Produksi cabai bisa terdongkrak signifikan berkat peran makhluk liliput. Itulah yang dialami pekebun di Desa Pleret, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo, DIY, Gito. Pada panen keempat cabai keriting, hasilnya mencapai sekitar 224 gram per tanaman. Angka itu jauh melebihi rata-rata panen petani pada periode sama yang hanya sekitar 153 gram per tanaman. Artinya, ada lonjakan produksi hingga 46,4%.
Menurut Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr., peningkatan itu berasal dari pemanfaatan kombinasi mikronutrien dan bakteri Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). “Dengan teknologi itu tanaman terlihat seolah-olah tidak menua, terus berbunga dan berbuah,” tutur Suryo. Tanaman tampak lebih hijau, segar, dan umur produktifnya memanjang.
Mikronutrien yang digunakan mengandung seng (Zn), boron (Bo), dan mangan (Mn), dipadukan dengan bakteri PGPR yang menghasilkan enzim penting seperti IAA dan ACC deaminase. “Keseimbangan antara kedua enzim itu memengaruhi pembungaan,” kata Suryo. Hasil uji lapang menunjukkan produksi cabai meningkat lebih dari 40%.
Tak berhenti di situ, tim IPB juga mengembangkan teknologi mikrob intensif untuk menekan hama dan penyakit. Dengan enam jenis mikrob, penggunaan pestisida bisa ditekan bahkan ditinggalkan. “Dengan keampuhan itu, produktivitas meningkat 27% dan biaya produksi menurun 15%,” ujar Suryo. Ingin tahu lebih lengkap rahasia teknologi ini dan peluangnya bagi petani cabai? Baca selengkapnya di sini: https://majalah.trubus.id/emagazine/rahasia-bugar-saat-puasa/
