9/2026).

Dalam pidatonya yang bertema “Penyakit Virus Tumbuhan: Ancaman dan Peluang Pengelolaannya Menuju Pertanian Indonesia yang Berkelanjutan”, Sedyo menjelaskan tantangan pengelolaan penyakit virus semakin kompleks.

Perubahan iklim, globalisasi perdagangan, intensifikasi pertanian, serta kemampuan virus untuk berevolusi turut memengaruhi dinamika penyakit tanaman.

Menurut Sedyo, lebih dari 70% virus tumbuhan ditularkan oleh serangga. Perubahan suhu dan pola hujan dapat memengaruhi populasi serangga vektor, memperpanjang musim penularan, sekaligus memperluas wilayah penyebaran penyakit.

“Kondisi tersebut menuntut sistem pemantauan epidemi yang adaptif dan berbasis data,” ujarnya.

Manfaat teknologi

Perkembangan teknologi membuka peluang untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi dan mengendalikan penyakit virus tanaman. Biologi molekuler, Next-Generation Sequencing (NGS), bioinformatika, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), machine learning, drone, sensor, dan Internet of Things (IoT) dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi sekaligus memprediksi risiko penyebaran penyakit.

Teknologi tersebut mendorong perubahan pendekatan pengelolaan penyakit dari yang semula bersifat kuratif menjadi lebih prediktif, preventif, presisi, dan berkelanjutan.

“Data-data tersebut dianalisis menggunakan kecerdasan buatan dan machine learning untuk mengenali pola penyakit, memprediksi risiko penyebaran, serta memberikan rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat sasaran,” jelas Sedyo.

Ia juga menyoroti perkembangan teknologi diagnosis penyakit tanaman. Identifikasi yang sebelumnya banyak mengandalkan gejala kini dapat dilakukan menggunakan ELISA, RT-PCR, real-time quantitative PCR, hingga LAMP.

Teknologi tersebut memungkinkan diagnosis dilakukan secara lebih cepat dan akurat serta berpotensi diterapkan langsung di lapangan.

Sementara itu, NGS memungkinkan peneliti mengidentifikasi keseluruhan materi genetik virus dalam sampel tanaman. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk menemukan virus baru, memetakan komunitas virus, mengidentifikasi infeksi campuran, hingga memahami evolusi virus.

Pengelolaan terpadu

Sedyo mengatakan pengelolaan penyakit virus tetap perlu dilakukan secara terpadu. Upaya tersebut mencakup penggunaan benih sehat, varietas tahan atau toleran, sanitasi lahan, pengendalian gulma dan serangga vektor, rotasi tanaman, serta pemantauan penyakit secara berkala.

Pendekatan tersebut dapat diperkuat melalui pemanfaatan bioteknologi, genomik, genome editing, AI, dan IoT sehingga pengelolaan penyakit menjadi lebih presisi.

“Keberhasilan pengelolaan penyakit virus tumbuhan tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada komitmen kita untuk membangun sistem pertanian yang berlandaskan ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan keberlanjutan,” ujarnya.

Ke depan, Sedyo mendorong pembangunan ekosistem riset virologi tumbuhan yang integratif, inovatif, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Salah satu gagasan yang ditawarkan yakni Program Nasional Surveilans Virus Tumbuhan. Program tersebut mengintegrasikan survei lapangan, diagnosis molekuler, sekuensing genom, pemetaan spasial, data iklim, dinamika populasi serangga vektor, serta sistem pelaporan digital secara real time.

Ia juga mengusulkan pengembangan “Atlas Virom Tanaman Indonesia” untuk memetakan keragaman virus pada tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman hias, gulma, hingga vegetasi alami.

“Atlas tersebut bermanfaat untuk kepentingan akademik dan sumber informasi bagi biosekuriti nasional, konservasi plasma nutfah, dan pengembangan varietas unggul di masa depan,” tuturnya.

Sedyo menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu pusat unggulan penelitian virologi tumbuhan tropika. Keanekaragaman hayati, agroekosistem, sumber daya genetik, serta beragam komoditas strategis dapat menjadi basis pengembangan riset yang sesuai dengan kebutuhan pertanian tropika.

Ia membayangkan Indonesia pada 2045 memiliki sistem surveilans penyakit modern, laboratorium berkelas dunia, jejaring riset internasional yang kuat, varietas unggul hasil inovasi anak bangsa, serta petani yang memanfaatkan teknologi digital dalam budidaya.

Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/serangga-tularkan-70-virus-tumbuhan-yang-memicu-gagal-panen/

Artikel Terbaru

Tandan Kosong Sawit Diolah Jadi Bahan Bakar Boiler Biomassa

Trubus.id — Tandan kosong kelapa sawit (Empty Fruit Bunch/EFB) tidak hanya menjadi residu industri. Badan Riset dan Inovasi Nasional...

More Articles Like This