Tuesday, January 27, 2026

Bersaing Ketat Rebut Kampiun

Rekomendasi
- Advertisement -

Sebanyak 549 bonsai dan 471 anthurium bersaing untuk menjadi yang terelok.

Bonsai milik Tedi Priatna menjuarai kelas bintang di kontes bonsai di Bandung, Jawa Barat.
Bonsai milik Tedi Priatna menjuarai kelas bintang di kontes bonsai di Bandung, Jawa Barat.

Bonsai cemara Juniperus chinensis sargentii setinggi satu meter itu sangat menarik. Percabangan meliuk-liuk indah. Daun sangat rimbun, berwarna hijau dengan bentuk ranting yang mengayun ke kiri. Keindahannya kian bertambah lantaran hiasan jin di batangnya. Bonsai cemara koleksi Tedi Priatna itu meraih predikat baik sekali dalam “perang” di kategori bintang pada kontes bonsai di Bandung, Jawa Barat, pada 23 Juli 2016.

Bugenvil berdaun kecil milik Soeroso Soemopawiro dari Jakarta menjadi best in show di kelas utama.
Bugenvil berdaun kecil milik Soeroso Soemopawiro dari Jakarta menjadi best in show di kelas utama.

“Umur pohon lebih 25 tahun dan saya bentuk semiformal dengan ayunan batang ke arah kiri,” ujar Tedi. Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Bandung itu mengikutsertakan 30 koleksi bonsai di berbagai kelas. Menurut ketua panitia lomba, Maya Rusmayadi, kontes terdiri atas lima kelas, yaitu regional, madya, utama, bintang, dan prospek. Setiap kelas mencakup berbagai ukuran tanaman, yaitu kecil, sedang, besar, dan sangat besar.

Rekor terbanyak

Bonsai milik Henky Wahyu dari Jakarta menjadi best in show di kelas regional.
Bonsai milik Henky Wahyu dari Jakarta menjadi best in show di kelas regional.

Dalam kontes yang diselenggarakan oleh PPBI cabang Bandung itu, dua cemara udang menyabet best in show yaitu di kelas madya dan regional. Bonsai milik Freddy Susanto, pehobi asal Jakarta menjadi juara di kelas madya. Sementara koleksi Henky Wahyu, pehobi bonsai dari Jakarta terbaik di kelas regional. Adapun bonsai bugenvil berdaun kecil menjadi best in show di kelas utama.

Juara kelas kobra koleksi Ardi Suratno.
Juara kelas kobra koleksi Ardi Suratno.

Bonsai milik Soeroso Soemopawiro tetap cantik walau tanpa daun dan bunga. Pehobi dari Jakarta itu sengaja menampilkan bonsai setinggi 101—105 cm itu dengan sedikit daun di bagian ujung cabang. Ketiga best in show itu berasal dari Jakarta, tetapi menurut Maya, “Peserta tidak hanya dari pulau Jawa tetapi juga dari Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera.” Total ada 49 cabang PPBI yang ikut serta dalam kontes itu.

Juara kelas campuran koleksi Tardi.
Juara kelas campuran koleksi Tardi.

“Jumlah peserta kontes bonsai itu menjadi rekor terbanyak karena diikuti oleh 519 peserta,” kata Maya. Kemeriahan acara per dua tahunan itu tidak hanya terlihat dari jumlah peserta kontes yang membeludak, tetapi juga antusias pedagang bonsai dari beberapa daerah di luar Bandung yang ikut meramaikan bursa bonsai. Selain bonsai, kontes anthurium di Balai Desa Karang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah juga meriah.

Juara kelas variegata senior milik Dedy Kencana.
Juara kelas variegata senior milik Dedy Kencana.

Puluhan pehobi anthurium tampak hadir meramaikan acara pada 31 Juli 2016. Mereka membawa koleksi terbaiknya untuk meraih predikat anthurium terbaik. Panitia Komunitas Anthurium Solo Raya mencatat ada 471 tanaman yang beradu cantik pada kontes yang terbagi menjadi 7 kelas itu—kobra, campuran, variegata junior, variegata senior, pemula, prospek, dan madya.

Saingan ketat

Para pemilik tanaman anthurium yang meraih kampiun.
Para pemilik tanaman anthurium yang meraih kampiun.

Menurut ketua panitia, Agus Sartoto, semangat pehobi untuk mengikuti kontes ternyata sangat tinggi. “Kami hanya menargetkan sekitar 200 pot saja,” ujarnya. Peserta datang berasal dari Surakarta, Yogyakarta, Sragen, Semarang, Salatiga, Jakarta, Magetan, Bandung, Bogor, dan Madiun. Agus menuturkan kontes sekaligus halal-bihalal itu sejatinya memang bertujuan untuk menjaga semangat para pehobi anthurium untuk mencetak tanaman-tanaman terbaik.

Kualitas tanaman sangat bagus sehingga terjadi persaingan ketat.
Kualitas tanaman sangat bagus sehingga terjadi persaingan ketat.

“Saya sangat mengapresiasi para pehobi yang mengikutsertakan tanaman terbaiknya, meskipun bukan kontes berskala nasional,” ujarnya. Menurut anggota tim juri, Mardi, nyaris seluruh peserta kontes berkualitas di atas rata-rata. Aspek penilaian meliputi kesehatan, penampilan, karakter, dan warna (khusus untuk variegata). “Anthurium yang terjun di kelas variegata paling ketat persaingan nilainya,” ujar Mardi.

Juara kelas pemula milik Jarot.
Juara kelas pemula milik Jarot.

Di kelas variegata senior, jenmani belang milik Dedi Kencana tampil sebagai juara pertama. Anthurium dalam balutan pot keramik cokelat itu berpenampilan amat menarik. Lihat saja, letak daunnya rapi dengan susunan daun semakin ke atas semakin besar. Tanaman pun tampak sehat tanpa cacat. Jenmanii belang milik Dedi itu bersaing ketat dengan jenmanii belang milik Jarot (Bandung).

Juara kelas prospek Eko Irianto.
Juara kelas prospek Eko Irianto.

Namun, koleksi Jarot harus rela menempati juara kedua lantaran ada sedikit cacat. “Dari segi corak warna, jenmanii milik Jarot memang lebih cantik, tetapi ada daun yang sakit sehingga mengurangi nilai,” ujar Mardi. Pehobi anthurium dari Surakarta, Muhammad Eko Irianto, menyatakan kekagumannya terhadap acara yang berlangsung sejak pagi hingga petang hari itu. “Ini acara terbaik yang pernah saya ikuti sepanjang 2016,” ujarnya.

Pemenang kelas madya koleksi Eddy Pranoto.
Pemenang kelas madya koleksi Eddy Pranoto.

Eko bahkan membawa 24 tanaman untuk mengikuti kontes. Ia semringah ketika dua jenmanii mangkuk koleksinya berhasil meraih predikat pertama dan kedua di kelas prospek. Ketekunan merawat tanaman dengan sepenuh hati pun terbayar. (Syah Angkasa/Peliput: Ian Purnama Sari & Andari Titisari).

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img