Thursday, January 29, 2026

Kembali ke Harga Rasional

Rekomendasi
- Advertisement -

Keluhan itu mendorong saya melihat langsung kondisi pasar. Daerah-daerah sentra anthurium di Solo dan sekitarnya saya kunjungi. Ternyata kondisinya sama, penjualan anthurium sedang sepi. Impian saya setahun silam menjadi buyar karenanya.

Sebagai orang Solo, saya berharap anthurium dapat meningkatkan taraf hidup warga Solo dan masyarakat miskin di Indonesia. Saya yakin, di tengah krisis ekonomi yang tak kunjung henti, anthurium bisa menjadi salah satu bisnis alternatif yang menjanjikan. Bahkan, tidak mustahil di masa mendatang, anggota famili Araceae itu menjadi komoditas ekspor yang mendatangkan devisa bagi negara. Anthurium juga bisa berperan sebagai tanaman penghijauan di tengah ancaman pemanasan global yang kian ramai diperbincangkan.

Anthurium komoditas yang layak diperdagangkan. Kerabat aglaonema itu memiliki beragam keunikan, sosoknya gagah, berkarakter, dan memiliki aura yang membangkitkan nilai estetika. Jenmanii misalnya, memiliki keunikan ‘seribu wajah’. Setiap benih yang terlahir dari satu indukan memiliki bentuk berbeda-beda.

Rp360-juta

Itu pula yang mendorong saya terjun ke dalam bisnis anthurium setahun lalu. Berawal dari sebuah pameran tanaman hias di Kota Solo. Ketika itulah saya mulai kepincut anthurium. Sebanyak Rp20-juta saya gelontorkan demi menebus 7 pot Anthurium jenmanii.

Pada kesempatan lain salah satu indukan yang saya ikutkan dalam kontes berhasil merengkuh gelar juara. Koleksi saya itu ternyata mengundang decak kagum seorang kolektor. Ia berani menebus anthurium jawara dengan harga Rp70-juta. Batin saya berkata, bisnis anthurium sangat menggiurkan dan menjanjikan.

Sejak itulah saya mulai intensif berburu indukan jenmanii ke beberapa daerah di Solo dan sekitarnya. Perburuan itulah yang akhirnya membawa saya ke tempat Suyarto, pekebun anthurium di daerah Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Saya terkagum-kagum dengan koleksi indukan yang ia miliki. Kualitas dan penampilannya sangat cantik dan unik-unik. Akhirnya sebuah Opel Blazer terbaru senilai Rp360-juta saya serahkan demi menebus 4 indukan jenmanii terbaik dan beberapa tanaman lainnya.

Nekat? Ya, sebagian kolega saya berpendapat begitu. Beberapa di antaranya bahkan kerap mencibir. ‘Bagaimana Pak, apakah tembakaunya sudah bisa dipanen?’ tanya mereka. Sosok jenmanii sekilas memang mirip bahan baku rokok itu. Ketika itu anthurium belum ada nilainya.

Bagi warga Jenawi, rezeki nomplok yang didapat Suyarto menjadi cerita dari mulut ke mulut. Anthurium disebut-sebut sebagai tanaman pembawa rezeki. Tak ayal para pekebun tanaman hias di daerah itu mulai rajin merawat anthurium. Setiap kali saya kembali ke sana mencari indukan, banyak pekebun yang memiliki koleksi cantik. Saya pun tak pernah menyesal menebusnya dengan harga mahal.

Bumerang

Pekebun anthurium di daerah itu terus bertambah dan semakin meluas ke daerah lain. Para buruh tani beralih membudidayakan si raja daun dengan harapan memperoleh limpahan rezeki seperti Mbah Suyar-sapaan Suyarto. Dampaknya biji dan anakan anthurium laris manis karena permintaan terus meningkat. Harga biji yang semula Rp4.000, meroket menjadi Rp50.000/biji. Pamor anthurium di Solo dan sekitarnya kian memuncak. Ribuan pekebun memperoleh berkah dari kenaikan harga yang terus terjadi. Mimpi saya mengangkat taraf hidup warga Solo sepertinya bakal terwujud.

Tadinya saya menduga harga biji anthurium tak akan lebih dari Rp100.000. Namun, gelombang permintaan yang terus membubung membuat lonjakan harga tak terkendali. Pamornya pun terus meluas ke berbagai daerah seperti Yogyakarta, Jakarta, dan bahkan ke luar Jawa. Para pekebun terlena menikmati laba tinggi. Sampai-sampai harga biji jenmanii secara umum-di luar jenis-jenis eksklusif seperti cobra-di Solo dan sekitarnya mencapai Rp250.000-Rp500.000/biji. Sedangkan harga biji anthurium wave of love malah anjlok. Harga biji yang tadinya sempat menembus harga Rp25.000/biji, terjun bebas menjadi Rp700-Rp1.000. Anjloknya harga wave of love karena produksi biji melimpah.

Harga biji jenmanii yang melambung tinggi malah menjadi bumerang bagi para pekebun. Maklum, sebagian besar pekebun di sana menggantungkan hidup dari biji-biji yang mereka beli. Biji itu mereka semai. Setelah muncul 1-3 daun, mereka jual dengan harga lebih tinggi. Namun, laba hasil penjualan tak lagi menjangkau harga biji yang terus melonjak. Kondisi itu memaksa petani terus meningkatkan harga jual.

Harga yang semakin tinggi bukannya menambah untung. Harga biji dan anakan 1-3 daun semakin jauh meninggalkan daya beli konsumen. Konsumen tak mau lagi membeli biji dengan harga tinggi. Harap mafhum, kemungkinan biji berkecambah saja belum pasti. Mereka tak mau ambil risiko. Apalagi belakangan ini penipuan kerap terjadi. Biji randu dibilang jenmanii.

Begitu pula anakan 1-3 daun. Pada tanaman seukuran ini, jenis dan karakter anthurium belum terlihat. Banyak konsumen kecewa karena setelah membeli bibit cobra 1-3 daun, yang tumbuh malah anthurium jenis lain. Bahkan ada konsumen yang membeli bibit jenmanii, tetapi yang tumbuh malah cabai. Membeli tanaman ukuran dewasa takut disatroni pencuri. Itulah yang menyebabkan pasar anthurium kini menjadi lesu dan para pekebun mendatangi saya. Mereka berharap agar saya dapat membangkitkan kembali pasar anthurium seperti ketika pertama kali mengangkat pamor anthurium setahun silam.

Harga rasional

Lalu, bagaimana caranya membangkitkan pasar anthurium yang tengah lesu? Permasalahan mendasar meredupnya pasar anthurium adalah harga yang tidak rasional pada biji dan anakan 1-3 daun. Bagaimana mungkin biji yang belum tentu tumbuh dibandrol dengan harga tinggi. Berdasarkan pengalaman kemungkinan berkecambah pada jenmanii hanya 50-75% dari total produksi biji. Harga yang tidak rasional itulah yang membuyarkan kepercayaan konsumen terhadap pasar.

Itulah sebabnya diperlukan rasionalisasi harga. Saya bersama beberapa pekebun mencoba merumuskan harga ideal yang diperkirakan dapat dijangkau para pekebun dan konsumen. Harga ideal ini juga diharapkan dapat mengangkat harga wave of love yang tengah terpuruk.

Harga ideal ini hanya berlaku untuk biji dan anakan 1-3 daun. Untuk tanaman dewasa sulit menentukan harga ideal karena berkaitan dengan nilai estetika. Saya berharap harga itu menjadi pedoman yang tidak hanya berlaku di Solo dan sekitarnya, tetapi juga di seluruh nusantara.

Harga yang saya cantumkan berikut ini memang lebih rendah daripada harga yang berlaku sekarang. Apakah harga itu akan menurunkan citra anthurium yang harganya telanjur meroket? Tentu tidak. Toh tetap saja harga itu lebih tinggi ketimbang harga awal, sebelum pamor anthurium menanjak yang hanya Rp4.000-Rp9.000/biji. Itu artinya, anthurium tetap bernilai tinggi.

Bagi para pemilik nurseri besar tak perlu khawatir dengan harga yang lebih rendah ini. Menurut hitung-hitungan saya, dengan harga ideal ini pemilik nurseri besar tetap bisa meraup untung karena mengandalkan pasokan biji dari tanaman induk. Justru yang harus diperhatikan adalah pekebun kecil yang mengandalkan pasokan biji dengan membeli dari pekebun-pekebun besar. Semoga dengan adanya pedoman harga ideal anthurium, pasar si raja daun bergairah kembali. (Arry Seno Handoyo, tokoh perintis perkembangan anthurium di Solo, Jawa Tengah)

 

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Kenapa Mangga Tidak Berbuah? Inilah Penyebab dan Solusinya

Mangga yang tidak berbuah umumnya dipengaruhi masalah fisiologi tanaman. Terutama ketidakseimbangan fase vegetatif dan generatif. Tanaman yang terlalu subur...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img