Kualitas telur puyuh ditentukan oleh kombinasi faktor genetik, nutrisi, dan kondisi lingkungan kandang. Kandungan protein dan mineral pakan, terutama kalsium, sangat berpengaruh terhadap ketebalan kerabang, bobot telur, dan tingkat keseragaman telur. Anggorodi dalam buku Ilmu Makanan Ternak Unggas menjelaskan bahwa kebutuhan kalsium pada puyuh petelur berada pada kisaran 2,5%—3% dengan dukungan fosfor dan vitamin D3 untuk memastikan penyerapan mineral secara optimal. Kekurangan kalsium menyebabkan kerabang tipis, bentuk telur tidak normal, dan peningkatan telur pecah selama penyimpanan.
Selain pakan, faktor genetik juga berperan besar dalam kualitas produksi. Beberapa strain puyuh modern dikembangkan untuk menghasilkan telur lebih besar dan berwarna seragam. Menurut penelitian Shimada & Fujihara dalam Journal of Poultry Science, pemilihan induk betina dari garis keturunan unggul mampu meningkatkan bobot telur rata-rata hingga 8%—12% dibandingkan dengan strain konvensional. Seleksi genetik secara berkelanjutan juga terbukti memengaruhi konversi pakan, daya tetas, dan kekuatan kerabang.
Lingkungan kandang pun menjadi faktor yang menentukan kualitas telur. Suhu ideal untuk puyuh petelur yaitu 20°C—26°C dengan kelembapan sedang dan ventilasi yang baik. Rasyaf dalam buku Beternak Puyuh Petelur menegaskan bahwa stres panas dapat menurunkan kualitas kerabang, memperkecil ukuran telur, dan menurunkan produksi harian. Stres lingkungan seperti kebisingan, kepadatan kandang tinggi, dan pencahayaan yang tidak stabil juga terbukti memengaruhi performa produksi telur.
Upaya meningkatkan kualitas telur puyuh dapat dilakukan melalui perbaikan formulasi pakan, suplementasi mineral, dan manajemen kandang yang konsisten. Lebih jauh lagi, penambahan probiotik termasuk Lactobacillus plantarum strain IIA-1A5 dalam pakan terbukti mendukung kesehatan saluran pencernaan dan daya serap nutrisi.
Dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, terungkap bahwa penambahan bahwa L. plantarum IIA-1A5 pada pakan ayam petelur secara signifikan meningkatkan kinerja, ketahanan tubuh, dan kualitas telur (misalnya warna kuning telur dan daya cerna pakan). Kombinasi antara pemilihan bibit unggul, keseimbangan nutrisi (termasuk mineral dan probiotik), serta kenyamanan kondisi kandang tetap menjadi kunci utama menghasilkan telur berkualitas tinggi dalam peternakan unggas modern. (Naya Maura Denisa)
