Kecepatan dalam menghasilkan galur murni menjadi faktor kunci dalam pemuliaan dan perbenihan tanaman. Peneliti Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Dr. Drs. Budi Winarto, M.Sc., menjelaskan bahwa salah satu terobosan proses pemuliaan adalah teknologi haploid.
Haploid merupakan bagian dari kultur jaringan yang digunakan untuk menghasilkan embrio haploid dari gamet jantan atau betina. Tanaman haploid memiliki satu set kromosom sehingga tidak dapat tumbuh normal dan biasanya steril. Namun, ketika kromosom digandakan menjadi dua set, tanaman berubah menjadi double haploid—tanaman yang tumbuh normal, subur, dan bersifat homogen.
Dalam pemuliaan konvensional, proses menghasilkan galur murni bisa memakan waktu hingga 20 tahun seperti pada bawang merah. Dengan teknologi haploid, proses tersebut dapat dipersingkat drastis menjadi hanya 2—3 tahun. Selain mempercepat pemuliaan, teknologi ini menghasilkan benih dengan tingkat keseragaman mendekati 100%, memberi peluang besar untuk produksi benih berkualitas tinggi.
Meski teknologi haploid telah dikenal sejak akhir 1990-an dan mencapai puncak popularitas pada 2005, penerapannya di Indonesia masih terbatas. Kondisi tropis menjadi tantangan utama karena rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme selama proses kultur jaringan.
“Di negara subtropis, potensi kontaminasi lebih kecil. Di Indonesia, pengendalian kontaminasi menjadi isu besar,” ujar Budi. Ia menegaskan bahwa persiapan tanaman donor menjadi langkah krusial keberhasilan teknologi ini.
Teknologi haploid juga membuka peluang besar dalam rekayasa genetika dan pengembangan sifat unggul tanaman, seperti ketahanan terhadap hama, penyakit, hingga herbisida. Karena embrio haploid berasal dari sel tunggal, manipulasi genetik dapat dilakukan dengan lebih mudah dan presisi. Budi menyebutkan bahwa tren penelitian metabolomik dan panseptomik dapat memanfaatkan teknologi haploid sebagai pintu masuk karena sama-sama berbasis sel tunggal.
Dengan potensi percepatan pemuliaan dan peningkatan kualitas benih, teknologi haploid menjadi solusi strategis untuk memperkuat inovasi pertanian Indonesia di masa depan.
