Wednesday, January 28, 2026

Bisnis Fantastis: Sentra Flora Tanjungmorawa

Rekomendasi
- Advertisement -
Nurseri anggrek yang sebagian besar bibitnya didatangkan dari Thailand.
Nurseri anggrek yang sebagian besar bibitnya didatangkan dari Thailand.

Omzet jutaan rupiah bagi pebisnis tanaman hias di sentra Sumatera Utara.

Dengan wajah berbinar, Sumariyoto berkata, “Bisnis saya tak pernah sepi.” Pedagang tanaman hias di Desa Bangunsari, Kecamatan Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, itu menjual beragam tanaman hias seperti mawar, dahlia, anyelir, serut, krisan, dan hortensia. Setiap pekan sekitar 3.000 tanaman hias berbagai jenis ludes terjual. Omzetnya Rp80-juta per bulan.

Harganya beragam, termurah Rp3.000 seperti sutra bombai atau aster-asteran hingga Rp5-juta seperti bonsai serut setinggi 1,5—2 meter. Sumariyoto memanfatkan lahan seluas 600 m2 untuk berniaga tanaman hias. “Tiap pekan saya membeli sekitar 3.000 tanaman untuk saya jual kembali,” ujar pedagang tanaman hias sejak 1996 itu. Para pembeli berdatangan dari berbagai daerah seperti Provinsi Riau hingga Pulau Jawa.

Masyarakat Sumatera Utara menggunakan anggrek sebagai rangkaian bunga dan penghias meja di hotel-hotel.
Masyarakat Sumatera Utara menggunakan anggrek sebagai rangkaian bunga dan penghias meja di hotel-hotel.

Penghasilan fantastis
Tanjungmorawa memang salah satu sentra yang menjadi barometer tanaman hias di Indonesia. Menurut Sumariyoto di Desa Bangunsari terdapat sekitar 150 pelaku bisnis tanaman hias dengna omzet berbeda-beda. Hal itu menarik Rahmanta dan rekan dari Jurusan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara meneliti pengaruh usaha tani tanaman hias terhadap pengembangan wilayah itu.

Riset pada April—Juni 2014 itu menunjukkan hasil spektakuler bahwa para petani di sana memang berpendapatan tinggi. Setiap meter persegi lahan di Desa Bangunsari mengalirkan penghasilan Rp3,5-juta untuk petani per bulan. Artinya, Sumariyoto yang memiliki lahan 600 m² menikmati penghasilan 600 kali lipat angka itu. Pendapatan itu bakal meningkat seiring pertambahan luasan lahan.

Wajar kalau besaran upah minimum regional (UMR) 2015 di Kabupaten Deliserdang yang hanya Rp2-jutaan per bulan jauh dari menarik bagi pembudidaya tanaman. Di atas lahan 1 m x 1 m, petani bisa membudidayakan atau sekadar menampung lebih dari 1.000 tanaman hias selama 6 bulan. Jenisnya pun bermacam-macam seperti tanaman elemen taman, perdu, bunga gantung, palem, dan pakis.

Sayangnya Rahmanta tak menyebut secara khusus jenis tanaman hias itu. Biaya pengadaan 1.027 bibit tanaman itu mencapai Rp7.390.

Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, sentra tanaman hias setiap meter persegi menghasilkan Rp3,5-juta per bulan untuk petani.
Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, sentra tanaman hias setiap meter persegi menghasilkan Rp3,5-juta per bulan untuk petani.

500 per m2 atau 43,44% dari total biaya produksi yang mencapai Rp17.012.925. Angka itu mencakup biaya sewa lahan, upah tenaga kerja, pupuk, pestisida, dan penyusutan peralatan. Sementara pendapatan per m² per musim tanam mencapai Rp38-juta. Maka pendapatan rata-rata mereka mencapai Rp21-juta per m² per 6 bulan.

Keberadaan pelaku usaha tanaman hias itu keruan memangkas kemiskinan dan pengangguran di Kecamatan Tanjungmorawa. Menurut Rahmanta 60 petani respondennya mampu menyerap 92 tenaga kerja lepas yang bertugas merawat tanaman hingga siap jual. Setiap petani mengeluarkan upah tenaga kerja rata-rata sebesar Rp5.236.500 per m² per bulan. Biaya itu menempati urutan ke-2 paling besar setelah bibit dengan persentase 30,77% dari total biaya produksi.

Arnold Simatupang di kebun krisan tanpa atap.
Arnold Simatupang di kebun krisan tanpa atap.

Anggrek potong
Sentra lain tanaman hias di Provinsi Sumatera Utara adalah Tigadolok, Kabupaten Simalungun. Di sana sebuah nurseri anggrek memasok pasar-pasar bunga potong di Sumatera Utara. Sebagian besar bibit tanaman didatangkan dari Thailand. Menurut Arnold Simatupang, pengawas kultivar dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) IV Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, masyarakat Sumatera Utara menggunakan anggrek sebagai rangkaian bunga dan ornamen meja di hotel.

“Masyarakat juga menjadikan anggrek sebagai elemen rangkaian bunga untuk ucapan dukacita,” ujarnya. Di antara tanaman hias lain, anggrek peringkat pertama dari segi ketersediaan. “Pasokan anggrek potong dari Sumatera Utara tidak pernah kosong,” ujar Arnold.

Berastagi yang selama ini sohor sebagai sentra hortikultura di Kota Melayu Deli—julukan Provinsi Sumatera Utara, tak mau ketinggalan. Kebun krisan terhampar di mana-mana. Uniknya, banyak pekebun tak menggunakan rumah tanam untuk menaungi tanaman anggota famili Asteraceae itu.

Salah satu kebun krisan seluas 5.000 m2 milik Junaidi Ketaren di Kutagadung, Kecamantan Berastagi. Tanaman Chrysanthemum indicum tetap subur meski hidup tanpa atap. Meski demikian kualitas krisan potong yang dihasilkan tidak main-main. Dari total produksi 100.000 tangkai per siklus tanam, Junaidi memperoleh 75.000 tangkai krisan kualitas super. Biaya produksi per tangkai krisan tanpa greenhouse hanya Rp700.

Sumariyoto (bertopi putih) melayani pembeli dari Jawa Barat.
Sumariyoto (bertopi putih) melayani pembeli dari Jawa Barat.

Untuk budidaya 100.000 tangkai krisan, pekebun berusia 38 tahun itu menghabiskan Rp70-juta. Harga setangkai krisan kualitas super di tingkat petani di Berastagi kini Rp1.500, sementara kualitas biasa Rp750. Pendapatan Junaidi tembus Rp61,25-juta per siklus selama 6—7 bulan. (Baca: “Seruni Tanpa Rumah”, Trubus edisi Februari 2015).

Menurut peneliti utama dari Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Cianjur, Jawa Barat, Prof Budi Marwoto, potensi Sumatera Utara sebagai pintu masuk tanaman hias introduksi dari mancanegara layak diperhitungkan. Ia mencontohkan saat terjadi tren anthurium, adenium, dan aglaonema, pasar Sumatera Utara cukup dominan. “Sumatera Utara menjadi pesaing utama Bogor untuk mendapatkan pasar dalam negeri,” ujarnya.

Kini pasar bunga potong terbesar se-Indonesia masih di Pasar Rawabelong, Kebonjeruk, Jakarta Barat. “Persentasenya sekitar 60%,” ujar Prof Budi. Sisanya 40% tersebar di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. “Sumatera Utara masuk 5 besar pasar tanaman hias terbesar di Indonesia,” ujar alumnus Institut Pertanian Bogor itu. (Bondan Setyawan)

 

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img