Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional OR Kesehatan BRIN, Slamet Wahyono, menjelaskan pemanfaatan kratom di Kapuas Ulu, Kalimantan Barat, yang menjadi salah satu sentra produksi kratom di Indonesia. Ia menyebut daun kratom selain menjadi komoditas ekologi dan interior dinding rumah, juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional.
Menurutnya, kratom kini mampu menggeser minat terhadap komoditas perkebunan lain seperti karet. Tanaman ini juga memiliki fungsi ekologis penting, termasuk mencegah abrasi sungai berkat kemampuannya tumbuh di bantaran aliran air.
Slamet memaparkan bahwa kratom dapat membantu mengurangi efek rumah kaca karena tumbuh cepat dan memiliki regenerasi daun yang lebat. Selain itu, kemampuan tanaman ini untuk dibudidayakan di hutan membuka peluang ekonomi sebagai hasil hutan bukan kayu.
Kratom termasuk tanaman yang mudah dibudidayakan dengan dua metode sesuai permintaan pasar, yakni pengeringan langsung dan fermentasi. Beberapa pelaku usaha bahkan sudah menggunakan mesin untuk memproduksi serbuk kratom dalam skala besar.
Ia menambahkan bahwa nilai ekonomi kratom yang cukup tinggi menciptakan banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat di Kapuas Hulu. Proses penanaman hingga pascapanen sebagian besar dilakukan oleh petani, sehingga aktivitas produksi memberi dampak sosial yang signifikan.
Dengan pendapatan yang meningkat, menurut Slamet, potensi putus sekolah di wilayah tersebut dapat ditekan. Ia menilai masyarakat yang sibuk bertani juga cenderung terhindar dari aktivitas kriminal.
Dampak positif lain adalah meningkatnya kesempatan bagi orang tua untuk menyekolahkan anak mereka ke luar daerah. Ia menyebut warga Kapuas Ulu cenderung harus keluar kabupaten untuk mendapatkan pendidikan tinggi.
Slamet juga menemukan pemanfaatan empiris kratom dalam pengobatan tradisional dari data Ristoja 2015. Kratom digunakan etnis Galumpang di Sulawesi Barat untuk mengatasi diare dan sakit kulit, serta etnis Bencian di Kalimantan Timur untuk perawatan wajah.
Ia menambahkan bahwa masyarakat Kutai memanfaatkan kratom dalam perawatan pascapersalinan. Sementara itu, masyarakat Berau di Kalimantan Utara menggunakan tanaman ini untuk mengatasi pegal, kelelahan, dan memperlancar haid.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), Irwan Effendi, memaparkan potensi tumbuhan obat berdasarkan pengetahuan masyarakat Suku O’Hongana Manyawa atau Tobelo Dalam. Ia menjelaskan bahwa kawasan TNAL memiliki ekosistem yang masih utuh dan menjadi rumah bagi suku yang memiliki pengetahuan luas tentang tanaman obat.
Irwan menyebut terdapat 38 jenis tumbuhan obat dari 24 famili dengan 21 khasiat pengobatan yang ditemukan di kawasan tersebut. Enam di antaranya digunakan untuk keperluan pascamelahirkan, menunjukkan kekayaan pengetahuan herbal lokal.
Beberapa tumbuhan yang sering digunakan masyarakat berasal dari famili Euphorbiaceae dan Zingiberaceae. Untuk menggali potensi lebih lanjut, TNAL bersama BRIN melakukan kajian ilmiah terhadap empat jenis tanaman obat utama.
Empat tanaman tersebut adalah Akar Togutil (Fibraurea sp.), Akar Kuning (Arcangelisia flava), Sarang Semut (Myrmecodia sp.), dan Galoba (Alpinia nutans). Irwan menjelaskan bahwa penelitian lanjutan terhadap tanaman ini telah dijadwalkan dalam program kerja sama hingga 2028.
Ia merinci bahwa penelitian Akar Togutil dimulai pada Februari 2025, disusul Akar Kuning pada 2026, Sarang Semut pada 2027, dan Galoba pada 2028. Rangkaian riset ini diharapkan memperkuat pemanfaatan tumbuhan obat berbasis pengetahuan lokal.
Irwan menegaskan bahwa TNAL akan fokus pada eksplorasi dan koleksi spesies tumbuhan. Adapun identifikasi molekul dan senyawa aktif akan dilakukan oleh BRIN melalui Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan.
