Trubus.id— Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memiliki koleksi mikroba sejumlah lebih dari 30,000 isolate. Koleksi mikroba ini sangat potensial untuk diidentifikasi kegunaannya.
Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, BRIN, Ahmad Fathoni mengatakan berbagai jenis mikroba unggul (wild tyfe) sudah dikoleksi sebagai bahan penghasil senyawa metabolit juga kandidat enzim. Namun masih terdapat celah untuk produktivitas mikroba dalam skala industri.
Itu disampaikan Fathoni saat membuka webinar bertema Microbial Metabolic Engineering for Biochemical Production. Lebih lanjut, Fathoni berharap dengan penguasaan teknologi yang tepat dan database genom mikroba (WGS), riset rekayasa mikroba di Indonesia dapat diakselerasi.
“Oleh karena itu diperlukan teknologi yang tepat untuk meningkatkan karakter strain mikroba unggul sehingga sesuai dengan kebutuhan industri yaitu melalui teknologi metabolic engineering mikroba target,” jelasnya, dikutip dari laman Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Sementara itu, Associate Profesor dari School of Biotechnology Suranaree University of Technology (SUT), Thailand, Kaemwich Jantama mengatakan mikroba memiliki kemampuan dalam menghasilkan senyawa kimiawi dari berbagai bahan. Untuk itulah rekayasa mikroba akan sangat berguna dalam mengoptimalkan proses biosintesis senyawa tertentu di dalam sel.
“Mikroba memiliki kemampuan untuk mengendalikan ekspresi gen yang diinginkan dan inaktivasi gen yang tidak diharapkan. Salah satu contoh rekayasa metabolik dari Klebsiella oxytoca dapat menghasilkan 2,3 Butanediol lebih tinggi dari wild type dalam media garam,” paparnya.
Pada kesempatan yang sama Fathoni berharap kedepannya BRIN dapat melakukan transfer of knowledge ataupun kolaborasi riset dengan Suranaree University of Technology (SUT) Thailand dengan mengundang para ahli, mengirim staf periset untuk studi doktoral atau bahkan mengikuti short training dengan skema peningkatan kompetensi yang ada di BRIN.
