Wednesday, February 18, 2026

Bonus Demografi dan Urbanisasi Ubah Pola Konsumsi Pangan Nasional

Rekomendasi
- Advertisement -

Dinamika kependudukan Indonesia membawa dampak besar terhadap pola permintaan dan konsumsi pangan nasional. Perubahan struktur umur, laju urbanisasi, hingga ukuran rumah tangga yang semakin kecil kini menggeser wajah konsumsi masyarakat secara fundamental.

Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada 14 Februari 2026, Prof. Ekawati Sri Wahyuni, memaparkan bahwa ada tiga faktor utama yang mendorong transformasi pangan di Indonesia.

Struktur Umur dan Transisi Gizi

Faktor pertama yaitu perubahan struktur umur penduduk akibat penurunan angka kelahiran dan kematian. Situasi ini memunculkan bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2030—2040. Di sisi lain, proporsi penduduk lanjut usia juga terus meningkat.

“Dalam pilihan pangan, perbedaan selera muda-tua yang dipengaruhi peningkatan kesejahteraan nampak pada pergeseran pola makan,” kata Ekawati yang juga Guru Besar Demografi dan Ilmu Kependudukan Fakultas Ekologi Manusia, IPB University.

Konsumsi beras dan serealia mulai bergeser ke pangan bernilai tambah lebih tinggi seperti protein hewani, buah, dan sayuran. Pada saat yang sama, konsumsi pangan padat kalori seperti gula juga meningkat. Fenomena ini dikenal sebagai transisi gizi yang membawa konsekuensi terhadap pola kesehatan masyarakat.

Urbanisasi dan Ketergantungan Impor

Faktor kedua yakni urbanisasi. Pertumbuhan kota mendorong ragam konsumsi pangan menjadi semakin beragam. Termasuk bahan pangan impor yang tidak diproduksi di dalam negeri. Ketergantungan pada sumber eksternal ini meningkatkan kerentanan terhadap gangguan rantai pasok global dan fluktuasi harga.

Ketimpangan pembangunan antarwilayah juga memunculkan fenomena beban ganda malnutrisi. Dalam satu populasi bisa terjadi kekurangan gizi sekaligus kelebihan gizi. Tantangan ini semakin kompleks ketika dihadapkan pada perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan.

Rumah Tangga Mengecil, Pola Makan Berubah

Faktor ketiga adalah mengecilnya ukuran rumah tangga serta meningkatnya partisipasi perempuan di sektor publik. Perubahan ini berdampak langsung pada pola penyediaan makanan di rumah. “Ini semisal pergeseran pola penyediaan makanan ke pangan cepat saji,” kata Ekawati.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga perubahan perilaku konsumen. Oleh karena itu, pemahaman berbasis data kependudukan menjadi penting agar kebijakan pangan lebih adaptif terhadap dinamika masyarakat.

Di sisi lain, Indonesia menghadapi dilema kemandirian pangan. Gandum sebagai bahan baku mi dan roti masih 100% impor. Produksi daging sapi domestik pun belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Perubahan selera ke produk nontropis ikut meningkatkan risiko terhadap fluktuasi harga global dan dinamika geopolitik.

Sebagai respons, diperlukan kebijakan yang lebih realistis dan adaptif. Swasembada pangan perlu dievaluasi secara pragmatis dengan menyeimbangkan produksi dalam negeri dan impor strategis untuk komoditas yang sulit dibudidayakan di Indonesia.

Peluang Pasar Produk Sehat dan Digital

Di tengah tantangan tersebut, peluang juga terbuka lebar. Tren gaya hidup sehat mendorong permintaan produk organik, plant-based, serta functional food, terutama di kalangan kelas menengah. Inovasi teknologi pangan seperti kemasan ramah lingkungan dan sistem logistik rantai dingin juga semakin berkembang.

Sektor swasta didorong untuk melakukan diversifikasi produk. Segmen lansia membutuhkan produk dengan tekstur dan kandungan nutrisi khusus. Sementara rumah tangga tunggal memerlukan kemasan berukuran kecil dan praktis.

Transformasi demografi pada akhirnya bukan sekadar tantangan. Jika dikelola dengan tepat, perubahan struktur penduduk, urbanisasi, dan gaya hidup justru bisa menjadi peluang besar bagi penguatan sistem pangan nasional yang lebih adaptif, sehat, dan berkelanjutan.

Artikel Terbaru

Sukun, Superfood Lokal yang Siap Gantikan Gandum Impor

Di balik rimbunnya hutan Nusantara, tersimpan potensi pangan yang selama ini kerap dipandang sebelah mata. Buahnya bulat, berkulit hijau...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img