Trubus.id—Pembudidaya cacing sutra di Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Provins Daerah Istimewa Yoyakarta (DIY), Sumarjoko mengembangkan organisme akuatik itu di wadah budidaya berupa rak-rak vertical mirip apartemen. Maka dikenal istilah budidaya cacing sutra sistem apartemen.
Setiap rak baja ringan tersusun dari lima wadah budidaya berukuran 2 m x 1 m x 0,2 Apartemen untuk Cacing Sutra Budidaya cacing sutra sistem apartemen hemat tempat dan air yang berlapis plastik ultraviolet.
Ada 12 rak di tempat Joko. Total jenderal ia memiliki 60 wadah budidaya. Wadah teratas merupakan bak filter yang dilengkapi pasokan air dengan sistem resirkulasi tertutup yang mengalir ke setiap bak di bawahnya. Itulah budidaya cacing sutra sistem apartemen karena bak budidaya tersusun vertikal.
Joko membudidayakan cacing sutra sistem apartemen sejak Agustus 2020. Pada sistem itu pompa bekerja 24 jam dengan debit 1—3 liter setiap hari. Media pemeliharaan cacing sutra berupa campuran 80% lumpur, 20% bahan organik, 1% molase, dan 1% bakteri fermentor. Setiap rak berisi 200 kg media pemeliharaan.
“Ketebalan media 13— 14 cm, sedangkan ketinggian air 2 cm. Media didiamkan di rak sepekan,” kata Joko. Kemudian ia menebar 1 l benih cacing sutra di setiap bak budidaya.
Total jenderal ia memerlukan 60 l cacing sutra untuk mengisi semua rak. Cacing memerlukan pakan agar dapat hidup dan berkembang biak. Oleh karena itu, Joko memberi pakan sekali sehari.
Bahan baku pakan meliputi 30% ampas tahu, 30% bekatul, 15% limbah sayuran, 15% pupuk organik, 5% molase, dan 5% bakteri fermentor. Joko menyarankan untuk membuat pakan lebih dahulu sebelum media pemeliharaan.
Dengan begitu, pakan siap digunakan setelah media terfermentasi sempurna. Takaran pakan 1 ons per bak atau 5 ons setiap rak pada bulan pertama pascapenebaran benih. Bulan berikutnya penambahan media sekitar 0,5 ons.
Sebelum memasukkan ke bak budidaya, ia mengencerkan pakan dengan air secukupnya sehingga lebih mudah tersebar. Semula Joko memberikan 4 ons pakan per bak. Ternyata jumlah itu terlampau banyak sehingga air berlendir dan pH turun.
Joko mengecek parameter air seperti pH secara berkala. “Sesuai prosedur operasional standar pH 6—8, suhu air minimal 24ºC—30ºC, dan dissolved oxygen (DO) 2—7,” kata pria yang juga pembenih lele itu.
Agar semua parameter itu terpenuhi, Joko mengalirkan air baru dengan aliran kecil setiap hari. Kurang dari 50 liter air baru yang masuk sistem apartemen saban hari. Ia juga mengaduk media 2 kali sepekan agar tidak muncul gas. Tiga bulan setelah penebaran bibit, Joko memanen perdana cacing sutra.
Panen dapat dilakukan pada pagi dan sore. Saat itu cacing sutra muncul ke permukaan. Joko memakai seser untuk menangkap pakan alami ikan itu. Ia mendapatkan 2,5—3 liter cacing sutra dari 2 rak setiap hari. Selanjutnya panen dilakukan setiap hari. Saat ini Joko menggunakan cacing sutra hasil panen itu untuk keperluan sendiri.
