Tuesday, January 27, 2026

Grafting Tomat, Inovasi BRIN Hadapi Tantangan Iklim Ekstrem

Rekomendasi
- Advertisement -

Perubahan iklim yang kian tidak menentu menjadi ujian besar bagi petani hortikultura, terutama bagi komoditas tomat yang rentan terhadap cuaca ekstrem. Menjawab persoalan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan terobosan bioteknologi berupa teknik grafting tomat dengan batang bawah terung. Inovasi ini dirancang untuk menjaga stabilitas produksi sekaligus memperkuat daya tahan tanaman terhadap tekanan lingkungan ekstrem.

Teknologi tersebut diperkenalkan oleh Evy Latifah, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, dalam webinar HortiActive #21 bertema “Inovasi Teknologi Grafting Tomat dengan Menggunakan Batang Bawah Terung untuk Pengelolaan Cekaman Abiotik dalam Upaya Peningkatan Produksi dan Pendapatan Petani”, yang digelar secara daring pada Jumat (10/10).

Menurut Evy, grafting atau penyambungan tanaman menjadi solusi biologis yang efektif untuk mengatasi penurunan produktivitas akibat faktor biotik maupun abiotik, seperti penyakit layu bakteri, banjir, kekeringan, suhu tinggi, serta salinitas tanah.

“Ketika risiko produksi meningkat pada musim hujan atau saat off season, penggunaan teknik grafting menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi tomat,” ujarnya dilansir pada laman BRIN.

Tomat: Komoditas Penting yang Rentan

Tomat merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi dengan permintaan pasar yang stabil sepanjang tahun. Namun, menurut Evy, produksi tomat sangat bergantung pada kondisi cuaca dan musim tanam. Ketika hujan tinggi, serangan layu bakteri dan banjir sering kali menyebabkan gagal panen.

“Penurunan hasil produksi biasanya terjadi pada musim hujan di dataran rendah. Ini menunjukkan perlunya intervensi teknologi adaptif,” jelasnya.

Melalui teknologi grafting, batang atas (scion) tomat unggul disambungkan dengan batang bawah (rootstock) dari tanaman terung yang memiliki ketahanan alami terhadap kondisi ekstrem. Kombinasi ini menghasilkan tanaman baru dengan produktivitas tinggi sekaligus daya tahan yang lebih kuat.

“Teknologi ini bukan sekadar metode budidaya, tetapi strategi untuk memperkuat sistem perakaran tomat dan menstabilkan hasil di tengah fluktuasi iklim,” tambah Evy.

Beberapa varietas terung yang efektif digunakan sebagai batang bawah antara lain TS 03, EG 195, EG 219, dan EG 203, sementara varietas lokal seperti terung gelatik (Solanum melongena) dan takokak (Solanum torvum) juga bisa dimanfaatkan. Adapun varietas tomat yang direkomendasikan meliputi Hawaii 7996, Gustavi F1, dan Servo F1.

Dengan riset ini, BRIN berharap teknologi grafting dapat diadopsi secara luas untuk memperkuat daya saing petani sekaligus mewujudkan pertanian adaptif dan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img