Thursday, February 12, 2026

Hari Kacang-kacangan Sedunia 2026: Kacang Hijau Dinilai Potensial Cegah Stunting Anak

Rekomendasi
- Advertisement -

Peringatan Hari Kacang-kacangan Sedunia (World Pulses Day) pada 10 Februari 2026 menjadi momentum penting untuk kembali menyoroti potensi kacang hijau sebagai pangan lokal bergizi dalam upaya pencegahan tengkes (stunting) pada anak.

Kacang hijau dinilai relevan karena mudah diperoleh, harganya terjangkau, serta memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Di tengah upaya menekan angka stunting, pangan lokal seperti kacang hijau bisa menjadi pilihan realistis bagi banyak keluarga di Indonesia.

Pakar Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan, menyebut kacang hijau sebagai salah satu sumber protein nabati yang penting. Kandungan proteinnya relatif tinggi dan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil.

“Kalau kita bicara tentang kacang hijau sebagai leguminosa (kacang-kacangan), itu adalah tanaman yang memang kaya protein. Kandungan proteinnya bisa berkisar 20%—35%, sehingga relatif tinggi,” ujar Ali.

Selain kaya protein, harga kacang hijau juga tergolong murah sehingga lebih mudah dijangkau oleh keluarga di berbagai lapisan masyarakat. Faktor ini membuat kacang hijau memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan secara luas dalam program perbaikan gizi.

Menurut Ali pemanfaatan kacang hijau sebagai makanan tambahan di posyandu dapat berkontribusi meningkatkan asupan protein anak. Terutama bagi mereka yang mengalami stunting, gizi kurang, atau gizi buruk. Namun, ia menegaskan bahwa pemberian makanan tambahan tidak bisa dilakukan secara sporadis atau sesekali saja.

“Kalau di posyandu pemberiannya hanya satu bulan sekali, itu pasti tidak cukup. Anak-anak yang mengalami stunting atau masalah gizi harus diutamakan pendekatan pangan, diberikan makanan setiap hari, ada yang selama tiga bulan, ada yang sampai enam bulan,” tutur dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi, IPB University, itu.

Ia menambahkan, kacang hijau relatif mudah diolah menjadi berbagai produk pangan yang disukai anak-anak seperti bubur, camilan, atau olahan lainnya. Kondisi ini menjadikan kacang hijau berpotensi sebagai pangan lokal andalan dalam mendukung perbaikan gizi anak Indonesia.

Meski demikian, Ali mengingatkan bahwa protein nabati memiliki daya cerna dan daya serap yang lebih rendah dibandingkan dengan protein hewani. Oleh karena itu, kacang hijau tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi dalam penanggulangan stunting.

“Protein nabati daya cernanya tidak setinggi pangan hewani sehingga harus dikombinasikan dengan pangan hewani seperti susu, telur, atau sumber hewani lainnya. Namun   pangan lokal kacang hijau ini tetap perlu dioptimalkan,” kata Ali.

Ia merekomendasikan agar pemanfaatan kacang hijau diintegrasikan secara berkelanjutan dalam program pemberian makanan tambahan di posyandu sekaligus dibarengi dengan edukasi gizi kepada masyarakat.

Menurut Ali program tersebut harus dijalankan secara rutin dan dalam jangka waktu yang cukup panjang agar memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi dan pencegahan stunting pada anak.

Artikel Terbaru

Ancaman Cacing Ascaridia pada Ayam dan Peluang Obat Herbal Indonesia

Infeksi kecacingan Ascaridiosis masih menjadi persoalan serius di industri perunggasan. Selain mengganggu kesehatan ayam, serangan cacing ini juga berujung...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img