Tepurang, toropu, atau pupia. Tiga nama itu merujuk pada satu buah unik berwarna jingga dengan ukuran kira-kira sebesar kaleng susu kental manis. Permukaan kulitnya dipenuhi duri pendek yang tidak tajam. Sekilas mirip buah liar biasa, tetapi kandungan gizinya luar biasa.
Buah kerabat paria ini diketahui memiliki kadar beta karoten sangat tinggi, yakni 45.780 mg per 100 gram. Angka itu menjadikan tepurang sebagai salah satu sumber beta karoten unggulan dari kelompok sayuran dan buah tropis.
Pernah Jadi Sorotan Dunia
Manfaat tepurang mulai mendapat perhatian serius ketika kasus penyakit mata akibat kekurangan vitamin A di Vietnam melonjak tajam. Pada 1958, Kepala Program Pencegahan Kebutaan di London, Inggris, Donald S. McLaren, M.D., Ph.D., FRCP., mencatat ada 1.502 kasus gangguan mata akibat defisiensi vitamin A di Vietnam.
Jumlah tersebut melampaui ambang batas yang ditetapkan World Health Organization (WHO) sehingga memicu perhatian internasional.
Sebagai langkah awal, pada 1985, WHO membagikan vitamin A dosis tinggi kepada anak-anak sekolah di pedesaan Vietnam. Namun upaya itu tidak berhenti di sana. Pada 1997, peneliti WHO mendata berbagai sayuran dan buah yang tumbuh di pekarangan warga serta dijual di pasar tradisional.
Dari 42 jenis yang diteliti, tepurang atau Momordica cochinchinensis menjadi yang paling menonjol karena kandungan beta karotennya paling tinggi.
Ditanam Luas di Pekarangan
Sejak saat itu, masyarakat Vietnam mulai banyak menanam tepurang di pekarangan rumah. Tanaman merambat ini relatif mudah dibudidayakan dan bisa menjadi sumber pangan sekaligus gizi keluarga.
Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah membran merah yang menyelimuti biji. Bagian itulah yang kaya pigmen alami dan kemudian diolah menjadi pewarna makanan tradisional.
Potensi Tepurang sebagai Sumber Vitamin A Alami
Kandungan beta karoten tinggi pada tepurang menjadikannya sumber provitamin A alami yang potensial. Beta karoten akan diubah tubuh menjadi vitamin A, nutrisi penting untuk kesehatan mata dan sistem kekebalan tubuh.
Pengalaman Vietnam menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber pangan lokal dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk mengatasi masalah gizi masyarakat.
