Wednesday, January 28, 2026

Cabai Keriting Neno TAVI: Harapan Baru Petani Hadapi Serangan Virus

Rekomendasi
- Advertisement -

Budidaya cabai di Indonesia menghadapi tantangan serius akibat penyakit keriting kuning. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari kelompok begomovirus yang menyerang melalui serangga kutu kebul.

Serangan virus ini tidak membuat tanaman mati, namun menghambat pertumbuhan dan menurunkan produktivitas secara drastis. Tanaman tetap hidup, tetapi tidak menghasilkan buah yang layak panen.

“Tanamannya tidak mati, tapi tidak menghasilkan,” ujar Prof. Dr. Muhamad Syukur, Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB University. “Petani tetap harus mengeluarkan biaya untuk perawatan, tapi hasil panennya nol.”

Karena tidak ada obat untuk menyembuhkan tanaman yang sudah terinfeksi, pengendaliannya sangat sulit. Langkah mencabut tanaman kerap menjadi satu-satunya cara, namun menambah kerugian.

“Oleh karena itu, solusi yang lebih efektif adalah merakit varietas cabai yang tahan terhadap virus,” jelas Prof. Syukur pada IPB TV. “Dengan begitu, petani tetap bisa berproduksi meskipun lingkungan berisiko tinggi terhadap virus.”

Meskipun tidak berkaitan langsung dengan preferensi konsumen, varietas tahan virus sangat penting bagi keberlangsungan usaha tani. Petani sangat membutuhkan varietas yang kuat terhadap serangan penyakit.

Menjawab kebutuhan ini, Prof. Syukur dan tim IPB University mengembangkan varietas cabai keriting yang tahan virus. Varietas tersebut diberi nama Cabai Keriting Neno TAVI.

“Sampai saat ini, belum banyak varietas cabai yang benar-benar tahan terhadap virus,” ujarnya. “Satu dua varietas yang ada pun belum tentu benar-benar kuat dan stabil dalam ketahanannya.”

Pengembangan varietas tahan virus dilakukan dengan maksimal. Fokus awal diarahkan pada cabai keriting karena jenis ini banyak digunakan di berbagai daerah di Indonesia.

Cabai keriting dominan dikonsumsi di Sumatera dan mulai banyak digunakan di Pulau Jawa. Setelah cabai rawit merah, cabai keriting menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia.

Terkait kualitas rasa, Prof. Syukur memastikan tidak ada yang dikorbankan. “Rasa pedasnya tetap tinggi, ukurannya optimal, dan sesuai dengan preferensi konsumen,” ujarnya.

Selain itu, daya hasilnya pun baik karena tahan virus. Hal ini menjadikan varietas ini unggul baik dari sisi teknis budidaya maupun selera pasar.

“Kita memang ingin membantu petani meningkatkan produktivitas, tapi juga menjaga kualitas yang diharapkan konsumen,” tambahnya. “Peningkatan produksi otomatis akan menaikkan pendapatan petani.”

Lebih jauh, hadirnya Neno TAVI juga mendukung upaya pemerintah mengendalikan inflasi. “Saat paceklik atau pasokan cabai berkurang, varietas tahan virus bisa jadi solusi menjaga kestabilan harga,” katanya.

Diseminasi benih Neno TAVI untuk uji coba di lapangan sudah mulai dilakukan. Beberapa petani bahkan sudah memesan untuk mencoba menanam varietas ini.

Namun untuk skala komersial yang lebih luas, proses pelepasan varietas secara resmi masih harus dijalani. Pendaftaran varietas dan perizinan menjadi langkah penting sebelum benih diedarkan secara massal.

Dengan hadirnya Cabai Keriting Neno TAVI, petani memiliki peluang baru untuk keluar dari kerugian akibat serangan virus. Varietas ini menjadi harapan baru untuk menciptakan ketahanan, produktivitas, dan kesejahteraan petani cabai di Indonesia.

Foto: Dok. Tangkapan layar IPB TV

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img