Penanganan tepat , kreatif, dan inovatif kunci mengatasi hama dan penyakit.

Sri Martini dan kelompok tani di RT 008 RW 03, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, masygul. Pasalnya pada akhir 2015 sebanyak 1.000 tanaman cabai yang tumbuh di polibag gagal panen akibat serangan hama dan penyakit. “Kami gagal menanam cabai. Mungkin karena faktor iklim juga yang kurang mendukung sehingga merangsang tingginya serangan hama dan penyakit,” kata Sri.
Menurut penyelia Kegiatan Pertanian Perkotaan yang diselenggarakan Bank Indonesia bekerja sama dengan Trubus, Dede Darmawan, munculnya serangan hama dan penyakit akibat perawatan yang tidak sesuai dengan standar perawatan yang telah diberikan Trubus dan Bank Indonesia. “Sebetulnya jika perawatan sesuai standar, hama dan penyakit yang menyerang bisa diatasi,” katanya.
Hama penyakit

Menurut pendamping Kegiatan Pertanian Perkotaan Bank Indonesia dan Trubus, Ir Nurjaya MM, jenis hama yang kerap menyerang selama penanaman adalah kutu daun Aphids sp, kutu putih Bemisia sp, dan Thrips sp. “Hama biasanya menyerang saat musim kemarau. Serangan hama kerap terjadi saat kegiatan pertanian perkotaan pada pertengahan 2015 hingga awal 2016,” katanya.
Nurjaya mengatakan, cara tepat untuk mengatasi serangan hama dengan sanitasi lingkungan, perbaikan pola tanam, dan aplikasi insektisida atau akarisida. Adapun penyakit yang biasa menyerang tanaman cabai pada kegiatan pertanian perkotaan adalah Phytophthora sp dan Xanthomonas sp. “Penyakit biasanya muncul pada musim hujan, contohnya pada kegiatan pertanian perkotaan Bank Indonesia DKI Jakarta yang dimulai pada akhir 2015,” kata Nurjaya.

Menurut Nurjaya aplikasi fungisida secara tepat menjadi solusi menanggulangi penyakit yang menyerang selama musim hujan. Nurjaya mengatakan petani perkotaan mampu menanggulangan hama dan penyakit meski tidak mengeluarkan biaya besar. Berbagai langkah antisipasi serangan hama dan penyakit dapat diterapkan petani dengan cara sederhana.
Contohnya seperti yang dilakukan Sere Rohana Napitupulu di RW 02, Kelurahan Malakasari, Kecamatan Durensawit, Jakarta Timur. Perempuan yang terpilih sebagai duta urban farming Bank Indonesia itu membuat perangkap kuning atau yellow trap dari botol air mineral bekas. “Di tempat kami kami juga ada bank sampah, jadi tersedia pula barang bekas yang bisa dimanfaatkan,” kata Sere Rohana.

Menurut Sere pembuatan perangkap kuning dari botol bekas cukup mudah. Ia mewarnai botol dengan cat berwarna kuning. Menurut Nurjaya serangga menyukai warna kuning sehingga mereka tertarik untuk hinggap. Setelah cat kering, Sere melumuri seluruh permukaan botol dengan lem tikus hingga merata sebagai perangkap. Kini jebakan kuning itu pun bisa langsung digunakan.
Tepat budidaya
Kelompok tani Kebonjeruk Maju di RT 005/RW 013 Kelurahan Kebonjeruk, Kecamatan Kebonjeruk, Jakarta Barat, juga memanfaatkan barang bekas untuk membuat perangkap hama. “Kami membuat perangkap hama dari stoples dan corong bekas,” kata ketua RT setempat, Muhidin. Di bagian dalam stoples Muhidin memasang perangkap hama berupa metil eugenol. “Senyawa itu mengeluarkan aroma yang disukai serangga sehingga mereka tertarik untuk masuk ke dalam stoples melalui corong bekas,” katanya.

Untuk mencegah serangan hama dan penyakit, kelompok tani di RT 001/ RW 04, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, mengatur jarak antarpolibag 30 cm x 40 cm di lahan seluas 3.500 m². Menurut ketua RW setempat, Amirudin, jarak antarpolibag yang renggang juga bisa mengoptimalkan pertumbuhan tanaman cabai karena dapat tumbuh lebih leluasa.
“Tanaman cabai berumur 7—8 bulan pun masih bisa menghasilkan dan tak ada serangan hama dan penyakit yang berarti,” kata Amirudin. Sementara Kelompok Tani Cempaka di RT 24 RW 01, Kelurahan Sunteragung, Kecamatan Tanjungpriok, Jakarta Utara, mencegah serangan hama dan penyakit dengan meletakkan jenis sayuran lain di sela tanaman cabai. Menurut ketua RT setempat, Suparjiono, tanaman yang tidak seragam dapat mencegah hama datang.
Mereka meletakkan tanaman sayuran dalam polibag di permukaan rak bambu atau vertikultur. “Metode ini cocok diterapkan di lahan perkotaan yang sempit,” kata Suparjiono. Menurut anggota Kelompok Tani Cempaka, Baduriah, jika ada tanaman yang terkena serangan penyakit, segera pisahkan tanaman yang sakit ke tempat karantina yang jaraknya relatif jauh dengan lokasi tanaman sehat.
“Setelah itu tanaman yang sakit diobati. Setelah kondisinya relatif membaik, baru dikembalikan ke tempat semula,” kata Baduriah. Dengan perlakuan itu, serangan hama dan penyakit relatif teratasi. Beragam strategi itu relatif murah biayanya sehingga tak menguras isi dompet. Yang lebih penting, para petani di perkotaan itu dapat memetik cabai nirpestisida. (Muhamad Fajar Ramadhan)
