Thursday, January 29, 2026

Berjaya di Bisnis Pepaya

Rekomendasi
- Advertisement -
Imam Ma’arif mengembangkan pepaya sejak 2012. (dok. Imam Ma’arif/Negeri Hijau Indonesia)

Pemasaran digital dan menyasar konsumen akhir salah satu strategi bisnis pepaya beradaptasi pada masa pandemi.

Produksi kebun seluas 10 hektare milik Imam Ma’arif dan 15 petani mitra 5—6 ton pepaya per pekan saat musim buah. Total populasi 15.200 tanaman produktif. Pekebun pepaya di Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, itu memasarkan 3—4 ton produksinya secara retail saat pandemi korona sejak Maret 2020. Imam mengandalkan kurir mitra di kota tujuan untuk mengirimkan pepaya pesanan langsung ke rumah pelanggan.Sisanya dikirim ke toko

Imam pun mengandalkan iklan di media sosial ternama agar banyak orang dan banyak konsumen mengenal perusahaannya, CV Negeri Hijau Indonesia. Tujuan akhir makin banyak konsumen yang membeli pepaya. Program Pelanggan Prioritas besutan Negeri Hijau Indonesia hadir untuk menggaet konsumen baru terutama di Tuban, Lamongan, Gresik, dan Bojonegoro, semua di Jawa Timur.

Pengusaha hortikultura itu membebaskan ongkos kirim, pengiriman 2 kali sepekan, dan ketersediaan diutamakan merupakan keuntungan bergabung menjadi pelanggan. Strategi itu jitu, produksi pepaya terserap pasar. Harga jual retail Rp9.000 per kg sehingga omzetnya minimal Rp27 juta per pekan. Setelah dikurangi ongkos produksi, Imam mendapatkan laba bersih minimal Rp6 juta per pekan setara Rp24 juta per bulan dari penjualan retail.

Pepaya produksi Negeri Hijau Indonesia bermutu prima lantaran dibudidayakan dengan baik dan benar.
(dok. Imam Ma’arif/Negeri Hijau Indonesia)

Keuntungan ganda

“Saya mendapatkan 2 keuntungan setelah fokus retail dan pepaya terserap pasar. Pertama saya memiliki data konsumen pepaya. Kedua margin lebih tinggi daripada penjualan ke toko buah,” kata pekebun pepaya sejak 2012 itu. Dengan kata lain komposisi penjualan pepaya merek Sweet Callina produk Negeri Hijau Indonesia lebih banyak retail. Strategi itu tepat sehingga Imam mampu bertahan di saat pandemi korona.

Selain pemasaran digital yang tepat, sukses memproduksi pepaya yang berkualitas pun menjadi keuntungan bagi Imam. Ia hanya menggunakan benih berkualitas dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT), Institut Pertanian Bogor (IPB).

Imam pun meracik insektisida sendiri untuk pengendalaian hama dan penyakit tanaman (HPT). Hasil pemakaian di lahan menunjukkan produk itu mampu mengatasi HPT karena tepat dosis dan sasaran. Pekebun berusia 32 tahun itu membangun Negeri Hijau Indonesia sejak 2014. Tujuannya menyejahterakan pekebun yang sering tidak mendapatkan keuntungan ketika bertani. Intinya ada unsur pemberdayaan pada sistem kemitraan yang ia bangun.

Titik balik

Menurut Imam prospek pepaya tetap bagus di masa mendatang karena termasuk buah berharga terjangkau dan menyehatkan. Namun, tak mudah meraih laba saat pandemi. Pada awal panemi korona Imam Ma’arif masygul karena distributor dan toko buah langganan, terutama toko buah di Jakarta tutup. Distributor dan toko buah ujung tombak penjualan pepaya milik Imam.

Terdapat lebih dari 10 hektare kebun pepaya yang dibina oleh Negeri Hijau Indonesia.
(dok. Imam Ma’arif/Negeri Hijau Indonesia)

Penjualan pepaya pun anjlok selama masa awal pandemi korona. Toko buah yang memiliki lebih dari 1 cabang pun menutup sebagian toko cabangnya. Tentu saja kondisi itu tidak menguntungkan bagi Imam. Oleh sebab itulah, ia menjual sekitar 10 ton pepaya produksinya ke Pasar Induk Lamongan. Jumlah itu dari 4—5 kali pengiriman. Cara itu pun tidak membantu. Imam merugi sekitar Rp7 juta karena harga jual di pasar induk Rp2.300 per kg. Sementara ia membeli pepaya dari petani seharga Rp2.500 per kg.

Kerugian itu belum termasuk biaya transportasi dan upah karyawan. Ditambah lagi ada konsumen yang belum membayar pembelian 4 ton pepaya. Imam menolak takluk sehingga menjual pepaya langsung kepada konsumen akhir agar hasil panen laku. Ia mempelajari pemasaran digital dari berbagai lembaga secara daring hingga menghabiskan Rp5 juta. Upaya penjualan langsung dan penjualan lewat media digital itu menyelamatkan bisnis Imam. (Riefza Vebriansyah)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Rahasia Kecepatan Tumbuh Lele: Genetik, Pakan, dan Kepadatan Tebar

Kecepatan pertumbuhan lele sangat dipengaruhi faktor genetik dan pemilihan strain. Penelitian lapangan dan uji laboratorium menunjukkan bahwa varietas komersial...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img