Sejak sekitar 2.000 tahun silam, kahuna atau tabib di Polinesia telah meresepkan nono—sebutan lokal untuk mengkudu—untuk mengobati berbagai penyakit. Demam, gangguan pernapasan, luka, hingga penyakit kulit ditangani dengan buah beraroma khas itu. Tradisi pengobatan tersebut diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.
Menariknya, mengkudu bukan tanaman asli Polinesia. Buah kerabat kopi itu berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pada sekitar 10 tahun sebelum masehi, terjadi migrasi penduduk Asia Tenggara ke kawasan Polinesia di Pasifik Selatan. Mereka membawa berbagai tanaman pangan seperti talas, sukun, ubi jalar, serta tanaman obat termasuk mengkudu.
Spesies yang tumbuh di Polinesia sama dengan yang ada di Indonesia, yakni Morinda citrifolia atau yang kerap disebut mengkudu bogor. Tanaman anggota famili Rubiaceae itu kemudian beradaptasi dan tumbuh alami di berbagai pulau di kawasan tersebut.
Riset Ilmiah dan Popularitas Tahitian Noni
Popularitas mengkudu kian meluas setelah seorang ahli nutrisi asal Amerika Serikat, John Wadsworth, melakukan riset di Tahiti, Polinesia, pada 1995. Ia tertarik meneliti buah itu setelah memperoleh informasi tentang kandungan xeronin di dalamnya.
Xeronin diketahui berfungsi memperlebar pori-pori dinding sel sehingga nutrisi lebih mudah masuk ke dalam sel. Tubuh manusia memang memproduksi xeronin, tetapi dalam jumlah terbatas. Mengkudu bukan hanya mengandung xeronin, melainkan juga proxeronin, yakni senyawa pembentuk xeronin dalam jumlah melimpah.
Penemuan senyawa aktif tersebut dilakukan oleh Ralph Heinicke, ahli biokimia dari University of Hawaii, pada 1985. Ia pula yang menyarankan agar riset lanjutan dilakukan langsung di Tahiti.
Tahiti sendiri merupakan pulau terbesar di Polinesia Perancis, dengan panjang sekitar 55 km dan lebar 25 km, serta beribu kota di Papeete. Dari sinilah istilah tahitian noni menjadi terkenal di pasar global. Padahal, mengkudu tidak hanya berasal dari Tahiti, tetapi juga dari sekitar 199 pulau lain di wilayah tersebut seperti Marquesas, Moorea, dan Tuomotu. Di pulau-pulau itu, mengkudu tumbuh secara alami.
“Buah ini telah dirawat oleh alam dan sekarang tiba waktunya mengambil dari alam untuk memberkati berjuta-juta orang di bumi,” kata Wadsworth ketika mengawali produksi tahitian noni.
Dari Tanaman Obat Tradisional Jadi Produk Global
Seiring waktu, mengkudu menjelma menjadi produk kesehatan yang dipasarkan secara luas di berbagai negara. Istilah noni pun lebih dikenal di pasar internasional dibandingkan nama mengkudu.
Perjalanan panjang mengkudu—dari tanaman obat tradisional Asia Tenggara, dibawa migrasi kuno ke Polinesia, lalu diteliti secara ilmiah hingga dipasarkan global—menjadi bukti bahwa kekayaan hayati tropis memiliki potensi besar jika digali dan dikembangkan secara serius.
Kini, mengkudu tak lagi sekadar buah beraroma tajam yang tumbuh liar di pekarangan. Ia telah menjadi komoditas kesehatan mendunia, dengan akar sejarah kuat yang kembali menegaskan peran penting Asia Tenggara dalam peta tanaman obat dunia.
