Wednesday, January 28, 2026

Varietas Baru Cabai Produktif dan Tahan Virus

Rekomendasi
- Advertisement -

Varietas cabai berproduktivitas tinggi menjadi harapan petani di tengah tantangan budidaya seperti serangan hama-penyakit dan perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Petani membutuhkan varietas yang tidak hanya menghasilkan panen melimpah, tetapi juga tahan terhadap tekanan lingkungan serta sesuai kebutuhan pasar. Salah satu varietas yang hadir menjawab kebutuhan itu adalah cabai Neno Tavi.

Pemulia cabai, Prof. Dr. M. Syukur, menjelaskan bahwa tetua cabai Neno Tavi berasal dari Yogyakarta dan memiliki ketahanan alami terhadap virus. Guru besar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB itu menuturkan bahwa Neno Tavi tergolong cabai keriting nonhibrida dengan postur tanaman tidak terlalu tinggi. Struktur tanaman yang kokoh membuatnya tidak mudah rebah meski berbuah lebat, sehingga memudahkan perawatan serta meningkatkan ketahanan terhadap hujan dan angin.

Produktivitas Neno Tavi termasuk impresif. Varietas ini mampu menghasilkan 16 ton cabai keriting per hektare, sekaligus tahan terhadap virus keriting kuning—salah satu penyakit utama pada cabai. Selain itu, umur panen Neno Tavi tergolong genjah. Petani sudah dapat memanen perdana pada 73 hari setelah tanam (HST) dan pemanenan dapat berlangsung hingga enam bulan. Jika kondisi optimal, tanaman masih mampu berproduksi pada gelombang kedua setelah masa panen utama.

Dari segi rasa, cabai Neno Tavi tidak terlalu pedas. Varietas ini juga fleksibel dan cocok ditanam mulai dari dataran rendah hingga tinggi. Tingkat adaptasi yang luas itu menjadi nilai tambah bagi petani yang menginginkan varietas unggul dengan produktivitas stabil di berbagai lingkungan budidaya.

Selain Neno Tavi, varietas anyar lain yang hadir adalah Brahma F1, cabai keriting hasil persilangan Silsila SIA 6-1-3-3-4-2-1-1-0 dan SIA 1-1-2-2-3-4-2-1-1-0. Pemulia Suryadi Abdul Gani bersama Dennis Sebastianus dan Riyanto Putra B. Agus Mulyana melahirkan cabai setinggi 100–115 cm itu dengan produktivitas 15,37–18,28 ton/ha dan umur panen 84–89 HST. Brahma F1 memiliki karakter unik, yaitu benang sari berwarna ungu kebiruan dan daun berbentuk bulat telur.

Pilihan lainnya adalah SK 100, cabai keriting hibrida hasil persilangan CMK 1843 dan CMK 2461. Cabai setinggi 76–92 cm itu mampu memproduksi 12,44—14,77 ton per hektare, menjadi opsi baru bagi petani yang menginginkan varietas stabil dan produktif.

Ragam varietas anyar tersebut diharapkan dapat memperkuat produktivitas komoditas cabai nasional serta memberi lebih banyak pilihan bagi petani dalam menentukan varietas sesuai kebutuhan lahan dan pasar.

Foto: Dok.Prof. Dr. M. Syukur,

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img