Thursday, February 12, 2026

IPB University Dorong Padi Gogo Jadi Andalan Ketahanan Pangan di Lahan Kering

Rekomendasi
- Advertisement -

Fakultas Pertanian IPB University memelopori pengembangan sekaligus penerapan padi gogo sebagai salah satu strategi utama untuk memperkuat sistem pangan nasional. Upaya itu dijalankan secara konsisten sepanjang 2025 dengan mengembangkan sistem padi gogo di sejumlah wilayah Indonesia. Mulai dari Pati, Gunungkidul, dan Bogor di Jawa hingga Murung Raya dan Berau di Kalimantan.

Pengembangan padi gogo itu tidak dilakukan setengah-setengah. Fakultas Pertanian IPB University menerapkan teknologi terpadu yang mencakup penggunaan varietas unggul IPB 9G, pemanfaatan mikrob untuk meningkatkan toleransi tanaman terhadap kekeringan serta serangan hama dan penyakit, pengaturan kegiatan budi daya berbasis automatic weather station (AWS), hingga optimasi pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.

Hasilnya mulai terlihat di lapangan. Dari berbagai lokasi pengembangan, produktivitas padi gogo tercatat berada pada kisaran 3,5 hingga 5 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Angka itu menunjukkan bahwa padi gogo memiliki potensi yang kompetitif. Terutama untuk lahan-lahan kering yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Suryo Wiyono, menegaskan bahwa padi gogo memiliki posisi strategis di tengah tantangan perubahan iklim yang kian nyata. Indonesia harus bersiap menghadapi kondisi iklim yang semakin kering di masa depan.

“Sistem padi gogo merupakan strategi utama untuk meningkatkan ketahanan pangan. Teknologinya tersedia, lahan ada, dan ke depannya Indonesia akan lebih kering. Sampai saat ini, padi gogo diperkirakan baru menyumbang sekitar 5 persen dari total produksi padi nasional, sehingga perlu ditingkatkan hingga 15 persen,” ujar Suryo.

Ia menambahkan, Fakultas Pertanian IPB University akan terus memimpin pengembangan padi gogo melalui berbagai program. Mulai dari diseminasi teknologi hingga kajian sosial ekonomi yang menyertainya. Langkah itu dinilai penting agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga dapat diterima dan diadopsi oleh petani. “Dengan demikian, ke depan padi gogo dapat menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan beras nasional,” kata Suryo.

Manfaat penerapan teknologi padi gogo juga dirasakan langsung oleh petani di lapangan. Petani padi gogo di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, Sudargo,  mengungkapkan bahwa pendampingan teknologi dari IPB University membawa perubahan nyata pada usahataninya.

“Kami sudah mulai menanam padi IPB 9G dan menggunakan teknologi mikrob tahan kering sejak tahun 2020 dengan pendampingan dari IPB. Sekarang, dengan penanganan yang tepat, budi daya padi gogo bisa mengimbangi dan bahkan melebihi jagung, sehingga saudara dan tetangga banyak ikut menanam padi gogo di sekitar kawasan hutan jati,” tutur Sudargo.

Dari sisi akademik, potensi padi gogo juga dinilai sangat besar. Guru Besar Agronomi IPB University, Prof. Suwarto, yang menekuni penelitian padi gogo, menekankan bahwa ketersediaan lahan kering di Indonesia menjadi peluang utama pengembangan komoditas itu. “Padi gogo merupakan potensi besar karena lahan kering yang tersedia dan sesuai di Indonesia cukup besar hingga jutaan hektare, sedangkan konversi sawah sangat masif,” ujar Suwarto.

Pengembangan padi gogo diharapkan semakin memperluas pemanfaatan lahan kering di Indonesia di masa mendatang. Dengan dukungan teknologi yang tepat dan pendampingan berkelanjutan, padi gogo berpeluang menjadi solusi yang berkelanjutan dalam menjaga ketersediaan pangan nasional di tengah tekanan perubahan iklim dan alih fungsi lahan.

Artikel Terbaru

Ancaman Cacing Ascaridia pada Ayam dan Peluang Obat Herbal Indonesia

Infeksi kecacingan Ascaridiosis masih menjadi persoalan serius di industri perunggasan. Selain mengganggu kesehatan ayam, serangan cacing ini juga berujung...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img