Monday, January 26, 2026

Beragam Mitos Ikan Lele yang Berkembang di Masyarakat

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Lele memang sarat mitos. Berbagai kepercayaan tumbuh subur di masyarakat. Oleh karena itu, muncullah tradisi penolakan dan anjuran mengonsumsi lele. Keduanya bagai kutub yang sulit disatukan. Namun, yang jelas, sebagian mitos justru melindungi lele lokal dari kepunahan.

“Kharisma” lele memang berbeda dengan ikan konsumsi lain. Bagi sebagian orang, ikan berkepala gepeng itu begitu disegani. Masyarakat sekitar Situ Sanghiang, Majalengka, sampai-sampai tak berani mengonsumsi daging lele.

Mereka percaya ikan berkumis 4 pasang itu jelmaan para pengawal keraton. Konon di danau alam itu berdiri sebuah kerajaan, Telaga Manggung. Di beberapa daerah juga terdapat penolakan untuk menikmati ikan tanpa sisik itu.

Tentu saja dengan dalih berbeda. Jangankan menyantapnya, mengail atau membawa pulang dari empang saja takut. Itulah yang terjadi di Telaga Renjeng, Kabupaten Brebes. Di lokasi pariwisata itu lele lokal sangat jinak.

Begitu pakan sekadarnya ditebar, ratusan ekor lele berebut. Walau demikian, pengunjung telaga tak berani menyerok ikan nokturnal—aktif malam hari—itu. Kepercayaan yang hidup di masyarakat, jika nekat menyantap, bisa-bisa sakit bahkan meninggal dunia.

Sepanjang mitos itu dipatuhi, konservasi lele memang terjaga. Pantas ukuran tubuhnya pun relatif besar, 40–50 cm.

Selamatkan pahlawan

Alasan penolakan lain, lantaran lele telah menyelamatkan pejuang Indonesia. Suatu ketika sang pejuang terengah-engah karena berlari dikejar Belanda. Di antara letih yang mendera ia mencebur ke kolam di Takeran, Madiun. Harapannya, ia selamat dari kepungan serdadu Belanda. Harapan yang tak sia-sia.

Tak dinyana, ribuan lele dengan sigap menutupi orang itu hingga tak tampak lagi. Belanda kehilangan jejak. Mereka terperangah melihat kecepatan pejuang Indonesia menghilang. Kolam itu kemudian ditinggalkan Belanda dengan kecewa.

Setelah peristiswa tersebut, sang pejuang berpetuah agar anak-cucunya berpantang menyantap lele (lokal) Clarias batrachus. Jika pada 1980-an muncul Clarias gariepinus alias lele dumbo, kepercayaan itu pun masih berlaku. Mungkin lantaran mereka masih bersaudara, sama-sama anggota keluarga Clariidae. Kepercayaan seperti itu terpelihara sampai hari ini. Cerita serupa juga berkembang di Lamongan dan Malang.

Anehnya, ada sebagian masyarakat yang justru menganjurkan untuk makan daging lele. Bagi orang Jawa misalnya, makan lele setelah usia kehamilan 7 bulan dapat memperlancar proses kelahiran. Tubuh lele licin, jika disantap perempuan hamil, janin juga “licin” sehingga mudah keluar dari rahim.

Lele dinilai mampu menguatkan janin. Diharapkan, penikmatnya pun mendapat berkah. Setidaknya, “berkah” gizi lele yang kaya protein. Yang itu memang bukan lagi mitos.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img